Empat Orang Anak Diserang Tawon, Satu Diantaranya Meninggal Dunia

Daerah

Kamis, 21 November 2019 | 20:28 WIB

191121204326-empat.jpg

Agus Somantri

Rizki (11), korban sengatan tawon saat ditemui di rumahnya, Kampung Kampung Nagela, Desa Cikedokan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Kamis (21/11/2019).


EMPAT orang anak di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut diserang tawon. Satu di antaranya meninggal dunia, sedangkan tiga orang lainnya masih mendapatkan perawatan secara intensif akibat mengalami luka-luka bekas sengatan tawon.

Keempat anak tersebut masing-masing atas nama Armi (11) siswa kelas VI SDN Samarang, Saeful Ulum (12) kelas VII SMPN 2 Bayongbong, Rizki (11) kelas VI SDN Mekarsaridan, dan Elzar (9) kelas IV SDN Samarang. Keempatnya merupakan warga Kampung Nagela, Desa Cikedokan, Kecamatan Bayongbong. Satu orang korban atas nama Armi diketahui meninggal dunia tadi malam.

Danramail Bayongbong, Kapten Inf, Jaja, menyebutkan keempat anak tersebut diserang tawon pada Rabu (20/11/2019) sore sekitar pukul 16.00 WIB, di Kampung Nagela RT 01 RW 02, Desa Cikedokan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut.

Menurut Jaja, peristiwa tersebut bermula saat keempatnya selesai latihan di Madrasah Al Barkah yang ada di kampungnya. Saat hendak pulang ke rumahnya masing-masing, mereka melihat sarang tawon yang cukup besar di salah satu rumah milik Ny. Maryam. Melihat hal tersebut, mereka pun mengusik sarang tawon itu dengan menggunakan kayu.

"Keempat anak itu menggunakan kayu panjang untuk membongkar sarang tersebut. Begitu kayu dicolokan pada sarang tawon, tawon-tawon yang ada di sarang pun langsung menyerang mereka," ujarnya, Kamis (21/11/2019).
 
Begitu tawonnya nyerang, lanjut Jaja, keempat anak itu pun langsung berlarian menyelamatkan diri. Ada yang bersembunyi di kamar mandi dan melompati jendela. setelah itu mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing. Sesampainya di rumah, mereka pun langsung dibawa oleh para orang tuanya ke Puskesmas untuk diobati.

"Untuk Armi dan Elzar yang juga merupakan kakak beradik ini, oleh orang tuanya dibawa ke Klinik Cisanca. Namun pada malam harinya, korban atas nama Armi meninggal dunia," ucapnya.

Menurut Jaja, jenazah Armi sudah dimakamkan oleh pihak keluarganya di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Cikedokan. Sedangkan korban lainnya, saat ini masih mendapatkan perawatan intensif.

Jaja menyebutkan, atas kejadian tersebut, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kabupaten Garut agar bisa langsung menghancurkan sarang tawon tersebut.

"Agar kejadian serupa tidak terulang lagi," katanya.

Neni Suhaeni (60), nenek dari Rizki salahsatu korban sengatan tawon  mengungkapkan, pada Rabu (20/11/2019) sore cucunya memang bermain bersama Armi, Saeful Ulum dan Elzar adik Armi.

Keempatnya, terang Neni, ternyata mencoba membongkar sebuah sarang tawon yang ada di bagian atap salahsatu rumah warga dekat masjid. Saat itu, keempatnya sempat naik ke lantai satu masjid untuk membongkar sarang tawon tersebut.

“Katanya sih mau bongkar sarang tawonnya,” ucap Neni.

Menurut Neni, pada saat kejadian, situasi di kampungnya kebetulan sedang sepi. Kebanyakan ibu-ibu, sedang mengikuti pengajian. Setelah serangan tawon berhenti, anak-anak kemudian sempat berkumpul di Posyandu, Rizki pulang ke rumahnya setelah dipanggil ibunya.

“Setelah pulang, Rizki langsung minta ke dokter karena sakit akibat sengatan tawon. Di kepalanya saja ada 8 lebih luka sengatan tawon, belum di badan, tangan dan kaki,” ujarnya.

Neni menyebutkan, selain dibawa berobat ke Puskesmas Bayongbong, Rizki sempat kasih obat-obatan tradisional seperti dibaluri dengan cabe. Namun, malam harinya juga sempat seperti mengalami demam dan gelisah.

Sementara, lanjut Neni, Armi menjalani pengobatan di Klinik Cisanca dan malam harinya sempat dibawa ke RSUD dr Slamet Garut hingga akhirnya meninggal di RSUD dr Slamet Garut.

Sementara itu, Rizki, membenarkan dirinya bersama tiga orang temannya sengaja membongkar sarang tawon tersebut. Ia pun mengakui, sudah menyiapkan kayu panjang untuk membongkar sarang tawon itu. Bahkan bukan hanya itu, ia juga sudah menyiapkan pelindung wajah yang dibuatnya dari kardus.

“Pas ada yang tembus (kardus), kardusnya langsung dibuka, langsung kena kepala (serangan tawonnya),” katanya.

Rizki mengaku masih merasakan pusing berat di kepalanya akibat serangan tawon tersebut. Selain itu, rasa panas juga muncul dari luka-luka sengatan tawon di seluruh tubuhnya.

“Padahal waktu itu pakai celana jeans, tapi tetap tembus (sengatannya),” katanya.


Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA