Turki Panggil Diplomat Mesir sebagai Protes Penggerebekan Kantor Berita Anadolu oleh Polisi Mesir

Dunia

Kamis, 16 Januari 2020 | 09:55 WIB

200116100012-turki.JPG

TURKI, Rabu (15/1/2020), memanggil diplomat senior Mesir guna memprotes penggerebekan kantor berita negara Turki Anadolu di Kairo oleh pasukan keamanan Mesir, sebuah tindakan yang berujung pada penahanan empat orang.

Kementerian Dalam Negeri Mesir membenarkan penggerebekan serta penahanan tersebut. Kementerian mengatakan lokasi penggerebekan, yang katanya sebuah apartemen, telah digunakan untuk menerbitkan informasi bohong dan "negatif".

Anadolu mengklaim empat pegawai mereka ditahan, termasuk satu warga negara Turki, dan digiring ke sebuah tempat rahasia usai penggerebekan.

"Otoritas keamanan nasional menemukan bahwa salah satu komite media elektronik Turki menggunakan sebuah apartemen ... sebagai pusat aktivitas mereka," demikian bunyi pernyataan Kementerian Dalam Negeri Mesir. Pihaknya menuding Turki dan Ikhwanul Muslim yang terlarang berada di balik aktivitas tersebut.

Hubungan Ankara dengan Kairo membeku sejak militer Mesir pada 2013 menggulingkan presiden asal Ikhwanul Muslim, Mohammed Mursi, yang merupakan sekutu Presiden Turki Tayyip Erdogan. Kedua negara juga berselisih soal yuridiksi maritim dan sumber daya lepas pantai di Mediterania timur.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Turki mengecam keras penggerebekan tersebut, yang dianggapnya sebagai "aksi brutal" terhadap Anadolu. Kemenlu juga menyebutkan akan memanggil kepala sementara kedutaan Mesir terkait masalah tersebut.

"Aksi brutal terhadap Anadolu tidak hanya memperlihatkan sikap permusuhan dari pemimpin Mesir terhadap kebebasan pers, namun juga menunjukkan sekali lagi kondisi buruk mereka terhadap demokrasi dan transparansi," kata Kementerian.

Mereka meminta otoritas Mesir agar segera membebaskan pegawai Anadolu.

Direktur Komunikasi Turki Fahrettin Altun menggambarkan penggerebekan itu "sebagai upaya permusuhan pemimpin Mesir terhadap pegawai Anadolu", menambahkan bahwa Ankara menyeru masyarakat internasional mengecam tindakan tersebut.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA