Tewaskan Ribuan Personel Musuh dalam 48 Jam, Pejabat Militer Iran Ungkap Skema Balasan Serangan AS

Dunia

Jumat, 10 Januari 2020 | 15:00 WIB

200110135746-mampu.jpg

dailymail

Iran akan melakukan pembalasan lebih keras terhadap pasukan AS di Timur Tengah setelah serangan roket  pada  Rabu lalu dinyatakan tak menimbulkan korban jiwa. Demikian peringatan Jenderal Pengawal Revolusi Islam Abdollah Araghi kemarin meski Presiden Donald Trump mengisyaratkan pihaknya takkan “bersikeras membalas”.

Dikutip dari DailyMail, Jumat (10/1/2020) menyusul pernyataan Araghi tersebut, komandan angkatan udara Iran Amir Ali Hajizadeh mengklaim  Iran saat ini telah siap  meluncurkan ratusan rudal yang dapat menewaskan 5.000 personel Amerika jika Trump memutuskan membalas.

Amir Ali Hajizadeh.

Sasaran serangan terakhir di Irak.

Berbicara dalam tayangan TV berlatar bendera sejumlah kelompok milisi,Hajizadeh menegaskan fakta tidak adanya korban jiwa tadi merupakan bagian dari keputusan serangan (baca: sengaja).

"Jika berniat membunuh, kita bisa merancang operasi sedemikian rupa hingga 500 orang Amerika akan terbunuh dalam serangan pertama," katanya. Ia melanjutkan, “Jika mereka merespons, 4.000 hingga 5.000 lebih akan tewas  dalam 48 jam.” Dikatakan serangan terakhir melibatkan 13 rudal dan masih ada  ratusan rudal dalam posisi siap membalas. 

Siaga merespons.

Trump dalam briefing keamanan belum lama ini.

Sebelumnya, pimpinan tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyebut serangan rudal Rabu lalu merupakan tamparan bagi AS dan “balas dendam” merupakan persoalan lain. Di hari yang sama Trump menyatakan sepak terjang Qassem Soleimani yang disebut tengah merencanakan pengeboman kedubes AS di Irak seharusnya “dihentikan sejak lama.”

“Pasukan kita yang hebat siap untuk apa pun. Iran tampaknya akan mundur, ini baik untuk semua pihak, juga dunia. Kita memiliki militer dan peralatan tempur yang hebat tapi tidak berarti kita harus menggunakannya. Kami tidak ingin menggunakannya,"katanya. Terakhir baik Teheran maupun Washington masih sama-sama menunggu respons masing-masing pemimpin terkait operasi militer di lapangan.

 

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA