Mewujudkan Solidaritas Sosial

Citizen Journalism

Sabtu, 23 Mei 2020 | 22:58 WIB

200523220034-mewuj.jpg

ist

Foto penulis

SUDAH 3 bulan lamanya virus Covid-19 menempati Indonesia. Kedatangannya yang semula dianggap tidak berbahaya, kini menjadi ancaman terbesar bagi bangsa. Manusia yang semula bebas menghirup udara segar, sekarang berada di balik jeruji besi rumah. Dalam waktu singkat, entitas baru ini berhasil memegang kendali segala dinamika kehidupan.

Tentu saja virus Covid-19 menyerang secara bertahap. Metode yang dilakukannya ibarat serangan titan dalam anime "Attack on Titan", yang menghancurkan dinding besar milik umat manusia. Dari pertahanan terluar hingga yang terdalam. Pertahanan terluar yang dirobohkan oleh virus Covid-19 tentu saja "kesehatan". Caranya dengan melemahkan kesehatan manusia agar sewaktu-waktu bisa menyebabkan kematian.

Mengisolasi diri masing-masing menjadi pilihan terbaik sebelum keadaan semakin parah. Namun ternyata, pertahanan berikutnya yang bernama "ekonomi" ikut tumbang. Sebab adanya perintah physical distancing, membuat mayoritas masyarakat pekerja dirumahkan dan di-PHK. Alhasil, pengangguran merebak dimana-mana dan kemiskinan semakin merajalela.

Semakin tingginya angka kemiskinan, maka semakin tinggi pula angka kriminalitas. Dan angka kriminalitas yang membengkak inilah yang menyebabkan rontoknya pertahanan terdalam, yakni pertahanan sosial.

Mengutip teori modal sosial kebencanaan yang digagas Nuryana (2004), kondisi sosial Indonesia sekarang berada di antara keberfungsian sosial yang beresiko dan keberfungsian sosial yang maladaptif. Artinya, negeri kita sedang terjerembap di dalam krisis sosial yang cukup parah.

Hal ini bisa kita lihat dari menurunnya komitmen masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan. Orang-orang tidak lagi mengindahkan peraturan PSBB, yang tujuan pemberlakuannya untuk kebaikan bersama. Bosan, kata mereka. Lalu, bergegaslah ke pasar membeli baju untuk lebaran. Atau memilih bersesak-sesakan di McD Sarinah. Setelahnya, tak sedikit juga yang memenuhi ruas tol atau ruang bandara untuk mudik. Lebih parahnya lagi, masyarakat yang berperilaku seperti ini, lupa menggunakan masker dan menjaga jarak!

Selain itu, beberapa hari belakangan juga mulai marak kasus-kasus yang menunjukkan kurang empatinya beberapa teman kita kepada kawan-kawan yang tengah berjuang di garda terdepan Covid-19. Contohnya seperti pernyataan seorang YouTuber dan selebgram, yang meremehkan Covid-19. Ada juga yang menjadikan momen ini sebagai lelucon yang tidak lucu, dengan 'menjual keperawanannya'.

Rupanya, keinginan pribadi mengalahkan kepentingan bersama. Memilih berbuat seenaknya tanpa memikirkan pihak yang paling terdampak Covid-19. Memang benar, kalau ada yang bilang virus ini menelanjangi sifat asli manusia. Namun setidaknya, jangan sampai egoisme ini membuat kita gelap mata terhadap kondisi di sekeliling. Alih-alih seperti itu, lebih baik kita membangun ulang infrastruktur pertahanan yang kadung hancur tadi. Sebab kitalah yang menjadi penentu musnahnya Covid-19 atau tidak.

Sehubungan dengan hal ini, Organisasi Perburuhan Dunia (International Labour Organization/ILO) menyampaikan bahwa krisis di masing-masing negara bisa dihindari apabila ada strategi perlindungan sosial yang komprehensif. Tentu saja cakupan 'sosial' ini menuntut seluruh masyarakat tanpa mengenal perbedaan, untuk bersatu padu melawan Covid-19.

Modal Sosial
Dalam menghadapi bencana yang bersifat alam ataupun non alam, kekuatan sosial menjadi kunci utama menghadapi kerugian-kerugian akibat bencana. Daya tahan masyarakat akan menentukan keberlanjutan kehidupan pasca bencana. Ibarat diagram alir "input-process-output", maka modal sosial sebagai input sangat diperlukan untuk penanggulangan bencana yang efektif.

Modal sosial merupakan kondisi suatu komunitas dengan solidaritas yang kuat dan identitas yang terpelihara. Adapun elemen-elemen yang menunjukkan adanya modal sosial adalah: (1) kepercayaan (trust), (2) kohesivitas, (3) altruisme, (4) gotong royong, (5) jejaring, dan (6) kerja sama.

Menurut Sosiolog UGM M Najib Azca, Indonesia sendiri memiliki kekuatan modal sosial dan solidaritas sosial yang kuat. Hal ini ditunjukkan oleh Legatum Prosperity Index pada tahun 2019, dimana Indonesia menduduki peringkat kelima dunia dari sisi kekuatan modal sosialnya. Artinya, tidak mustahil bagi warga Indonesia untuk menghilangkan ego pribadi dan mengedepankan empati, guna mewujudkan solidaritas sosial.

Dalam praktiknya, masyarakat sepatutnya memanfaatkan modal sosial yang dimilikinya dengan menciptakan kondisi tertib-damai, misalnya dengan menghindari kerumunan banyak orang. Bagi mereka yang memiliki pendapatan berlebih, bisa ikut serta memberikan bansos untuk saudaranya yang membutuhkan. Jika perlu, masyarakat juga membantu otoritas dan aparat dalam kegiatan relawan bertajuk Covid-19 yang membutuhkan sumber daya manusia yang banyak.

Otoritas juga seyogyanya membuat kebijakan dan keputusan yang tegas dan keilmiahan agar memudahkan komunikasi ke segala pihak. Di lapangan, otoritas beserta aparat harus lebih tegas dalam mengingatkan masyarakat untuk mematuhi physical distancing. Pasar, warung makan, atau daerah rawan kerumunan lainnya, lebih diperketat lagi pengawasannya. Jangan lupa otoritas memberikan bansos ke masyarakat secara
menyeluruh guna menopang kebutuhan pokok.

Jangan sampai perjuangan mereka yang gugur menyelamatkan nyawa, menjadi suatu hal yang sia-sia. Ingat. Jadikanlah solidaritas sosial sebagai kunci utama dalam penyelesaian wabah Covid-19.

Terlebih lagi sekarang kita sedang lebaran, yang menurut Antropolog Amerika Clifford Geertz dalam bukunya The Relegious of Java, sebagai wadah yang mampu mengintegrasikan masyarakat dari berbagai latar belakang. Maka setelah lebaran, solidaritas ini tetap harus dipertahankan sampai wabah usai, bahkan kalau bisa sepanjang hayat. Karena kebersamaan dapat meringankan beban, sehingga memudahkan kita dalam menanggulangi bencana Covid-19.


Penulis:
Habibah Auni
- Mahasiswa Semester 8 Teknik Fisika UGM
- Kepala Departemen Pendidikan Perhimpunan Mahasiswa Cendekia (PMC)
- Puluhan tulisannya sudah tersebar di berbagai media massa nasional dan lokal
- ahniedogawa@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA