Pengusaha Angkutan Barang Keluhkan Pembatasan Pembelian Solar

Daerah

Kamis, 14 November 2019 | 20:07 WIB

191114200915-pengu.jpeg

dok

ilustrasi


PARA pengusaha angkutan barang di Kabupaten Garut mengeluhkan kosongnya bio solar di hampir semua SPBU yang ada di Kabupaten Garut. Hal itu sudah terjadi selama hampir sepekan terakhir ini. Bahkan pada Selasa (12/11/2019), semua SPBU di Garut tak memiliki solar subsidi.

Sigit Zulmunir (35), salah seorang pengusaha angkutan barang mengatakan, akibat kelangkaan solar bersubsidi tersebut para pengusaha angkutan mau tak mau terpaksa membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dexlite yang harganya dua kali lipat lebih mahal dari solar subsidi.

"Harga dexlite itu sebesar Rp 10.200 per liter. Sedangkan bio solar cuma Rp 5.150. Kalau harus pakai dexlite, mana bisa dapat untung," ujarnya, Kamis (14/11/2019).

Menurut Sigit, sebelum solar menghilang, tiap SPBU menerapkan sistem pembatasan, yaitu setiap satu truk hanya diperbolehkan mengisi solar sebesar Rp 100 ribu, tidak bisa lebih dari itu. Kondisi tersebut, ungkapnya, berdampak terhadap beban operasional kendaraan. Pasalnya dalam satu hari, satu kendaraan bisa menghabiskan solar berkisar antara Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu.

Namun dengan kondisi sekarang, dengan tidak adanya solar subsidi, lanjut Sigit, biaya operasional yang harus dikeluarkan pun otomatis akan lebih besar mencapai antara Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu per hari, sehingga sangat memberatkan bagi pengusaha karena harus pakai nonsubsidi.

Jumlah tersebut, terang Sigit, untuk kebutuhan solar pengiriman barang di kawasan perkotaan Garut saja. Jadi jangankan bisa mendapat untung, lanjutnya, pengusaha bisa rugi besar karena harus nombok.

"Kalau konsumen kan tidak mau tahu, mereka menolak untuk menaikan tarif jasa angkutan. Mereka itu inginnya tetap harga yang biasa," ucapnya.

Sigit menyebutkan, selain biaya operasional yang harus dikeluarkan jadi dua kali lipat, kelangkaan solar ini juga berdampak terhadap naiknya suku cadang kendaraan. Saat ini, sejumlah toko onderdil sudah mulai menaikan harga barangnya.

"Banyak (toko onderdil) yang sudah menaikkan harga suku cadang. Sementara untuk pengusaha, jangankan naik, yang ada pendapatan malah semakin berkurang terus," katanya.

Sigit pun berharap, pembatasan solar ini dapat dikaji lagi oleh pemerintah. Terutama untuk kendaraan angkutan barang. Ia menilai, kebijakan yang diambil pemerintah ini sangat merugikan para pengusaha angkutan barang, khusunya di Kabupaten Garut.

Layangkan Surat
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Garut, Yudi Nurcahyadi, membenarkan adanya kelangkaan solar di setiap SPBU di Kabupaten Garut tersebut. Namun begitu, Yudi juga mempertanyakan karena kelangkaan solar subsidi sejak satu pekan ini hanya terjadi di wilayah Priangan Timur saja. Sedangkan di tempat lain masih tersedia.

"Benar, banyak anggota kami yang mengeluh karena sulit mendapatkan solar. Bahkan untuk bisa mendapat solar, mereka tak jarang harus mencari ke wilayah lain, seperti Kabupaten Bandung," ucapnya.

Yudi mengakui, hingga kini pihaknya belum mendapatkan alasan yang jelas terkait kelangkaan solar tersebut. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Organda se-Jawa Barat untuk menyikapi masalah tersebut. Menurutnya, permasalahan ini harus bisa segera diatasi agar tak merugikan masyarakat.

"Organda se Priangan Timur sudah layangkan surat ke Hiswana Migas. Intinya, kami ingin mengetahui alasan kelangkaan. Dalam waktu dekat akan rapat di Tasik soal masalah ini," ujarnya.

Yudi menyebutkan, dari informasi yang diterimanya, saat ini kuota solar di Garut sudah dikurangi. Dari kuota sebanyak 16 ribu liter per hari dipangkas menjadi 8 ribu liter. Akibatnya, SPBU membatasi pembelian solar.

"Kalau seperti ini terus, pelayanan publik akan terkena imbasnya. Bukan hanya untuk angkutan barang. Tapi juga angkutan umum," katanya.

Lebih lanjut Yudi menambahkan, berdasarkan data Dinas Perhubungan (Dishib) Kabupaten Garut, angkutan barang dan orang yang menggunakan solar mencapai 15 ribu unit. Saat ini, sebanyak 30 persen dari jumlah tersebut sudah mulai mengurangi operasional.

"Banyak yang takut mogok di jalan karena tidak ada BBM-nya. Jadi angkutannya banyak yang dikandangkan dulu" ucapnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA