Merumahkan Anak, Meramahkan Pendidikan

Citizen Journalism

Selasa, 12 Mei 2020 | 09:14 WIB

200512091516-merum.jpg

SEBAGAIMANA yang kita tahu, kehadiran virus Covid-19 telah memorak-porandakan keteraturan negara. Kerapian sendi-sendi negara digilas habis dan dibuat sekacau-kacaunya. Sekarang yang tersisa hanyalah manusia dengan kemondar-mandirannya dalam kebingungan. Sembari menggigit jari, manusia memikirkan betapa dahsyatnya virus Covid-19 dalam menerkam dan mengoyak-oyak kenyamanan tiap pribadi.

Sektor pendidikan pun termasuk yang kena imbasnya. Sejak diterapkannya physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), segenap warga Indonesia diwajibkan untuk merumahkan dirinya sendiri, tak terkecuali guru dan murid. Akibatnya, pembelajaran dilakukan secara daring, sesuai Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020. Tentu ini menjadi tantangan berat bagi Indonesia yang selama ini sudah terbiasa dengan konsep pembelajaran di dalam kelas.

Sebelumnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) di ruang kelas berjalan padat dengan kurikulum yang sangat kaku. Sebut saja jenjang pendidikan SMA, beban kurikulum ada sebanyak 9-10 mata pelajaran sehari, yang mana memakan waktu kurang lebih 8 jam. Standar keberhasilan KBM diukur dengan jumlah pencapaian target kurikulum, total nilai dari tugas yang dikerjakan murid, dsb. Kendati demikian, pola pendidikan seperti ini sudah menjadi kebiasaan menjadi konsumsi sehari-hari guru dan murid.

Sekarang, kenyamanan itu dirombak secara paksa. Pembelajaran daring memiliki konsep dan dimensi ruang yang jauh berbeda dengan pembelajaran di ruang kelas. Dalam pembelajaran daring, guru tidak bisa mengawasi proses belajar murid secara utuh. Murid pun tidak bisa menjamin bahwa dirinya memahami pembelajaran secara paripurna. Ini pun baru perihal esensi pendidikan.

Belum lagi dengan hambatan utilitas dari pembelajaran daring. Sah-sah saja bila kita mengatakan pembelajaran daring bisa dilaksanakan untuk murid-murid yang tinggal di daerah perkotaan atau kawasan dengan sinyal internet yang bagus. Lantas, bagaimana dengan mereka yang tinggal di daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) atau wilayah susah sinyal? Tentu saja konsekuensinya lebih parah daripada yang dibayangkan. Artinya, metode pembelajaran daring tidak bisa merata untuk semua lapisan masyarakat.

Hal ini membuat diri kita seolah-olah hanya menggantungkan jantung pendidikan kepada teknologi. Padahal kita tidak bisa memaksa semua orang untuk pandai menggunakan teknologi. Teknologi seharusnya kita fungsikan sebatas fasilitas yang mendukung berjalannya proses pembelajaran. Sebagai akibatnya, teknologi membuat setiap individu memiliki ruang pendidikannya masing-masing. Terlalu menyelami polemik ini, akan berujung pada pembahasan yang kontraproduktif.

Mari kita ingat-ingat sebuah semboyan lama yang dikenalkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni “tiap-tiap orang jadi guru dan tiap-tiap rumah jadi perguruan”. Menurut Subekti (2015) dalam artikelnya yang berjudul Memaknai Kembali Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, semboyan ini menganjurkan gerakan “wajib belajar” sendiri dengan menjadikan rumah sebagai “perguruannya”.

Di rumah, pendidik utama adalah orang tua, karena mereka lah yang paling mengenal anaknya. Adapun di sekolah, guru lah pendidik utama karena setiap hari berinteraksi dengan murid-muridnya. Dalam konteks pembelajaran daring, sebaiknya rumah disulap menjadi dapur pembelajaran yang dipimpin oleh orang tua, dengan bantuan jarak jauh dari sang guru.

Terlebih lagi, kedua pendidik ini bisa saling bekerja sama dalam menggagas pembelajaran yang project based. Arsitek utama konsep pembelajaran ini adalah orang tua, karena mereka yang lebih mengetahui medan pendidikan di rumah (karakter anak, fasilitas teknologi, dsb.). Sesudahnya menyusun rencana pembelajaran, orang tua mendiskusikan hal ini kepada guru. Guru pun akan memberikan saran balik berupa kompetensi pokok yang harus dicapai oleh murid.

Alhasil, pembelajaran daring yang student-oriented ini akan mampu membumi se-nusantara. Konsep pendidikan yang menyenangkan ini, tidak lagi menjadi hal yang menakutkan bagi murid. Sebaliknya, murid akan merasa senang dengan wajah baru pendidikan daring ini. Sehingga pendidikan nantinya bisa inklusif dan mengikuti perkembangan zaman.  

Sekarang, Indonesia sudah memasuki fase kehidupan baru. Virus Covid-19 membuat kita memikirkan ulang perjalanan pendidikan kita selama ini. Selain itu, virus ini juga memaksa kita untuk “merumahkan anak, meramahkan pendidikan”, yang mana melahirkan embrio baru dalam dunia pendidikan!


Pengirim
Habibah Auni
Mahasiswa Semester 8 Teknik Fisika UGM
ahniedogawa@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA