Amankan 13 Triliun "Uang Keamanan" dari Saudi, Trump Dituding Jadikan Pasukan AS Tentara Bayaran

Dunia

Senin, 13 Januari 2020 | 12:27 WIB

200113122708-sebut.jpg

dailymail

Klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News, akhir pekan ini memicu kritik keras. Dikutip dari DailyMail, Senin (13/1/2020) Trump menyebut Arab Saudi telah menyimpan dana sebesar $1 miliar  atau Rp 13,6 triliun yang memungkinkan Washington tetap menempatkan pasukan militer di kerajaan gurun tersebut.

“Arab Saudi membayar kita  untuk [pasukan AS]," ujarnya pada presenter  Fox News, Laura Ingraham. “Kita memiliki hubungan yang sangat baik dengan Arab Saudi. Kukatakan, ‘Begini  Anda  negara yang sangat kaya. Anda ingin lebih banyak pasukan? Kami  akan mengirimnya  ke negara Anda tapi Anda harus membayar kami. Mereka membayar kita. Mereka sudah menyetor $ 1 miliar di bank," paparnya.

The statement.

Bulan ini 3.000 pasukan baru ditempatkan di Timur Tengah.

Tidak jelas pembayaran apa yang dimaksud Trump. Pihak DailyMail.com yang menghubungi perwakilan Gedung Putih dan Pentagon belum mendapat tanggapan. Mengomentari klaim Trump tersebut Justin Amash, anggota Kongres Michigan yang mundur dari Partai Republik menyusul perbedaan pendapat terkait kebijakan Trump, menyebut presiden ke-45 Amerika tersebut memperlakukan pasukan militer tak ubahnya tentara bayaran.

"Dia menjual pasukan (AS)," demikian cuitan Amash. Sementara kepada Ingraham, Trump mengatakan  negara-negara yang menyediakan  pangkalan militer AS  membayar sejumlah uang. Meski demikian klaim Trump ini tidak terverifikasi.  "Kita akan membantu mereka, tetapi negara-negara kaya ini harus membayarnya," katanya.

The comment.

Praying before deployment.

Trump  menambahkan Korea Selatan sejauh ini telah menyerahkan $ 500 juta atau Rp 6,8 triliun. “Kukatakan, Anda harus membantu kami. Kita memiliki 32.000 tentara di Korea Selatan yang melindungi Anda dari Korea Utara. Anda harus membayar,” katanya.

Selain menjadikan pasukan AS tentara bayaran, Amash pun menuding Trump mengingkari janji kampanye menarik tentara Amerika dari Timur Tengah. Pekan lalu, Trump memerintahkan pembunuhan Qassem Soleimani, jenderal Iran yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak di Baghdad. Iran menanggapinya dengan rudal balistik di pangkalan udara Irak yang menampung tentara AS.

Pasukan dan peralatan tempur.

For the country.

Menyusul retaliasi Iran, pemerintahan Trump  mengerahkan ribuan tentara tambahan ke wilayah Timur Tengah. "Ada yang mendukung presiden, yang percaya hal-hal yang dikatakannya, tetapi  jelas dia tidak membawa pulang pasukan militer kita," ujar Amash kepada NBC News Oktober lalu.

"Trump hanya memindahkan mereka ke bagian lain di Timur Tengah.. Dia  mengirim pasukan kembali ke Irak,  memindahkan yang lain ke Arab Saudi dan memperlakukan  pasukan kita  seperti tentara bayaran, tentara  yang akan datang selama ada yang membayar sejumlah uang, seperti Arab Saudi,” katanya.

Mercenaries?

Selain Saudi, Trump mengklaim Korea Selatan pun "menyetor" sejumlah dana.

Bulan Oktober lalu, raja dan putra mahkota Arab Saudi menyetujui sebaran  tambahan pasukan AS dan peralatan tempur menyusul serangan terhadap fasilitas minyak kerajaan Saudi. Amerika Serikat mengumumkan pengerahan sekitar 3.000 tentara ke negara Teluk tersebut, termasuk skuadron tempur,  ekspedisi udara dan personel pertahanan udara di tengah meningkatnya ketegangan dengan rival politik Saudi, Iran dan Iran.

Terakhir Trump mengatakan Saudi telah setuju untuk membayar sejumlah uang untuk penempatan pasukan militer. Dan awal bulan ini, AS mengirim hampir 3.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah dari Divisi Lintas Udara ke-82 sebagai tindakan pencegahan di tengah meningkatnya ancaman di wilayah tersebut. Amerika total  mengirim sekitar 14.000 tentara tambahan ke Timur Tengah sejak Mei 2019.



Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA