Ki Kusumo : "Musibah Banjir Memerlukan Empati dan Tindakan Konkret"

Daerah

Jumat, 3 Januari 2020 | 23:37 WIB

200103234411-ki-ku.jpg

Eddie Karsito

Empati, kata Ki Kusumo, bukanlah sekedar basis genetic, atau sifat alami yang dianugerahkan Tuhan. Melainkan potensi yang harus terus dipupuk dan dikembangkan dalam berbagai setting kehidupan.

“Termasuk peduli terhadap sesama yang tengah dilanda masalah, serta membutuhkan bantuan,” kata Ki Kusumo, saat mengunjungi korban banjir, di kawasan Perumahan Pondok Gede Permai, Jatirasa, Jatiasih, Kota Bekasi, Kamis (02/01/2020).

Fenomena alam dalam bentuk banjir yang kini tengah dialami masyarakat, kata Ki Kusumo, dapat membentuk sikap empati, dengan mendorong individu untuk memahami kebutuhan dan memberi bantuan yang dibutuhkan orang lain. “Oleh karena itu kami dan rekan-rekan dari Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) turun kelapangan,” ujarnya.

KPMP ikut membantu masyarakat yang terkena musibah banjir agar meringankan beban dampak bencana banjir. “Bantuan yang kami berikan macam-macam, ada mie instan, nasi bungkus, lebih kurang makan dan minuman. Kami juga memberikan bantuan perahu karet untuk mengevakuasi warga,” papar produser, aktor film, dan konsultan spiritual ini.

Dalam kondisi seperti ini, kata Ki Kusumo, masyarakat lebih membutuhkan bantuan langsung dalam bentuk makanan dan minuman, serta fasilitas pendukung lainnya.“Pada situasi sekarang banyak warga yang belum makan. Mereka kesulitan keluar dari rumah, karena rumahnya dikepung banjir. Tempat jualan makanan dan minuman tutup, mereka semua sama-sama terkena banjir,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, lanjut Ki Kusumo, peristiwa banjir selalu juga berkaitan dengan listrik mati. Sehingga mengakibatkan air-air bersih, Pam, dan lain-lain juga tidak menyala atau berhenti beroperasi.

Menjelang musim penghujan, kata Ki Kusumo, banyak wilayah terdampak banjir maupun longsor. Namun jika ingin memberi bantuan, Ki Kusomo menyarankan mulailah dari lingkungan terdekat di mana kita tinggal. Kawasan Pondok Gede Permai, Jatirasa, Jatiasih ini, terang Ki Kusumo, contohnya hampir dikatakan setiap tahun terkena banjir.

“Dampak pasca banjir bisa sampai satu atau dua bulan baunya sampai enggak karuan. Artinya dalam hal ini saya selaku warga masyarakat yang juga mempunyai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) merasa terpanggil bahwa ini adalah merupakan sebuah peristiwa alam dan banyak masyarakat yang butuh bantuan dalam peristiwa banjir ini,” kata Ki Kusumo.

Banjir kali ini, kata Ki Kusumo, adalah peristiwa banjir terparah. “Sejumlah area yang sebelumnya tidak terkena banjir, dua hari ini benar-benar amburadul, dalam artian terkena musibah banjir hancur-hancuran. Bahkan sampai ada rumah yang lantai dua separuhnya terendam air. Artinya kondisi ini kan sudah bisa kita hitung, lantai 1 tingginya berapa meter misal 3 atau 4 meter, kalau lantai 2 nya separoh terendam juga, bisa dibayangkan berapa ketinggian airnya,” ungkapnya.

Masalah lingkungan hidup, kata Ki Kusumo, masalah kompleks yang perlu ditumbuhkan lewat kesadaran. Terlalu sering kita mendengar bahwa bencana alam di berbagai tempat terjadi karena sikap kita tidak ramah kepada alam. Langkah pengendalian memang harus dilakukan, agar keseimbangan alam dan perilaku manusia bisa terjaga.

“Pohon-pohon dihabisi lupa melakukan reboisasi sehingga terjadi longsor. Unsur serapan air berkurang. Air yang seharusnya masuk ke dalam tanah akhirnya mengalir di atas permukaan tanah dan menggenangi area-area yang lebih rendah,” ujar Ki Kusumo.

Ki Kusumo mengingatkan, bahwa dunia ini sudah tua. “Bumi ini sudah tua dan harus kita perbaiki. Perbanyak doa dan janganlah melakukan sesuatu yang merugikan alam. Hal-hal yang berkaitan dengan konsep pemeliharaan alam dikembalikan lagi, dan dibangun kembali. Bumi ini harus disayang, dipelihara serta diberi obat. Diberi makanan yang cukup sehingga mampu memelihara manusia atau masyarakat hingga ribuan tahun ke depan. Jadi intinya bersahabat dengan alam, memelihara alam akan membuat kita hidup di dalam alam,” tutupnya.

Editor: boedi azwar

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA