Reinternalisasi Nilai-nilai Kebangkitan Nasional

Citizen Journalism

Rabu, 20 Mei 2020 | 13:25 WIB

200520132609-reint.jpg

SEJARAH mencatat bahwa 112 tahun lalu pernah lahir sebuah organisasi yang menjadi embrio pergerakan nasional, yaitu Budi Utomo. Setiap tahun kita peringati sebagai hari kebangkitan nasional. Hari dimana kita dipaksa untuk merenungi nilai-nilai yang diwariskan dari peristiwa tersebut.

Sejarah bukan hanya persoalan mengingat tanggal dan peristiwa apa yang terjadi. Tetapi yang menjadi urgensi adalah alasan dan nilai-nilai yang dapat dipelajari dari peristiwa tersebut.

Angka 112 tahun adalah umur yang sangat tua. Bukan saatnya lagi merenungi nilai-nilai untuk diimplementasikan.

Nilai-nilai ini seharusnya sudah sampai pada tahap terinternalisasi dalam diri setiap anak bangsa. Indonesia dalam pandangan saya terlalu banyak pengetahuan, tetapi sedikit penyadaran. Akhirnya yang terjadi adalah pengetahuan tersebut bermuara pada laut yang salah.

Indonesia begitu banyak kasus korupsi. Semua koruptor jelas berpengatahuan. Lalu, apa yang kurang? Orang tersebut kurang dalam hal kesadaran. Kesadaran bahwa ia berangkat dari rakyat, maka seharusnya sebuah kewajiban untuk membuat rakyat sejahtera.

Maka, momentum kebangkitan nasional hari ini adalah untuk mereinternalisasi nilai-nilai kebangkitan nasional seperti nilai religius, kemanusiaan, persatuan dan kesatuan, nasionalisme, serta musyawarah yang mulai salah dalam praktik.

Nilai-nilai tersebut sebenarnya sudah ditanamkan sejak dahulu. Namun, melihat masalah-masalah yang akhir-akhir ini menimpa Indonesia. Berarti ada yang salah dari hasil penanaman nilai. Maka dari itu harus ada reinternalisasi nilai-nilai kebangkitan nasional yang baik dan benar.

Pengirim:
Hadianto Harisma
Wakil Ketua I PMII UNSIL yang juga Ketua UKM Karate UNSIL

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA