Saudi Bereaksi Keras, Didukung Iran Pemberontak Houthi Bantai 116 Tentara Yaman

Dunia

Selasa, 21 Januari 2020 | 14:00 WIB

200121135307-saudi.jpg

dailymail

Pemberontak Houthi yang didukung Iran membantai 116 tentara Yaman dalam serangan rudal di sebuah masjid di barak pada akhir pekan ini. Demikian diungkap laporan DailyMail kemarin.

Dalam salah satu serangan paling berdarah sejak awal perang saudara kali ini, rudal-rudal balistik meruntuhkan bangunan masjid di kamp pelatihan militer di provinsi Marib.

Para pejabat militer Yaman yang didukung Saudi Senin kemarin mengumumkan  jumlah korban tewas bertambah menjadi 116 dengan lebih dari 60 orang lainnya terluka.

Hantaman rudal meninggalkan lubang menganga di area masjid.

Seorang tentara memperlihatkan robekan Quran yang bernoda darah.

Di hari yang sama ledakan keras juga dilaporkan terjadi di kota Najran perbatasan Saudi, setelah rudal Houthi lainnya berhasil dihalau pertahanan udara Saudi.

Kelompok pemberontak yang didukung Iran baru-baru ini melakukan serentetan serangan terhadap pasukan yang didukung Saudi di timur benteng pertahanan Houthi yang berada di Sanaa, kota terbesar di Yaman.

Kementerian luar negeri Arab Saudi mengatakan serangan akhir pekan tersebut  merupakan kejahatan keji dan aksi yang sengaja merusak langkah menuju solusi politik dalam konflik Yaman.

Puluhan warga terluka.

Jumlah korban tewas masih bertambah.

Serangan juga dianggap sebagai aksi pengabaian milisi untuk tidak menyasar tempat-tempat suci. Uni Emirat Arab juga mengutuk serangan yang sama sekaligus menolak semua bentuk kekerasan yang menargetkan instabilitas.

Sumber militer dan medis kepada AFP pada hari Senin mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi memulai negosiasi dengan Houthi di negara tetangga Oman.

Negosiasi dilakukan menyusul klaim pemberontak atas serangan terhadap infrastruktur minyak milik Saudi yang mengancam pasokan global. Amerika Serikat  menuding Iran berada di balik serangan. Tudingan ini langsung disangkal pihak Teheran.

Perang pecah sejak 2014.

Perang saudara Yaman meletus pada 2014 ketika pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran merebut Sanaa dan sebagian besar negara bagian utara. Serangan ini kemudian  menggulingkan pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Koalisi yang dipimpin Saudi berikutnya meluncurkan misi mengusir Houthi dan mengembalikan pemerintahan Hadi yang kini diasingkan di Arab Saudi. Hingga kini perang yang melanda  negara termiskin di dunia Arab ini telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan lebih dari 3 juta warga telantar hingga memicu bencana kelaparan.

Kedua belah pihak dalam perang Yaman dituduh melakukan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia. Serangan udara koalisi yang dipimpin Saudi dan penembakan pemberontak sama-sama menuai kritik internasional karena ikut membunuh warga sipil dan mengenai sasaran non-militer.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA