Greenback Melemah, Emas Berbalik Naik 9,40 Dolar AS

Dunia

Kamis, 16 Januari 2020 | 05:57 WIB

200116060348-green.jpg

EMAS berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berbalik naik atau rebound pada akhir perdagangan Rabu (Kamis 16/1 pagi WIB) setelah dua hari berturut-turut mengalami kerugian.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari naik 9,40 dolar AS atau 0,61 persen, menjadi menetap di 1.554,00 dolar AS per ounce.

Indeks dolar AS, ukuran greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, turun 0,19 persen menjadi 97,19 tak lama sebelum penyelesaian perdagangan emas.

Emas dan dolar AS biasanya bergerak berlawanan arah. Jika indeks dolar AS turun maka emas berjangka akan naik, karena emas yang dihargakan dalam dolar AS akan menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lainnya.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average dan indeks acuan utama lainnya melemah setelah naik ke tertinggi baru. Ini mendorong para investor untuk mendiversifikasikan dana mereka ke emas, sebagai salah satu aset safe-haven.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk penyerahan Maret naik 24,6 sen atau 1,39 persen, menjadi ditutup pada 17,988 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April melonjak 38,30 dolar AS atau 3,88 persen, menjadi menetap di 1.025,60 dolar AS per ounce, pertama kalinya sejak Februari 2018 untuk platinum naik di atas 1.000 dolar AS.

Amerika Serikat dan China pada Rabu (15/1) menandatangani perjanjian ekonomi dan perdagangan fase satu di Washington, yang diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi global pada 2020.

"Itu bisa dibaca sebagai bullish untuk logam dan sektor komoditas mentah karena menunjukkan permintaan global yang lebih baik," tulis Jim Wyckoff, seorang analis senior di Kitco.com.
Sehari sebelumnya, emas berjangka turun untuk sesi kedua berturut-turut karena reli pasar ekuitas dan berkurangnya ketegangan geopolitik membatasi selera terhadap emas.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari kehilangan 6,00 dolar AS atau 0,39 persen, menjadi menetap di 1.544,60 dolar AS per ounce pada perdagangan Selasa (14/1).

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA