Dolar Lesu di Tengah Optimisme Pembicaraan Perdagangan AS-Cina

Dunia

Sabtu, 16 November 2019 | 08:10 WIB

191116080911-dolar.jpg

beritagar

ilustrasi


KURS dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Itu terjadi karena beberapa optimisme pembicaraan perdagangan yang sedang berlangsung dengan Cina mendukung mata uang terkait perdagangan seperti euro dan pound Inggris.

Negosiasi AS-Cina berlanjut pada Jumat (15/11/2019) karena kedua belah pihak berusaha untuk menuntaskan pakta perdagangan "fase satu". Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross mengatakan kemajuan sedang dibuat pada rincian perjanjian, yang membantu mengangkat mata uang yang terpapar perdagangan dengan mengorbankan aset safe haven seperti yen Jepang.

Ross, dalam sebuah wawancara di Fox Business Network, mengatakan ada kemungkinan yang sangat tinggi Amerika Serikat akan mencapai kesepakatan akhir pada kesepakatan perdagangan fase satu dengan Cina. Akan tetapi tidak mengatakan apakah ia mengharapkan kesepakatan akan tercapai sebelum tarif AS pada barang-barang Cina akan mulai berlaku pada 15 Desember.

Dolar AS turun 0,28 persen terhadap euro dan 0,18 persen terhadap pound Inggris, masing-masing pada 1,105 dolar dan 1,290 dolar. Greenback juga naik 0,41 persen terhadap yen Jepang, terakhir di 108,81, setelah mata uang safe-haven naik minggu ini karena kerusuhan politik di Hong Kong dan ketidakpastian perdagangan mengurangi selera risiko. Franc Swiss juga melemah 0,21 persen terhadap dolar AS.

Data Cina yang suram pada awal pekan ini masih memperkuat harapan untuk kesepakatan, beberapa analis berpendapat.

"Kepercayaannya adalah mungkin, meskipun angka-angka di Amerika Serikat hampir tidak ekspansi. Fakta bahwa Cina sedang melambat berarti mungkin ada pengaruh ekonomi di pihak AS dan bahwa Cina akan menandatangani apa pun," kata Juan Perez, pedagang valuta asing senior dan ahli strategi di Tempus Inc.

Pada Jumat (15/11/2019), Departemen Perdagangan melaporkan bahwa penjualan ritel AS rebound pada Oktober, tetapi konsumen mengurangi pembelian barang-barang rumah tangga berbiaya besar dan pakaian, menimbulkan pertanyaan tentang kekuatan konsumen yang saat ini menopang ekonomi AS. Itu mungkin juga berkontribusi pada kenaikan euro dan pound.

"Ketika kami melihat angka kuartal kedua untuk Eropa dan Inggris, angka-angka itu sangat mengkhawatirkan, tetapi sekarang kami melihat angka kuartal ketiga, kemajuan mereka sedikit lebih baik dan laju mereka telah berada pada harapan atau lebih, sedangkan Amerika Serikat sebenarnya telah melambat," kata Perez.

"Dolar akhirnya hari ini bereaksi terhadap angka-angka itu dan mengatakan laju ekonomi Amerika Serikat tidak terlalu bagus."

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA