Laznas Dewan Dakwah Gelar Hapus Tato Gratis

Daerah

Sabtu, 14 Desember 2019 | 17:25 WIB

191214172958-lazna.jpg

Dally Kardilan

Ustadz Dhade sedang melakukan penghapusan tato dengan laser kepada salah seorang peserta di Masjid Al-Islam, Sukarahayu, Karanganyar, Subang

HAPUS rajah atau tato untuk hijrah mendekatkan diri kepada Allah digelar gratis di Masjid Al-Islam, Sukarahayu Kelurahan Karanganyar oleh lembaga amal zakat nasional (Laznas) Dewan Dakwah Indonesia Kabupaten Subang, Sabtu dan Minggu (14-15/12/2019).

Ketua Laznas DDI Subang, Ustadz Dadhe Alfath mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan lembaga yang sama dari Jawa Tengah peminjaman alat lasernya dibantu relawan.

“Kita juga menginginkan memiliki alat penghapus tersendiri yang harganya cukup lumayan berkisar Rp 93 juta. Bersyukur kalau ada dermawan yang mau membantu dan ternyata diantara mereka yang datang pun mau mendonasi,“ katanya.

Program untuk membantu kaum muslimin untuk berhijrah sehingga bersih selama melaksanakan ibadah dan InshaAllah menjadi amal ibadah ini tetap harus mengikuti prosedur.

Syarat ketentuan yang sudah ditentukan bagi peserta, jelas harus muslim atau muslimat dengan memiliki niat untuk berubah atau berhijrah. Selama 2 hari sudah terdaftar 67 orang yang ingin dihapus tatonya.

Syarat kedua, adalah harus menghafal Surat Ar Rahman atau Surat An-Naba serta surat pemeriksaan dari dokter terbebas dari penyakit hepatitis, HIV/Aids.

”Kita hanya ada waktu 2 hari dan kalaupun sudah terhapus dan biasanya beberapa kali, besok bisa datang lagi dan kalaulah sudah ada alat bisa kontinyu membantu sesama," kata Ustadz Dadhe didampingi dr.Dede dan Muchamad Solihin sebagai penginterview dan hafalan.

Secara medis pun tato saat ini bisa dipudarkan dengan teknologi laser, dan sebelum tindakan di area kulit yang akan terkena laser dibersihkan terlebih dahulu. Lalu dioleskan obat anestesi agar tidak terasa sakit dan ditunggu selama beberapa menit.

“Sakit sih memang bila dibanding sewaktu ditato, tetapi karena kita berniat ingin agar suatu saat meninggal sudah bersoh dari tato,“ kata Reza asal Lembang yang memiliki tato di kedua lengannya.

Demikian pula Ikmal asal Tanjungsiang, Subang sengaja datang karena dorongan kuat untuk mendekatkan kepada Allah dan mengisi hidup tanpa ada embel-embel di tubuhnya.

“Saya sendiri bertato saat bekerja di kapal pesiar dan semua pekerja bergambar sama sebagai symbol, ternyata setelah kembali belajar agama karena membuka praktek bekam jadi tojaiyah dan ingin bersih,“ katanya.

Semua pasen yang akan dihapus tatonya mengajak kepada generasi muda untuk tidak tergiur memakai tato, apalagi untuk gagah-gagahan ternyata setelah lama akan terasa menyesal.

“Janganlah , saya juga sudah 20 tahun lebih akhirnya menyesal,“ kata Asep dan berharap keinginan Laznas DDI memiliki laser sendiri cepat terealisasi. .  

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA