Belum Bisa Penuhi Pasar, P2PAC Keluhkan Harga Telur yang Turun

Daerah

Jumat, 24 Januari 2020 | 19:12 WIB

200124191109-belum.jpg

Pepi Irawan

KETUA Paguyuban Pengusaha Ayam Petelur Ciamis (P2PAC) kabupaten Ciamis H Ade Kusnadi atau lebih dikenal Akaw ini menegaskan, kebutuhan rasio telur di Ciamis termasuk sangat bagus.

Namun untuk kebutuhan permintaan keluar Ciamis, telur masih sangat kurang. Pasalnya dari 260 pengusaha ayam petelur di Ciamis yang tergabung di P2PC hanya 160 pengusaha yang produktif dan 70 pengusaha yang aktif.

Dia menjelaskan, pada saat normal, rata-rata produksi telur di Ciamis mencapai 50 ton/ hari, namun saat ini hanya sampai 40 ton/hari. Produksi telur Ciamis untuk memasok kebutuhan telur di Tasikmalaya, Bandung, Banjar, Pangandaran hingga Jakarta.

Menurut Akaw, produksi telur Ciamis masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan. Untuk itu diharapkan usaha peternakan ayam petelur di Ciamis dapat terus tumbuh.

Akaw berharap melalui Pemprov Jabar untuk terus mendorong para peternak ayam petelur dalam meningkatkan produksinya. Dengan kondisi saat ini membuat peternak khawatir, ketika produksi telur nasional turun dan harga terus melambung, bisa saja sewaktu-waktu telur impor masuk ke Indonesia.

"Saat ini sudah pasar bebas, sehingga tidak menutup kemungkinan Indonesia bakal kedatangan telur dari luar negeri. Itu akan membuat keberadaan peternak lokal dalam negeri semakin terancam," jelasnya. saat ketemu di ruang Kepala Dinas Peternakan Ciamis, Jumat (14/1/2020).

Akaw juga menjelaskan untuk saat ini harga telur dari petani RPp18 ribu/kilogram dan harga di pasar Rp 22/kilogram serta harga di warung atau grosir bisa mencapai Rp 21 ribu/kilogram.

"Para penjual telur paling mereka mengambil keuntunganya seribu hingga tiga ribu rupiah tergantung bagaimana mereka cara menjualnya," pungkasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA