Kanada Tuntut Keadilan dan Tanggungjawab pada Iran Terkait Penembakan Pesawat Ukraina

Dunia

Senin, 13 Januari 2020 | 11:21 WIB

200113112336-kanad.jpg

PERDANA Menteri (PM) Kanada menuntut keadilan dan tanggung jawab kepada Iran terkait penembakan pesawat Ukraina yang menewaskan semua 176 penumpang.

Penembakan tersebut menewaskan 57 warga, sebagian besar dari mereka keturunan Iran.

"Anda mungkin merasa kesepian yang tak tertahankan, tetapi Anda tidak sendirian. Seluruh negara mendukung Anda, malam ini, besok, dan di tahun-tahun mendatang," kata Trudeau dihadapan ribuan orang yang berkumpul di Toronto, Minggu (12/1/2020).

Sekitar 2.300 orang pada Minggu (12/1) berkumpul di Toronto guna mengenang para korban meninggal dari pesawat Ukraina yang ditembak jatuh di Iran.

Foto-foto warga Kanada yang menjadi korban ditaruh di dalam bingkai hitam dan diletakkan di atas panggung.

Foto-foto tersebut ditaruh disamping rangkaian kelopak mawar, lilin, dan piring-piring kurma.

"Tragedi ini seharusnya tidak pernah terjadi, dan saya ingin meyakinkan bahwa Anda memiliki dukungan penuh saya selama masa-masa yang sangat sulit ini," ujar Trudeau.

"Kami tidak akan beristirahat sampai ada jawaban," ujar dia.

Sementara itu, musuh politik Trudeau, Perdana Menteri Alberta Jason Kenney, menjamin bahwa Trudeau akan mengupayakan segala cara untuk mengetahui apa yang terjadi soal penembakan pesawat Ukraina itu.

Keluarga dan teman-teman korban pesawat yang ditembak jatuh itu menangis dan saling berpelukan, mendengarkan penghormatan kepada orang yang mereka cintai mulai dari yang tua dan muda.

Ghazal Pakseresht mengenang kehidupan singkat teman sekelasnya, Daria Mousavi (14), yang meninggal dalam kecelakaan itu bersama saudara perempuannya Dorina ( 9) dan kedua orangtuanya Pedram Mousavi dan Mojgan Daneshmand.

"Dia tidak pernah jatuh cinta, menikah, punya anak dan menjadi tua. Dalam hidup kita tidak menyadari betapa pentingnya seseorang bagi kita sampai mereka tidak lagi bersama kita, "kata Pakseresht tentang Daria.

Daniel Ghods mengatakan bahwa pacarnya, Saba Saadat, seorang mahasiswa ilmu biologi, adalah "kilasan cahaya" dalam hidupnya, sebelum dia terbunuh dalam kecelakaan itu.

"Di dunia ini kita hidup di dalamnya untuk menjadi peka terhadap tragedi yang terjadi di sekitar kita," kata Ghods. "Saya meminta semua orang untuk bersikap baik satu sama lain."

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA