Membumikan Literasi Media Sosial di Tengah Gelombang Pandemi

Citizen Journalism

Selasa, 19 Mei 2020 | 05:23 WIB

200519052414-membu.jpg

POPULARITAS media sosial berkaitan erat dengan menjamurnya smartphone yang terus meningkat. Alih-alih infrakstruktur yang semakin merata, yang konon sudah masuk ke pelosok desa, hingga pesatnya penggunaan internet di Indonesia.

Hal ini, pada akhirnya mendorong penetrasi internet, terutama dikalangan masyarakat. Bahkan We Are Social (2018) melaporkan, Indonesia menjadi pasar terbesar facebook dan negara ke-empat dengan penetrasi media sosial tertinggi di dunia.

Situasi ini, menunjukan kemampuan media sosial yang kini telah merasuki kehidupan masyarakat Indonesia. Misalnya, belakangan warganet yang sedang buming dijejali informasi mengenai pandemi Covid-19. Popularitas media sosial, juga dapat kita lihat saat Jakarta di nobatkan sebagai ibukota twitter, karena jumlah tweet memperoleh predikat tertinggi di dunia.

Sayangnya, penetrasi media sosial ini belum diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai, sehingga belakangan pengguna media sosial seringkali berimplikasi pada hal-hal yang berkonotasi negatif. Salah satunya adalah hoaks. Apalagi dimasa pandemi ini, saat semua orang berfokus menyelesaikan wabah Corona di negeri ini.

Tidak sedikit hoaks bertebaran di media sosial. Hal ini, bisa disebapkan karena unsur kesengajaan atau justru ketidaktahuan, yang disebapkan minimnya literasi media sosial. Peristiwa demikian, dapat berimplikasi menjadi masalah yang serius, apabila tidak segera ditangani dengan bijak.

Hoaks sendiri merupakan penipuan, kebohongan, yang dibuat dan disebarkan untuk kepentingan yang tidak baik. Wacana mengenai hoaks juga diinformasikan melalui fake news atau berita palsu. Hoaks seringkali menyerang tanpa memandang apapun, mengenai berbagai topik, seperti; agama, ras, ideologi, politik, bahkan menyerang sisi kemanusiaan. Seringkali informasi yang benar dan riil pada akhirnya tertutupi informasi hoaks.

Undang-undang ITE di Indonesia sudah dibentuk oleh pemerintah dan dapat menjerat siapa saja yang dengan sengaja menyebarkan hoaks. Akan tetapi, penekanan hukum saja tidaklah cukup untuk menanggulangi hoaks yang beredar.

Membumikan literasi media sosial bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi penyebaran hoaks di media sosial. Khususnya di situasi genting seperti saat ini.

Literasi media sosial, dapat dipahami sebagai kemampuan mengkritisi atau menganalisa informasi yang didapat dari media sosial. Tujuannya, agar informasi yang diperoleh dapat diidentifikasi untuk kemudian dicegah penyebarannya. Masyarakat haruslah diedukasi dan didorong agar memiliki kemapuan literasi media sosial yang baik.

Hal ini, agar dapat mengoptimalkan peran setiap orang dalam mengenali informasi hoaks yang belakangan banyak beredar, serta dapat menyaring informasi yang semestinya mereka konsumsi.

Salah satu sarana strategis ialah dengan meningkatkan sinergi antara lembaga-lembaga yang  berkempentingan. Termasuk dengan melakukan edukasi yang terus dilakukan, terutama terkait literasi media sosial kepada seluruh lapisan masyaarakat. Gerakan literasi media dalam konteks ini, perlu secara spesifik menyasar kepada media sosial.

Alasanya karena penetrasi media sosial di kalangan masyarakat kurang pemahaman mendalam, serta maraknya kasus hoaks. Setidaknya ada cara efektif yang dapat dilakukan melalui pemberdayaan individu dengan mengidentifiksi hoaks agar dapat meminimalisir penyebaran.

Oleh karena itu, membumikan literasi media sosial dipandang sangat penting di tengah penyebaran wabah pandemi covid-19. Masyarakat secara luas menggunakan media sosial untuk menyerap informasi yang positif. Karena penggunaan media sosial telah berkembang dan memberikan dampak yang besar pada segenap lapisan masyarakat Indonesia.

Hal ini juga dikarenakan media pembelajaran di sekolah-sekolah telah menggunakan basis internet. Tingginya penetrasi media sosial ini, setidaknya dapat mengurangi penyebaran informasi hoaks yang ada di tengah masyarakat.

Dengan adanya literasi media sosial yang berkesinambungan semoga berkontribusi mencegah tersebarnya informasi hoaks secara umum, dan dapat menjadi upaya menetralisir beragam dampak negatif hoaks yang beredar di masyarakat melalui media sosial. Pandemi covid-19 mestinya memberikan informasi yang mencerahkan bukan menyesatkan.


Pengirim:
Indra Gunawan
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
goenawanindra59@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA