BKSDA Wilayah V Garut Terima Dua Ekor Kukang dari Warga

Daerah

Senin, 20 Januari 2020 | 19:54 WIB

200120195410-bksda.jpg

Agus Somantri

Kasi KSDA Wilayah V Garut, Dodi Arisandi, saat menerima dua ekor kukang dari warga di Kantor BKSDA Wilayah V Garut, Jalan Terusan Pahlawan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (20/1/2020).

DUA ekor kukang diserahkan warga ke Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) Wilayah V Garut di Jalan Terusan Pahawan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (20/1/2020). Sebelumnya, kukang tersebut ditangkap warga di wilayah Limbangan pada pekan lalu.

Hermansyah (43), perwakilan warga yang menyerahkan kukang mengatakan, kukang itu didapatkannya dari warga Desa Cibugel, Kecamatan Limbangan. Awalnya, terang Hermansyah, warga yang menangkap kukang tak berniat menyerahkan ke BKSDA karena tidak mengetahui jika hewan tersebut termasuk satwa yang dilindungi.

"Namun setelah saya beri pemahaman, akhirnya warga pun bersedia menyerahkannya ke saya. Dan saya mewakili warga untuk menyerahkannya kembali ke BKSDA," ujarnya, Senin (20/1/2020).

Menurut Hermansyah, dirinya memberi pemahaman ke warga bahwa kukang itu termasuk hewan yang dilindungi, dan bisa terjerat pidana jika tetap memaksa untuk memeliharanya. Setelah tahu ada dampak hukumnya, warga pun akhirnya bersedia menyerahkannya untuk diteruskan ke BKSDA.

Hermansyah menyebut, dua ekor kukang yang merupakan induk dan anak itu sempat dipelihara selama dua hari oleh warga. Warga mendapatkannya dari pohon alpukat di sekitar rumahnya.

Ia menuturkan, kebanyakan warga masih belum paham hewan mana saja yang dilindungi oleh undang-undang. Karena itu, perlu pemahaman lebih lanjut agar satwa dilindungi tak jadi hewan peliharaan.

"Warga hanya tahu kalau hewan itu bisa dijadikan peliharaan. Makanya perlu ada pemahaman," ucapnya.

Kepala Seksi (Kasi) KSDA Wilayah V Garut, Dodi Arisandi mengungkapkan, dua ekor kukang hasil serahan warga itu selanjutnya akan diperiksa kesehatannya. Jika dinyatakan sehat, maka kukang tersebut akan segera dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

"Biasanya kukang yang ditemukan masyarakat itu gigi taringnya dipotong. Kalau dipotong tidak bisa survive di habitat. Maka perlu di karantina dulu," katanya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA