Mirip di Cimahi, 629 Wanita Pakistan Dijual Jadi Pengantin Pesanan Pria Cina

Dunia

Sabtu, 7 Desember 2019 | 05:27 WIB

191207053515-mirip.jpg

huffpost

SEBANYAK 629 wanita dan anak perempuan asal Pakistan dijual sebagai pengantin kepada pria-pria Cina selama dua tahun terakhir.

Kondisi seperti itu nyaris terjadi di Kota Cimahi. Seorang mahasiswi dan karyawan swasta hampir terjerumus menjadi korban "pengantin pesanan".

Hal itu terungkap dalam laporan investigasi Associated Press. AP memperoleh daftar ratusan perempuan itu dari tim penyelidik Pakistan yang berupaya membongkar jaringan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang mengeksploitasi ratusan perempuan itu.

Tim penyelidik memulai investigasi sejak 2018. Beberapa pernikahan disebut terjadi pada 2018 hingga April 2019.

Pejabat Pakistan yang tak ingin diungkap identitasnya yakin ratusan perempuan itu dijual oleh keluarga mereka sendiri atas alasan kebutuhan finansial.

Para orang tua itu menjual anak perempuan mereka pada agen-agen di Pakistan yang bekerja sama dengan agen di China. Para agen itu disebut mengantongi uang hingga 25 ribu -65 ribu dolar AS dari satu pengantin yang dijual kepada pria Cina.

Namun, hanya 1.500 dolar (sekitar Rp 21 juta) AS saja yang diterima keluarga korban sebagai imbalan.

Detained Chinese nationals walk together as they arrive at a court in Islamabad after being arrested by the Pakistani Federal

Pihak berwenang Pakistan menghentikan penyelidikan terhadap kasus tersebut pada Juni tahun ini.

Sejumlah pejabat Pakistan yang mengetahui tentang investigasi itu mengatakan penyelidikan dihentikan dengan alasan takut merusak hubungan bilateral dengan Cina.

Pada Oktober lalu, pengadilan kota Faisalabad bahkan membebaskan 31 warga Cina yang didakwa atas kasus TPPO ini. Beberapa wanita korban TPPO tersebut bahkan menolak untuk memberikan kesaksian lagi kepada polisi.

Seorang pejabat pengadilan menuturkan bahwa perempuan-perempuan itu mendapat ancaman atau disuap agar diam.

Pemerintah pusat Pakistan juga disebut berupaya menghalangi penyelidikan dengan memberi tekanan besar kepada pejabat Badan Investigasi Federal (FIA).

"Beberapa pejabat FIA bahkan dipindahkan. Ketika kami mencoba berbicara dengan pemerintah Pakistan, mereka tidak memperhatikan," kata Saleem Iqbal, seorang aktivis dari komunitas Kristen yang kerap membantu orang tua menyelamatkan anak perempuan mereka yang dijual ke China.

Menanggapi laporan itu, China melalui Kementerian Luar Negeri mengaku tidak tahu menahu terkait daftar ratusan perempuan yang menjadi korban TPPO itu.

"Kedua pemerintah, China dan Pakistan, mendukung pembentukan keluarga bahagia antara kedua masyarakat secara sukarela berdasarkan hukum. Di saat bersamaan, China juga tidak memberikan toleransi terhadap pihak-pihak yang terlibat pernikahan ilegal lintas-batas negara," bunyi pernyataan Kemlu Cina.

Kasus serupa juga terjadi pada perempuan Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri RI, hingga Oktober 2019 ada 42 kasus pengantin pesanan terjadi. Sebanyak 36 korban di antaranya berhasil dipulangkan ke Indonesia.

Puluhan perempuan Indonesia itu dijodohkan dengan pria Cina dengan iming-iming kesejahteraan yang terjamin.

Agen menjanjikan sejumlah uang kepada keluarga sang perempuan sebagai imbalan. Namun, dalam beberapa kasus, uang yang diberikan agen tidak sesuai dengan perjanjian awal dengan alasan dipotong untuk biaya administrasi dan logistik lainnya.

Selepas dipersunting dan dibawa ke Cina, para perempuan itu juga malah dipekerjakan sebagai buruh dan kerap disiksa.

Pemerintah Indonesia kesulitan untuk membantu atau memulangkan puluhan WNI itu lantaran mereka menikah dengan dokumen dan persyaratan yang sah di mata hukum Cina. Alhasil proses repatriasi memerlukan izin para suami.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA