Makin Runyam Banjir Ditengah Wabah

Citizen Journalism

Minggu, 10 Mei 2020 | 22:18 WIB

200510231315-makin.jpg

MUSIM hujan masih terjadi di Indonesia khususnya di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Hujan hampir terjadi setiap hari, hingga terjadi banjir setinggi 1,5 meter merendam Desa Sukadana, Kecamatan Cimanggung, KabupatenSumedang, Jawa Barat, Senin (30/3/2020) malam lalu.

Sedikitnya empat wilayah Rukun Warga (RW) dengan 300 kepala keluarga di desa ini terdampak banjir dan terpaksa harus mengungsi ke tempat lebih aman. (regional.kompas.com)

Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin ungkapan yang tepat. Sudah dilanda wabah korona pun ditambah permasahan banjir menerjang wilayah tempat tinggal.

Hingga detik ini permasalahan banjir belum mampu untuk tertuntaskan bahkan kondisinya selalu berulang. Siapa yang harus bertanggungjawab atas permasalahan ini?

Banjir yang berulang tidak lagi pantas kita sebut sebagai bencana alam karena sudah pasti ini disebabkan oleh manusia, karena tidak ada bencana langganan.

Ini juga bukan salah hujan akan tetapi bagaimana pengelolaan tata kota, ketersediaan dan keterjagaan saluran untuk air mengalir serta pengelolaan sampah yang diberlakukan. Terbukti belum ada solusi jitu yang mampu menyentuh akar permasalahan banjir ini.

Banjir di daerah Sumedang, khususnya cimanggung, akibat kerusakan dari hulu sampai hilir. Di hulu, banyak pembangunan gedung dan pabrik di bukit-bukit atau gunung geulis, milik perusahaan sehingga lahan penyerapan air berkurang, kemudian di hilir masalah saluran air yang tidak memadai, permasalahan sampah, dsb.

Maka, dibutuhkan solusi sistemik untuk menyelesaikan masalah banjir ini. Perlu peran besar dari negara mengelola, mengatur dan menerapkan aturan yang tegas.

Yakni diterapkan aturan Islam secara kaffah. karena Islam mengatur tentang pengelolaan hutan/bukit sebagai harta milik umum yang wajib dikelola pemerintah demi kesejahteraan rakyat, negara akan melarang gunung dan lingkungan untuk dieksploitasi demi kepentingan pribadi atau kapitalis, seperti hari ini, sehingga terjadi sikap tamak, rakus lingkungan/alam pun menjadi rusak.

Selanjutnya siapa yang kena imbasnya? Masyarakat kecil.

Penulis:
Muthi Nidaul Fitriyah

Jingkang, Tanjungmedar, Sumedang.


Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA