Konsumtifkah Masyarakat Indonesia Saat Pandemi Covid-19?

Citizen Journalism

Senin, 18 Mei 2020 | 08:41 WIB

200518084249-konsu.jpg

PERTANYAAN ini akan terjawab jika kita terlebih dahulu menganalisis perilaku pembelian konsumen saat wabah virus corona menyebar ke seluruh negara di dunia saat ini khususnya Indonesia. Pemberlakuan aturan bekerja dari rumah, beribadah, beraktivitas dan tetap tinggal di rumah untuk keselamatan dan kesehatan warga akibat pandemi virus corona telah mengakibatkan perubahan perilaku pembelian konsumen.

Aktivitas menjadi terbatas dimana belanja pun dilakukan dari rumah. Pembelian online menjadi lebih sering dilakukan. Peluang ini tentu dimanfaatkan oleh toko online yang menawarkan berbagai hal untuk menarik konsumen seperti kemudahan berbelanja, promosi, diskon, bonus pembelian dan sebagainya.  

Kemudahan-kemudahan tersebut di satu sisi menguntungkan konsumen karena tanpa keluar rumah, kebutuhan mereka tetap dapat terpenuhi, tapi di sisi lain konsumen ‘tergoda’ untuk membeli secara berlebihan dan bahkan membeli produk yang tidak begitu dibutuhkan. Ini yang disebut dengan perilaku konsumtif.

Perilaku konsumtif adalah kegiatan membeli konsumen atas produk yang kurang diperlukan yang bertujuan untuk memenuhi keinginan bukan kebutuhan.

Nilai emosional menjadi salah satu pendorong kuat terjadinya perilaku ini. Terdapat unsur tidak normal di sini yaitu belanja berlebihan, tidak rasional, pemborosan, mengutamakan kesenangan, menunjukkan status sosial atau mengikuti tren. Mengapa konsumen berperilaku konsumtif?

Banyak faktor yang menyebabkannya di antaranya adalah pemberian hadiah dari pembelian produk, tujuan pembelian untuk penampilan atau status sosial, pembelian disebabkan kemasan yang menarik. Dari aspek ekonomi, masyarakat yang konsumtif dapat membantu menggerakkan perekonomian negara, misalnya membuka peluang usaha baru, membuka lapangan pekerjaan, menambah pendapatan pajak, menciptakan pasar bagi pemasar lama atau baru.

Perilaku konsumtif hanya bisa dilakukan oleh orang yang dianggap mampu secara finansial karena dengan pendapatan yang dimiliki maka aktivitas belanja yang tidak normal bisa terealisasi. Jadi perilaku konsumsi seperti ini sebaiknya dikurangi atau bahkan dihindari.

Berdasarkan perspektif pemasaran, tidak ada yang salah dengan perilaku konsumtif karena pada dasarnya setiap pemasar menginginkan setiap orang untuk berperilaku konsumtif, berbelanja sebanyak mungkin produk (barang atau jasa) yang ditawarkan pemasar.

Semakin banyak berbelanja dengan alasan apapun maka akan semakin meningkatkan pendapatan pemasar yang artinya bisa menciptakan keuntungan baginya. Namun kembali lagi kepada masing-masing konsumen dimana kita harus lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam berbelanja sehingga kita tidak terjebak dalam perilaku konsumtif di tengah pendemi ini. Bijaksanalah dalam berbelanja!


Pengirim:
Dr. Dita Amanah, MBA
E-mail : ditamnh@yahoo.com
Dosen Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Medan

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA