Sikap Mukmin Hadapi Corona, Antara Area Yang Dikuasai dan Menguasai Manusia

Citizen Journalism

Sabtu, 21 Maret 2020 | 18:09 WIB

200321181114-sikap.jpg

dok

ilustrasi

PENYEBARAN corona semakin meluas dan meningkat jumlahnya. Fenomena gunung es tampaknya bukan isapan jempol. Dampak yang ditimbulkan juga luar biasa. Bagai teror, wabah ini telah menimbulkan ketakutan warga.  Padahal ketakutan dan panik yang berlebihan sangatlah tidak diharapkan sebab dapat menimbulkan dampak ikutan.

Wabah ini tak dapat diatasi dengan tepat tanpa sinergi yang baik antara individu, masyarakat dan negara. Ketiganya harus berjuang bersama dalam menghadapi bencana dengan landasan yang sama dan satu, yakni ketaqwaan kepada Allah.

Bagi seorang muslim, yang beriman kepada Allah, tentunya harus senantiasa mengingat Allah. Memperkuat keyakinan bahwa Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Segala sesuatu yang Ia ciptakan wajib tunduk pada aturan-Nya.

Dalam hal virus corona, setiap mukmin wajib meyakini bahwa makhluk mikron tak kasat mata ini pun ciptaan-Nya. Dan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan qodarnya. Allah telah menciptakan api mempunyai qodar (khosiyat) membakar. Allah pun telah menciptakan virus dengan qodar dapat menjangkit pada inang hingga menyebabkan sakit. Allah juga telah menciptakan manusia dengan qodar memiliki akal untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Allah SWT dalam firman-Nya sering kali memperingatkan manusia untuk mnggunakan akalnya dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah lantas mengambil pelajaran darinya.

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan." (QS Al Ghosiyah:17-21)

Pun demikian di balik terciptanya wabah corona. Telah pasti bahwa manusia dengan kapasitasnya harus berupaya penuh memikirkan tentangnya, memetik hikmah di balik penciptaan corona. Bagi yang bukan ahli dan tidak memiliki kapastas untuk itu, tetaplah wajib membangun keimanan bahwa  corona, makhluk renik tak kasat mata itu pun menunjukkan tanda kebesaran Allah. Betapa dunia guncang , atas kehendak-Nya semata manusia tak berdaya di hadapan makhluk kecil. Manusia dewasa ini juga harus mengambil pelajaran bahwa dahulu, kesewenangan Raja Namrudz berakhir setelah tubuh sang raja tumbang oleh gigitan nyamuk. Maka hendaknya manusia menjadikan pelajaran ini untuk  mempertebal iman dan taqwa, memohon ampunan Allah dan kembali menerapkan aturan-Nya.

Adapun terkait dampaknya terhadap manusia, apakah dirasa baik ataukah buruk menurut manusia, seorang mukmin wajib beriman bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah semata. Maka, apakah corona menimbulkan kebaikan, ataupun keburukan menurut pandangan manusia, manusia wajib iman bahwa semua  berasal dari Allah.

Inilah prinsip yang harus dimiliki seorang mukmin, bahwa Allah telah menetapkan qodar atas segala sesuatu. Seorang muslim wajib mengimani bahwa qodar, baik dan buruk semuanya berasal dari Allah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqoroh 216)

Adapun tentang datangnya wabah atau suatu penyakit juga demikian. Semuanya adalah ketetapan (qodlo) dari Allah. Dalam hal ini seorang muslim wajib iman bahwa Allah telah menciptakan suatu penyakit, dan Allah pula telah menciptakan obatnya. 

Inilah hakikat iman kepada qodlo dan qodar, baik dan buruk berasal dari Allah. Dalam menyikapi hal ini, seorang mukmin wajib hukumnya untuk ridho terhadap segala ketentuan dan ketetapan dari Allah.

Ketika musibah penyakit itu melanda manusia, Allah memerintahkan manusia  ridho terhadap qodlo Allah dan menghadapinya dengan bersabar. Dan Allah memberikan balasan pahala yang besar bagi orang-orang yang bersabar.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innalillahi wainna ilaihi rojiuun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (TQS Al Baqarah:155-157)

“Sesungguhnya  (wabah) tha’un itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada orang yang dikehendakiNya. Kemudian Allah menjadikannya rahmat bagi  orang-orang yang beriman. Karena seorang hamba yang tinggal di negerinya yang tengah terjangkit tha’un, lalu ia bersabar dan mengharap ridho Allah, maka ia akan mendapatkan seperti pahala orang yang syahid.” (HR Bukhari)

Syara ‘ telah memuji  seorang  hamba  yang berserah diri terhadap  qadha, sebagaimana dijelaskan  dalam hadits dari Abu Hurairah. Sesungguhnya Rasulullah saw.bersabda kepadaku:

“Aku akan memberitahumu satu kalimat yang datang dari bawah 'Arsy dan dari gudangnya surga, yaitu, ‘ Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (kekuasaan) Allah’.  Allah berfirman, ‘Sungguh hamba-Ku telah tunduk dan berserah diri kepada-Ku.’” (HR Al Hakim)

Sikap ridho ataukah marah termasuk perbuatan manusia. Ini ada dalam area yang dikuasai manusia. Manusia dapat mengendalikan sikap dan perbuatan yang akan diambilnya, apakah ia hendak ridho ataukah marah terhadap qodlo Allah. Dalam hal ini , manusia akah diberi pahala atas perbuatannya yang ridho terhadap qodho dan sabar menghadapi cobaan, dan akan mendapatkan dosa dan siksa atas kemarahannya terhadap qodho.

Adapun terkait qodho itu sendiri, tidak termasuk dalam perbuatan yang dikuasai manusia. Manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban atas terjadinya qadha. Tetapi ia akan ditanya tentang dan marahnya terhadap qadha.  Dalam hal pandemi corona, manusia akan ditanya tentang ridho dan marahnya terhadap datangnya ketetapan Allah, juga hal apa saja yang ia lakukan terkait upaya pencegahan dan pengobatannya.

Upaya pencegahan yang berada pada area yang dikuasai seorang individu adalah dengan senantiasa menjaga sanitasi dengan sering mencuci tangan, menjaga kebersihan badan, tempat dan pakaian, menutup mulut dengan tangan atau baju saat bersin. Sungguh syariat Islam telah mengatur hal ini. Islam senantiasa menganjurkan muslimin menjaga kebersihan dan kesucian. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

“Bersuci itu separoh keimanan.” (HR. Muslim) 

Di samping menjaga kebersihan, upaya yang dapat dilakukan agar terhindar dari sakit corona adalah menjaga kebugaran tubuh. Sifat virus saat menyerang ia dapat mati ketika tubuh inang memiliki imunitas atau kekebalan tubuh yang tinggi. Imun akan kuat jika tubuh bugar. Oleh karenanya sangat dianjurkan untuk menjaga pola makan yang sehat, rajin berolah raga dan istirahat yang cukup ditambah mengkonsumsi asupan vitamin dapat meningkatkan kebugaran.

Sebagai sebagian ikhtiar yang dapat dilakukan adalah berjemur di bawah terik matahari pagi. Di samping dapat meningkatkan asupan vitamin D, sinar matahari juga dipercaya dapat membunuh covid-19.

Inilah setidaknya sebagian ikhtiar yang dapat dilakukan individu, selain mengindahkan anjuran mengisolasi diri, mengurangi interaksi  dengan banyak orang demi memutus rantai penularan dari orang ke orang.

"Rasulullah pernah bersabda: Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu." (HR Bukhari-Muslim)

Hal lain yang mesti dilakukan adalah meningkatkan taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah.  Senantiasa melaksanakan amalan yang difardhukan, meningkatkan amalan yang sunnah. Memperbanyak sholat, puasa, sedekah,doa,dzikir, istighfar, dan bermohon kepada Allah. Karantina mengurangi interaksi dengan orang lain tidak serta merta menjadikan aktifitas menuntut ilmu dan berdakwah ditinggalkan, sebab kemajuan teknologi menjadikannya bisa dilakukan secara online.

Dalam ikhtiar ini manusia akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah karena merupakan perbuatan yang berada pada area yang dikuasai manusia, manusia dapat memilih akan mengerjakan ataukah meninggalkannya. Di samping segala ikhtiar yang dilakukan, selebihnya seorang mukmin wajib bertawakal, menyerahkan dan menggantungkan segala urusan kepada Allah SWT.


Pengirim:
Saptaningtyas
Ibu rumah tangga di Palembang
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA