Penyuap Wajib Bayar Tunai, Politisi Cina Ketahuan Penuhi Flat Uang Suap Ratusan Miliar

Crime Story

Kamis, 23 Januari 2020 | 16:22 WIB

200122161927-milia.jpg

dailymail

Seorang pejabat Tiongkok yang dituduh melakukan suap, korupsi dan bigami kedapatan menyembunyikan ratusan gepok uang kertas senilai 22 juta poundsterling atau tak kurang dari 392 miliar di flatnya. Uang tadi merupakan “jatah” proyek untuknya.

Uang tadi ditemukan berjejalan di brankas dan koper saat pihak berwenang menggerebek apartemen pejabat bernama Lai Xiaomin itu di Beijing. Politisi  berusia 57 tahun yang menjabat ketua dan Sekretaris Partai Komunis itu, bekerja di salah satu perusahaan manajemen terbesar milik negara.

Ratusan miliar.

Suap harus dalam bentuk uang tunai.

Tak diberitakan sejak penggerebekan dilakukan dua tahun lalu, apa yang ditemukan di flat Lai itu terungkap dalam tayangan dokumentasi kanal televisi pemerintah. Detail hasil rekaman CCTV tersebut ditayangkan baru-baru  ini.

Saat digerebek Lai menyebut perusahaan dan individu yang membayar suap melakukannya secara tunai. Uang diserahkan secara pribadi dan dikumpulkan di flat yang tidak didiami. Ia bahkan  membuat jalan memutar khusus menuju flat miliknya agar tidak ada yang mengikuti. Untuk menyamarkan alamat ia menamainya “supermarket” dalam nomor kontak.

Berjejalan dalam kabinet.

Lai Xiaomin.

“Aku menerima uangnya sendiri dan dan menaruhnya di sana, seperti ke supermarket saja. Tidak untuk tinggal,” katanya di depan kamera. Semua uang disusun dalam kabinet dan dianggap sebagai penghasilan tambahan partai.

“Aku tidak menggunakannya sepeser pun. Aku membiarkannya saja di sana. Pada akhirnya uang itu masuk untuk organisasi (Partai Komunis).  Apa gunanya memiliki begitu banyak uang yang saya tidak berani habiskan,” katanya. Laporan resmi juga menuduh Lai menerima sejumlah properti, mobil mewah, arloji mahal, emas, lukisan, dan karya seni kaligrafi.

Suap juga dalam bentuk dolar.

Lai yang berasal dari Jiangxi memulai karier di People's Bank of China pada Juli 1983. Laporan China Daily, ia memegang posisi kunci di Komisi Regulasi Perbankan China, badan yang dikelola pemerintah dengan tugas  mengatur sektor perbankan serta Biro Regulasi Perbankan Beijing.

Pada bulan April 2018, saat memimpin China Huarong Asset Management, Lai mendapat pengawasan dari badan engawas korupsi Beijing serta Komisi Pusat Inspeksi Disiplin (CCDI). Hasilnya Lai didakwa melakukan penyuapan, korupsi dan bigami pada Februari berikutnya.

Flat = supermarket.

CCDI mengungkap Lai  mengeksploitasi berbagai posisi profesional dengan tuntutan “keuntungan signifikan” sebagai imbalan untuk memberikan bantuan bagi perusahaan dan individu. Lai pun tinggal bersama wanita yang sudah bersuami saat masih terikat pernikahan.

Menyusul kasus ini Lai dipecat dari partai. "Kami telah menangani berbagai kasus di bidang keuangan, tetapi tidak ada satu pun pelaku dengan profil seperti Lai Xiaomin," kata Chen Qingpu, wakil direktur Kantor Pemantau Kader CCDI. Ia menyebut jumlah suap dan rincian kriminal Lai sangat mengejutkan.

Temuan sebelumnya berupa berton-ton emas batangan.

Presiden Cina Xi Jinping sendiri sejak 2012 meluncurkan kampanye anti-korupsi. Statistik menunjukkan setidaknya 53 pejabat  kedapatan menerima lebih dari 100 juta yuan atau Rp 196 miliar dalam tujuh tahun terakhir.

Akhir tahun lalu publik juga dikejutkan dengan temuan di kediaman Zhang Qi. Pejabat Partai Komunis berusia 58 tahun itu menerima 13,5 ton emas dan uang suap dengan total mencapai £30 miliar atau Rp   561 triliun. Sementara itu sidang Lai baru akan dimulai.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA