Ratusan Rumah di Tasikmalaya Terancam Pergerakan Tanah

Daerah

Rabu, 4 Desember 2019 | 19:38 WIB

191204190320-ratus.jpg

Septian Danardi

Seorang polisi mengecek lokasi rumah yang mengalami kerusakan kecil akibat pergerakan tanah, Rabu (4/12/2019).

RATUSAN rumah warga di empat dusun di Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami retak-retak. Peristiwa itu diduga akibat pergerakan tanah yang dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak tiga hari terakhir ini.

Empat dusun yang terkena dampak pergerakan tanah tersebut yakni kampung Singajaya, Cigadung, Burujul, dan Jajaway. Meski rumahnya banyak yang mengalami keretakan, warga masih belum mau mengungsi.

Warga kampung Babakan Jajaway, RT 04/RW 04 yang terkena dampak, Dudi Kusnadi mengungkapkan, ia bersama keluarganya masih tinggal di rumah. Padahal dinding dan lantai rumah miliknya sudah retak-retak.

Diakui Dudi, ia sudah tinggal selama 13 tahun di lokasi itu dan kerap terjadi pergeseran tanah, diduga karena kontur tanah yang labil. Saat kemarau panjang tanah jadi kering, sehingga disaat diguyur hujan tanah bergerak.

"Masih tinggal meski kondisi rumah sudah mulai banyak yang retak-retak. Memang takut dan tidak tenang jika ada hujan sedikit juga apalagi hujan deras," katanya, Rabu (4/12/2019).

Sesudah hujan, ujar Dudi, ia bersama anggota keluarga merasakan cemas. Pasalnya, ditakutkan rumahnya ambruk akibat tanah terus bergerak karena tergerus air hujan.

"Takut kejadian, jika malam ataupun siang karena hujan turun sangat deras dalam beberapa hari ini. Suka ada suara tanah bergerak dan suara dinding rumah yang retak. Kami meminta segera ditindaklanjuti oleh pemerintah supaya tidak membahayakan warga," katanya dengan diamini Pipih (34) tetangga yang juga rumahnya mengalami retak.

Hal senada juga diungkapkan Wulandari (29), warga Kampung Burujul RT 03/RW 04 Desa Pusparahayu, yang keramik rumahnya mengalami retak-retak hampir diseluruh ruangan. Pergerakan tanah ini sudah terjadi sejak lama, namun tahun 2019 ini, pergerakan tanah semakin parah.

"Sejak sebulan terakhir sering menginap di rumah orang tua ataupun di rumah mertua. Karena dinding yang retak takut ambruk. Tetapi belum mengungsi," katanya.

Sementara itu, Ketua Relawan BPBD Kecamatan Puspahiang, Didin Wahidin menyatakan, hujan yang mengguyur intensitasnya mulai tinggi. Sehingga kontur tanah yang labil saat kemarau panjang ditimpa hujan deras menjadi pemicu tanah bergerak.

"Selain itu, gempa juga menjadi penyebab tanah bergerak. Selama ini warga belum dihimbau mengungsi, namun jika hujan deras diimbau harus mengungsi ke lokasi yang aman," katanya.

Kasium Polsek Puspahiang, Bripka Andriana mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi terkait kondisi pergerakan tanah ini ke pihak kecamatan dan desa termasuk relawan BPBD. Kemudian meninjau lokasi ke rumah-rumah warga yang terdampak. "Termasuk juga ikut juga melakukan pendataan," katanya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA