Aksi Penolakan Pondok Seni Pangandaran Dijadikan Water Boom Terus Bergulir

Daerah

Selasa, 3 Desember 2019 | 14:22 WIB

191203142619-aksi-.jpg


AKSI penolakan Pondok Seni Pangandaran dijadikan water boom oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil terus bergulir dijejaring media sosial facebook. Salah satu akun facebook yang menggulirkan penolakan tersebut adalah akun milik Bah Nanu (Mas Nanu Munajar).

Dalam akunnya, Bah Nanu menuliskan "Sampurasun, MENOLAK PONDOK SENI PANGANDARAN DIJADIKAN WATER BOOM Kum tuk seniman, budayawan, pelaku/penggiat seni budaya, masyarakat pencinta Seni-budaya Sunda (Jawa Barat), mohon tanggapannya dari pidato Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang dirilis Harian Umum GALAMEDIA (Senin 2 Desember 2019, hal 7, "Water Boom Akan Dibangun, Gunakan Lahan Milik Pemprov Jabar", lahan yang dipakai yakni "PONDOK SENI PANGANDARAN YANG AKAN DIJADIKAN WISATA AIR ATAU WATER BOOM", tegasnya ketika usai melepas ribuan pelari Jabar Internasional Marathon (JIM) di Pangandaran, Ahad (1/12)." 
Padahal, pondok seni tersebut adalah milik UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Jawa Barat diperuntukan sebagai arena pakalangan seniman untuk pertunjukan kasenian daerah Kabupaten Pangandaran dan juga seniman dari berbagai kota/Kabupaten daerah Jawa Barat, yang dilaksanakan setiap malam minggu. Di arena Pondok Seni tersebut kata Mas Nanu, setiap malem Minggu para penggemar ronggeng kaler atau Amen, Ronggeng Gunung serta masyarakat selalu tumplek hadir menyaksikan dan turut terlibat menari bersama ronggeng, bahkan para wisatawan pun hadir menonton ikut serta menari di arena pondok seni.

Pernyataan Gubernur Pondok Seni Pangandaran akan dijadikan wisata air atau water boom, itu menujukkan ketidakpedulian pada kesenian tradisi atau kearifan budaya lokal, bahkan mengeliminir kesenia tradisi sekaligus mematikan kreativitas seniman. Ini tidak seseuai dengan amanat UU No 5/2019 tentant Pemajuan Kebudayaan. Gubernur dengan membangun water boom di kompleks Pondok Seni itu hanya melihat dampak sisi ekonominya saja, ironis.

Padahal, Undang-Undang Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan telah memberi amanat kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun. Sesungguhnya kebudayaan perlu dipandang sebagai investasi dalam pembangunan bangsa. Untuk itu, tata kelola pemajuan kebudayaan perlu diperkuat melalui strategi terarah dan berkelanjutan.

"Seharusnya Gubernur bukan merubah arena pertunjukan Pondok Seni jadi water boom, tapi tempat tersebut dipercantik dan percanggih peralatan kebutuhan pertunjukannya. Sehingga seniman akan terbantu dalam menuangkan kreativitasnya dan penonton pun akan merasa nyaman menikmati sajian keseniannya. Sungguh sangat ironis jika Gubernur mengikuti kehendaknya tahun 2020 Pondok Seni Pangandaran dijadikan Water Boom hanya untuk kepentingan pribadi saja, sementara seniman daerah Kabupaten Pangandaran maupun seniman kota/Kabupaten daerah Jawa Barat dikesampingkan untuk menggelar karya-karyanya...duuuh teungteuingeun... MARI KITA MENOLAK PEMBANGUNAN WATER BOOM DI PONDOK SENI. SALAM BUDAYA #Blekuk jreknong nengnongnengningkeung," ajak Bah Nanu yang dikutip dari laman facebook miliknya, Selasa (3/12/2019).

Hingga Selasa pukul 14.00 WIB, cuitan Bah Nanu tersebut sudah mendapat tanggapan 132 orang seniman dan budayawan yang men-Likes, 71 komentar dari berbagai kalangan dan 10 kali di share.

Saat dikonfirmasi via telpon, Mas Nanu menyebutkan terus menggalang aksi penolakan Pondok Seni dijadikan Water boom oleg Gubernur Jabar tersebut. Bahkan dalam waktu dekat, kata dia, dirinya akan menggelar dikusi budaya (seni) dengan mengundang sejumlah seniman asal Pangandaran dan Ciamis.

"Kita harus terus menggelorakan menolak Pondok Seni Pangandaran dijadikan water boom. Sejumlah seniman dari Pangandaran dan Ciamis akan datang ke Bandung untuk berdiskusi dan menggelar aksi demo menolak pembangunan water boom," tambahnya.

Mas Nanu pun berencana akan menghadirkan dua mantan kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar terdahulu, Memet H Hamdan dan Budhyana. "Kedua mantan kepala dinas ini dinilai paling mengetahui sejarah dibangunnya Pondok Seni di Pangandaran," tandasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA