Jerat "Bank Emok" Kian Memprihatinkan

Daerah

Minggu, 12 Januari 2020 | 20:26 WIB

200112201328-jerat.jpg

uangteman.com

ilustrasi

JERATAN rentenir yang melilit sejumlah keluarga miskin di wilayah Kabupaten Sumedang kian memprihatinkan. Tak sedikit dari mereka yang terjerat utang, rumah tangganya harus berantakan bahkan berujung perceraian.

Disamping itu, ada pula di antaranya yang terpaksa usahanya harus gulung tikar akibat modalnya habis dipakai untuk bayar utang ke "bank emok", yang tak pernah lunas-lunas. Rentenir ini biasa disebut "bank emok" karena nasabah dan si rentenir sama-sama duduk dilantai.

Kejadian itu seperti yang dialami oleh Tini (27), warga Desa Rancamulya, Kec. Sumedang Utara, Kab. Sumedang. "Waktu itu, saya terdesak kebutuhan. Tapi mau minta pada suami tidak berani dan kasihan. Akhirnya, saya dikenalkan sama tetangga, untuk pinjam uang ke 'bank emok'," terang Tini, kepada galamedianews.com, Minggu (12/1/2020).

Saat itu, Tini mendapat pinjaman Rp 500.000 dengan bunga 30 persen perbulan. Karena tidak ada pilihan, Tini berani mengambil risiko itu tanpa sepengetahuan suaminya.

"Sampai dua bulan, saya lancar membayar cicilan, meski hanya untuk bunganya saja, yaitu Rp 150.000. Tapi menginjak bulan ke tiga, saya kelabakan untuk membayar. Sebab uang belanja yang saya terima dari suami, berkurang. Karena memang suami saya bekerja serabutan," ujarnya.

Dari situlah, masalah mulai muncul. Tunggakan bunga yang belum dibayar jadi berlipat-lipat. Pada saat rentenir itu bolak-balik menagih utang, lanjut Tini, suaminya secara kebetulan sedang ada di rumah.

"Suami bukan main marahnya, setelah tahu saya punya utang ke rentenir. Dan semenjak itu, rumah tangga kami jadi tidak harmonis. Sejak itu pula, kami sudah tidak tinggal satu kontrakan lagi," ungkapnya.

Karena terus dikejar rentenir, Tini mengaku terpaksa sering ngumpet-ngumpet. Apalagi, rentenir yang menangih utang itu, datangnya sehari bisa tiga atau empat kali dan tidak mengenal waktu.

Karena merasa risih, Tini pun berusaha mencari pinjaman, kepada saudaranya, untuk melunasi utang ke rentenir. Namun diluar dugaan, setelah 6 bulan berjalan, utang yang harus dilunasinya, menjadi Rp 1 juta lebih.

"Karena tidak dibayar selama 4 bulan, sehingga tunggakanya menjadi bunga berbunga. Beruntung ada saudara yang kasihan, dan mau meminjamkan uang. Walau utang ke rentenir sudah dilunasi, tapi rumah tangga kami, sangat tipis bisa dipertahankan. Hal itu, karena hingga saat ini, kayanya suami masih belum terima dengan perbuatan saya kemarin," imbuhnya.

Hal sama dialami oleh Didi, yang meminjang uang ke rentenir dengan maksud untuk menambah modal warung. Didi mengaku, meminjam uang Rp 3 juta, dari "bank emok" yang biasa keliling di kampungnya. Dari hasil kesepakatan, Didi menyanggupi untuk membayar bunga 20 persen perbulan.

Selanjutnya, uang yang didapat dari pinjaman rentenir itu, dibelanjakan barang untuk dijual di warungnya. "Waktu itu saya menyuruh istri untuk mencari pinjaman. Uang hasil pinjaman itu tidak dibelanjakan semuanya, tapi disisihkan Rp 600.000 untuk cicilan bunganya saja, di bulan pertama. Sampai bulan ke empat, saya masih bisa tepat waktu untuk bayar bunga," ujarnya.

Masalah muncul di bulan ke lima. Karena diwaktu tersebut, dia sudah tidak punya uang untuk membayar cicilan. "Tidak hanya itu, barang dagangan saya juga terus berkurang. Karena selama 3 bulan terakhir, hasil jualan yang diperoleh disisihkan untuk bayar utang. Jadi akhirnya, modal pun habis untuk bayar utang ke rentenir," ucapnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA