Solar di Garut Masih Langka, Penambahan Pasokan Belum Berdampak Signifikan

Daerah

Senin, 18 November 2019 | 20:41 WIB

191118204258-solar.jpg

Agus Somantri

Ketua Organda Garut, Yudi Nurcahyadi.


BAHAN Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Garut saat ini masih langka, khususnya jenis bio solar. Kelangkaan solar tersebut dikeluhkan oleh para pengusaha angkutan barang truk maupun kendaraan angkutan umum bermesin diesel seperti elf.

Dudi (37), salah seorang sopir elf antar kota dalam provinsi menyebutkan, dua hari yang lalu dirinya sulit mencari solar untuk bahan bakar kendaraannnya. Sehingga mau tak mau ia harus membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dexlite yang harganya dua kali lipat lebih mahal dari solar subsidi.

"Sekarang juga masih agak susah carinya. kalau beruntung bisa dapat," ujarnya, Senin (18/11/2019).

Menurut Dudi, di Garut kota dan sekitarnya saat ini hanya ada dua SPBU yang menjual solar, yaitu di SPBU Copong Jalan Sudirman dan di SPBU Ciateul Jalan Suherman. "Kalau untuk SPBU yang lain kayaknya kosong," ucapnya.

Dudi menyebutkan, biasanya setiap SPBU selalu ada kuota untuk BBM jenis solar. Namun beberapa hari terakhir ini terjadi kelangkaan sehingga dirinya cukup kesulitan. "Jadinya beli dexlite karena terpaksa dari pada tidak diisi sama sekali," katanya.

Hal senada diungkapkan Sigit Zulmunir (35), salah seorang pengusaha angkutan barang. Ia pun menyayangkan masih terjadinya kelangkaan solar di sejumlah SPBU di Kabupaten Garut.

Sigit menuturkan, bio solar susah dicari sejak dua pekan lalu, terutama di wilayah Garut Kota, Tarogong, Karangpawitan, dan sejumlah kecamatan lainnya. Menurutnya, kelangkaan bio solar tersebut tentu sangat merugikan karena ia terpaksa harus membeli BBM non subsidi jenis dexlite.

"Ya terpaksa mau tidak mau harus membeli dexlite. Jangan kan untung, jadinya nombok," ucapnya.

Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Garut menilai, meski pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi di berbagai daerah di Indonesia sudah dilakukan penambahan, belum berdampak signifikan, terutama di wilayah Priangan Timur.

"Masih terjadi pembatasan pembelian solar di SPBU untuk kendaraan angkutan. Meski Pertamina telah menambah pasokan solar subsidi, realisasi di lapangan belum berdampak signifikan," ujar Ketua Organda Garut, Yudi Nurcahyadi.

Menurut Yudi, hingga Minggu (17/11/2019) malam masih terjadi antrean kendaraan angkutan di beberapa antrean kendaraan yang ingin mengisi BBM jenis solar subsidi di beberapa SPBU di wilayahnya. "Semalam di SBPU Cisurupan, antrean masih terjadi. Jadi belum begitu terasa penambahannya," katanya.

Yudi menyebutkan, berdasarkan hasil rapat dengan Organda dan Himpunan Wirausaha Minyak dna Gas Bumi (Hiswana Migas) se-Priangan Timur, solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mencampur solar subsidi dengan jenis BBM lainnya, seperti Dexlite dan Pertamina Dex. Namun, lanjut dia, hal itu tentu saja memberatkan pengusaha angkutan.

Ia menuturkan, saat ini pengusaha berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi keberatan dengan pencampuran BBM subsidi dengan nonsubsidi. Sementara di sisi lainnya, mereka tak bisa begitu saja seenaknya menaikan tarif angkutan.

"Harga BBM jenis solar subsidi berada di kisaran Rp 5.000 per liter. Sementara harga BBM jenis Dexlite mencapai dua kali lipatnya. Pengusaha angkutan bisa saja menaikkan tarif angkutan, tapi nanti pengguna jasa berkurang. Yang terdampak juga akhirnya masyarakat," ucapnya.

Yudi menambahkan, seharusnya pemerintah dapat mengantisipasi kejadian ini sebelum akhirnya menjadi masalah. Dengan begitu, tak perlu ada kondisi yang tidak diinginkan. Apalagi, saat ini menjelang Natal dan Tahun Baru, yang dibutuhkan banyak persiapan angkutan.

"Organda se-Priangan Timur sudah bersepakat untuk melakukan aksi ke jalan, jika pasokan BBM jenis solar tak kembali normal hingga Desember. Meski sekarang memang sudah ditambah pasokannya, tapi tetap saja belum normal," katanya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA