Lumbung Ternak Wakaf, Global Wakaf-ACT Perkuat Pemberdayaan Peternak

Daerah

Rabu, 11 Desember 2019 | 18:03 WIB

191211180831-lumbu.jpg

Lumbung ternak domba di Kampung Cinta Bodas, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, berdayakan warga sekitar dan menjadi lumbung ternak di Kabupaten Tasikmalaya.

KABUPATEN Tasikmalaya sebagai salah satu sentra peternakan di Provinsi Jawa Barat mempunyai komoditas strategis yang meliputi ternak sapi potong, kerbau, kambing, domba dan unggas.

Hasil dari penelitian IPB menyebutkan bahwa permasalahan pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten Tasikmalaya adalah belum optimalnya pemanfaatan potensi wilayah, daya dukung lahan, dan sumber daya pakan secara terintegrasi dengan lokasi basis produksi ternak.

Dengan total warga prasejahtera di Tasikmalaya sebanyak 159.930 jiwa dan pendapatan warga mereka rata-rata hanya sebesar Rp 300.000,00/bulan. Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada hilangnya lokasi-lokasi produksi peternakan akibat degradasi lahan dan alih fungsi lahan.

Menjawab kondisi tersebut, Global Wakaf-ACT meresmikan program unggulan Lumbung Ternak Wakaf (LTW) di Desa Cintabodas, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya. Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin menyatakan, ternak memiliki nilai strategis bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Dari sisi sosial, tradisi kultural, acara keagamaan, dan ekonomi, ternak memegang peranan penting. Secara kultural, pemeliharaan ternak masih dianggap sebagai kegiatan sampingan dan hasilnya pun hanya dianggap sebagai tambahan atau tabungan pada saat ada keperluan yang besar.

Dengan edukasi pengelolaan ternak yang lebih profesional, kata Ahyudin, ternak memiliki peranan penting bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pemenuhan kebutuhan pangan.

"Program LTW bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak melalui sistem agrobisnis peternakan berbasis wakaf menuju kedaulatan pangan nasional,” katanya, usai penyaluran bantuan beras di lokasi Peternakan Kampung Cinta Bodas, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (11/12/2019).

Dikatakannya, Program Lumbung Ternak Wakaf menggunakan model filantropi baru melalui wakaf sebagai investasi produktif yang hasilnya terus berputar. Hasil pengelolaan aset wakaf digunakan untuk membangun dan mengembangkan kesejahteraan peternak agar lebih produktif dan mandiri.

Menurutnya, Fokus penggunaan Lumbung Ternak Wakaf terdiri dari beberapa fungsi. Pertama, sebagai pusat pembibitan ternak domba yang akan menghasilkan bibit-bibit domba unggulan.

Kedua, sebagai pusat penggemukan domba yang akan menghasilkan domba unggul siap potong.

Ketiga, sebagai pusat edukasi wisata wakaf dan farm training yang memberikan gambaranmenarik tentang konsep wakaf produktif dan juga edukasi terkait konsep Good Management Practice (GMP) bagi masyarakat untuk berkunjung mulai dari siswa, mahasiswa, peternak, pengusaha, donator, pewakif, Lembaga Pendidikan (PT), dan lain sebagainya.

Direktur Program ACT Wahyu Novyan menjelaskan, Lumbung Ternak Wakaf menerapkan sistem peternakan yang terintegrasi yang berdampak pada pemberdayaan warga secara signifikan.

“Sebelumnya para peternak yang terlibat di LTW adalah masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan pendapatan tetap. Banyak yang bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp500.000,00/bulan. Ada juga yang kurang dari itu dan pendapatannya tidak tentu setiap bulan. Banyak yang harus pergi merantau ke kota untuk dapat menghasilkan uang," katanya.

Setelah menjadi mitra di LTW, lanjut Wahyu, mereka bisa bergabung sebagai karyawan (tetap atau harian) dan mendapatkan pendapatan tetap jauh diatas rata-rata UMR Kabupaten Tasikmalaya.

"Para peternak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, dan menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi,” jelas Wahyu.

Hingga kini, perkembangan lahan kandang dan lahan odot di LTW Tasikmalaya mencapai 22 hektare. Lahan ini menampung kapasitas domba breeding 5.000 ekor dan fattening 4.500 ekor. Sementara total peternak di Tasikmalaya yang diberdayakan sebanyak 124 orang dan terus bertambah.

Manajer Lumbung Ternak Wakaf Muhamad Supriyadi menambahkan, tidak hanya pemberdayaan secara ekonomi, namun pemberdayaan secara pendidikan dan spiritualitas diberikan kepada semua peternak dan masyarakat sekitar LTW.

“Mak Oyon misalnya. Ia salah satu penerima manfaat dari program ini sekaligus warga penyintas bencana banjir bandang dan tanah longsor Tasikmalaya 1 tahun silam. Beliau dan 7 KK lainnya saat ini masih bertahan menempati hunian sementara di Desa Bojongsari, Kecamatan Culamega. Lokasi hunian tidak jauh dari LTW, warga hunian di sini menjadi pekerja harian lepas untuk mengurus lahan odot LTW. Kegiatan pengajian rutin pun diadakan untuk karyawan dan masyarakat umum hingga fasilitas kegiatan kursus Bahasa Inggris gratis diadakan,” imbuh Supriyadi.

Pada acara tersebut, kata Supriyadi, Global Wakaf-ACT turut mendistribusikan bantuan 10 ton beras kepada 1.400 penerima manfaat. Bantuan beras berkualitas ini disuplai langsung dari Lumbung Beras Wakaf binaan Global Wakaf-ACT.

Hingga kini, Indonesia berada pada peringkat 73 di dunia dengan tingkat kelaparan kategori serius, 12,5 juta hidup dalam kemiskinan kategori ekstrim dan 62,2% penduduk miskin tinggal di pedesaan. Pada tahun 2019 jumlah kurban dari LTW Tasikmalaya sebanyak 1.200 ekor, dengan target 2020 sebanyak 5.000 ekor yang bersumber dari anakan breeding di LTW

"Tasikmalaya. Harapannya, melalui LTW kebutuhan pangan dapat terpenuhi dan gap kesenjangan ekonomi masyarakat Indonesia semakin kecil melalui pemberdayaan perekonomian yang terintegras," katanya. 

Sementara diakui Oih Suharsa (52) koordinatir kandang Blok 3 mengaku senang bisa bekerja di lumbung peternakan ini. Pasalnya dieinya bisa mendapatkan upah yang layak, sejak 5 tahun kerja disitu merasa betah. Dirinya terpacu juga untuk memenuhi target domba siap potong jika memasuki atau mendekati hari raya qurban.

"Alahmadulillah bisa bekerja nyaman dan mendapatkan upah yang layak," katanya. :

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA