Lawan Covid-19 Dalam Praktik Kedokteran Gigi

Citizen Journalism

Selasa, 17 Maret 2020 | 12:33 WIB

200317093431-lawan.jpg

MASYARAKAT kembali dikhawatirkan dengan virus yang satu ini. Pasalnya, jumlah warga negara Indonesia yang diketahui positif covid-19 naik dengan sangat pesat. Dari hasil pemeriksaan tenaga medis Indonesia dan update yang dilakukan Universitas John Hopkins malam ini menyebutkan, sejumlah 134 kasus warga negara Indonesia positif korona, 8 pasien sembuh dan 5 pasien meninggal dunia.

Masa inkubasi dari virus ini memiliki rentang waktu cukup lama, yakni 14 hari. Keterbatasan alat diagnosis serta keterlambatan pemeriksaan memungkinkan jumlah warga negara Indonesia yang positif covid-19 baru dapat diketahui dekat-dekat ini.

Kewaspadaan masyarakat dan pemangku kepentingan pun mulai meningkat, dengan dikeluarkannya rilis sikap terhadap pencegahan dalam penyebaran covid-19. Sampai saat ini sudah banyak sekolah yang meliburkan muridnya mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas. Bangku perkuliahan pun terpaksa diberlakukan dengan sistem kuliah daring.

Media massa The New York Times menyatakan bahwa dokter gigi memiliki risiko tertinggi berhadapan dengan virus korona. Virus ini mampu menular melalui droplet air liur, dan seperti yang kita ketahui area kerja para dokter gigi adalah rongga mulut yang terdapat air liur di dalamnya. Cukup mengkhawatirkan bukan?

Untungnya, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) telah mewaspadai penyebaran infeksi covid-19. PDGI mempublikasi edukasi dalam bentuk infografis terkait standar operasional (SOP) dalam penerimaan pasien dengan keluhan gigi dan mulut menanggapi kasus korona saat ini.

Secara garis besar, terdapat dua prosedur utama, yaitu prosedur manajemen pasien dan manajemen ruang praktik. Dalam manajemen pasien, orang yang datang dengan suhu tubuh >37,3° maupun <37,3° dengan gejala infeksi covid-19 atau pasca bepergian ke luar negeri dengan kasus corona dalam 24 hari terakhir, perlu dilakukan penundaan dalam perawatan dan disarankan untuk cek laboratorium.

Manajemen ruang praktik kedokteran gigi dilakukan dengan desinfeksi. Desinfeksi bertujuan untuk memastikan ruangan praktik bersih dari bakteri maupun virus penyebab penyakit. Gagang pintu, lantai, meja dan kursi gigi harus dipastikan telah bersih setiap pasien datang.

Manajemen lain yang efektif mencegah penyebaran covid-19 adalah hand hygiene procedure. Hand hygiene atau mencuci tangan merupakan salah satu tindakan pencegahan penyakit yang paling mudah dilakukan oleh siapa saja. Dokter gigi dan seluruh tenaga medis wajib mencuci tangan 6 langkah dalam 5 waku, yaitu sebelum memeriksa pasien dan prosedur perawatan, serta sesudah memegang cairan, benda bekas perawatan dan pasien itu sendiri.

Alat pelindung diri (APD) kesehatan merupakan kelengkapan yang wajib digunakan oleh tenaga medis dalam memeriksa pasien. Penggunaan APD secara lengkap juga merupakan bentuk manajemen pencegahan covid-19. Dokter gigi dan asisten harus menggunakan alat pelindung diri yang lengkap, seperti jas dokter/asisten, masker, sarung tangan, kacamata pelindung dan penutup kepala.

Meski sudah diberlakukan kebijakan #dirumahaja oleh beberapa pemerintah daerah dan provinsi, namun rumah sakit dan klinik tetap ramai dikunjungi. Maka dari itu APD wajib dikenakan setiap tenaga medis, termasuk dokter gigi.

Masker yang menjadi salah satu komponen wajib penggunaan APD saat ini mulai mengalami keterbatasan stok. Hal ini sangat berbahaya tentunya bagi dokter gigi. Apabila masker tidak digunakan, maka risiko tertularnya penyakit atau lebih spesifiknya covid-19 akan semakin tinggi.

Upaya pemerintah dalam penangkapan para ‘penimbun’ masker sepertinya belum cukup efektif. Hal ini dapat dilihat pada ketersediaan masker di supermarket, apotek dan toko alat kesehatan lainnya yang masih ‘out of stock’ atau habis.

Kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat perlu dilakukan agar masyarakat pun dapat bijak dalam penggunaan masker. Membeli masker secukupnya dan digunakan pada saat-saat tertentu, misalnya saat sedang sakit. Karena ternyata penggunaan masker ini jauh lebih efektif jika dikenakan oleh orang-orang yang sakit, daripada orang-orang yang sehat.

Terkait kerja sama dalam melawan penyebaran virus corona lainnya, beberapa institusi dengan fakultas dan prodi kedokteran gigi telah meliburkan koas atau dokter gigi muda selama 14 hari. Lalu, bagaimana dengan dokter gigi di rumah sakit dan klinik? Tindakan perawatan gigi dan mulut di rumah sakit maupun klinik harusnya dibatasi.

Maka sebaiknya, pemerintah pusat atau daerah mengkaji kembali terkait perawatan dalam kedokteran gigi. Kemudian mengeluarkan surat edaran, agar dapat dipatuhi oleh seluruh pimpinan dan dokter gigi di rumah sakit dan klinik.


Penulis : Fita Fathya Iriana
Pekerjaan : Mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA