Menjemput Malam Lailatul Qadr

Citizen Journalism

Rabu, 20 Mei 2020 | 22:04 WIB

200520220750-menje.jpeg

RAMADAN merupakan bulan yang istimewa bagi seluruh umat islam.

Keistimewaan pada bulan suci Ramadan adalah bahwasannya seluruh umat Islam diwajibkan untuk berpuasa satu bulan lamanya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa".

Tidak hanya berpuasa, keistimewaan pada bulan suci Ramadhan adalah adanya malam Lailatul Qadr. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Qadr ayat 3, bahwasannya malam Lailatul Qadr adalah lebih baik dari pada seribu bulan.

Menurut pakar tafsir Quraish Shihab, makna seribu bulan pada ayat tersebut bermaksud untuk menyatakan banyaknya yang tak terhingga. Selain itu, malam Lailatul Qadr disebut juga sebagai malam kemuliaan, karena pada malam tersebut merupakan malam diturunkannya Al-Qur'an, pedoman bagi seluruh umat Islam. Turunnya Al-Qur’an merupakan cahaya dan menjadi petunjuk bagi setiap orang yang mengimaninya.

Oleh karena itu, malam Lailatul Qadr merupakan malam yang sangat dinantikan oleh seluruh umat Islam. Apalagi, pada malam tersebut merupakan malam ampunan, malam dimana para malaikat turun dengan izin Allah untuk mengatur semua urusan.

Meskipun begitu, tidak ada satupun yang mengetahui kapan turunnya malam Lailatul Qadr di setiap bulan Ramadhan. Mengingat waktu datangnya malam Lailatul Qadr tidak dijelaskan secara rinci di dalam Al-Qur'an.

Namun, sebagaimana keterangan Nabi SAW dalam hadits Imam Bukhari, bahwasannya Nabi meminta kita untuk mencari malam Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Ibunda kita, Aisyah RA menyampaikan dalam Hadits Imam Bukhari, bahwasannya "Dahulu Nabi SAW apabila telah masuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, maka beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya (H.R. Bukhari).

Dari hadits tersebut, kalau kita pahami lebih dalam bahwasannya Nabi SAW beribadah semaksimal mungkin pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.

Mengacu kepada hadits tersebut, ada upaya-upaya yang juga dapat kita lakukan agar mendapatkan malam Lailatul Qadr. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nurul Dzikri, bahwa ada beberapa cara untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr.

Pertama, menjaga shalat wajib berjama'ah terutama Shalat Isya dan Shubuh. Kedua, mendirikan shalat tarawih berjamaah. Yang ketiga yaitu memperbanyak membaca Al-Qur'an minimal seratus ayat semalam.

Keempat, memperbanyak do'a yaitu yang artinya, "Ya Allah sesungguhnya engkau adalah dzat yang maha pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah diriku".

Doa tersebut merupakan doa yang diajarkan Nabi SAW kepada Ibunda Aisyah RA. Cara mendapatkan malam Lailatul Qodar yang kelima yaitu memperbanyak muhasabah. Yang keenam memperbanyak dzikir di akhir tengah malam. Ketujuh yaitu membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah di malam hari.

Kemudian yang kedelapan berpenampilan baik, sebagaimana sunnah para ulama. Kesembilan, membangunkan dan mengajak keluarga untuk beribadah.

Dan yang terakhir adalah melakukan ibadah dengan penuh keyakinan dan hati yang antusias. Dengan demikian, beberapa cara tersebut apabila dilakukan dengan penuh harap dan keikhlasan tentunya akan menambah kualitas keimanan dan ketakwaan agar tetap semangat beribadah.

Meskipun bulan Ramadhan akan segera berakhir, semoga di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini kita mendapatkan kumuliaan malam yang istimewa yakni Lailatul Qadr, sehingga kita mendapatkan predikat orang-orang yang bertakwa sebagaimana diamanatkan Q.S. Al-Baqarah ayat 183.

Penulis Nabila Rahmah

Alumnus UIN Sunan kalijaga Yogyakarta

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA