Dua Tahun Tinggal di Kandang Ayam, Kini Mira dan Tiga Anaknya Bisa Tidur Nyenyak

Daerah

Minggu, 1 Desember 2019 | 20:01 WIB

191201212942-dua-t.png

MIRA (30) warga Kampung Legok Ringgit, Desa Salakuray, Kecamatan Bayongbong, Garut Jawa Barat, baru beberapa bulan terakhir ini baru bisa nyenyak tidur di sebuah bangunan yang tadinya bekas kandang ayam. Sebelumnya, selama dua tahun terakhir dia bersama tiga orang anaknya terpaksa tinggal di kandang ayam.

"Bangunan yang berada di tengah permukiman warga ini baru selesai dibangun, setelah adanya bantuan dari warga melalui RW dan pemerintah desa," ujar Hadad, warga setempat, Ahad (1/12/2019).

Dikatakan Hadad, sebelum bangunan kandang direnovasi dan disulap menjadi rumah tinggal, keluarga Mira terpaksa tinggal di kandang ayam. Soalnya saat itu dia sama sekali tidak memiliki uang untuk mendirikan bangunan.

'Suaminya kerja serabutan yang tidak menentu. Sedangkan Mira hanya seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang mengurus tiga orang anak," katanya.

Bangunan baru bisa berdiri, kata Hadad, setelah adanya bantuan dari pemerintah desa sebesar Rp 700 ribu ditambah iuran dari warga. "Alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi tinggal di kandang ayam. Hanya saja keluarga tersebut masih membutuhkan bantuan dari pemerintah untuk membangun rumah yang lebih layak lagi," ucapnya.

Sementara Mira, mengatakan, dia bersama suami dan tiga orang anak terpaksa selama dua tahun tinggal di bangunan kandang ayam milik warga. Hanya saja setelah mendapatkan bantuan dirinya bisa membeli lahan tanah bekas bangunan kandang ayam.

"Saya beli uang dari bantuan pemerintah senilai Rp1,5 Juta. Padahal uang tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Daripada tinggal terus di bangunan kandang ayam lebih baik uangnya dibelikan lahan tanah," ucapnya.

Ia mengaku, setelah mendiami rumah seluat 4 x 7 meter seadanya, bisa nyenyak tidur dan tidak digigit nyamuk lagi. "Kalau dua tahun lalu setiap malam kerap menjadi sasaran nyamuk termasuk ketiga anaknya. Ya sekarang sudah tidak lagi," ujarnya.

Ia juga berharap, ada bantuan dari pemerintah agar bisa membangun rumah yang layak tidak seperti sekarang ini hanya sebatas ditutupi oleh triplek yang dicat warna kuning. Itu pun belum dilengkapi dengan kamar mandi dan dapur.

Ia mengaku, guna kehidupan sehari-hari hanya mengandalkan suami yang bekerja sebagai kuli bangunan. Ia bersama tiga orang anaknya bisa makan jika ada yang menyuruh sang suami untuk bekerja dengan upah sebesar Rp 60/hari.

"Kalau ada yang nyuruh bekerja baru bisa makan. Ingin usaha tetapi tidak memiliki modal," pungkasnya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA