Corona; Benarkah Playing Victim Cina?

Citizen Journalism

Jumat, 7 Februari 2020 | 19:30 WIB

200207163140-coron.jpg

HINGGA detik ini korban virus Corona terus bertambah. Dunia.tempo.com melansir, Hingga hari ini, Minggu (02/02/20) dilaporkan sudah 304 orang meninggal akibat terinfeksi Corona di Cina. Jumlah korban terbanyak ditemukan di provinsi Hubei dengan ibu kota Wuhan.

Virus yang awalnya diduga berasal dari daging kelelawar ini, dibantah oleh seorang ahli perang biologi Israel, Dany Shoham. Dany adalah seorang mantan perwira intelijen militer Israel yang telah mempelajari perang biologi China. Ia mengatakan bahwa institut ini terkait dengan program senjata biologi rahasia Beijing.

"Laboratorium tertentu di lembaga ini mungkin terlibat, dalam hal penelitian dan pengembangan (corona), ini (senjata biologis) China." (the washington times)

Ia mengatakan penelitian pada senjata biologis merupakan bagian dari penelitian sipil militer. Ia bersifat sangat rahasia yang dilakukan China.

*Dugaan Playing Victim Menguat*
Beberapa indikasi menguat bagaimana China terlibat dan sengaja membiarkan publik menderita epidemi ini:

Pertama, Wang Qishan, Wakil Presiden Xi Jinping mengunjungi Wuhan secara diam-diam ketika sinyal pertama kali virus Corona sudah mulai merebak sebelum diketahui massal oleh publik Wuhan.

Kedua, Pemerintah China terlihat lambat dan acuh terhadap penularan virus saat sudah mulai banyak memakan korban warga Wuhan.

Ketiga, Pemerintah China menutup informasi atas fakta yang terjadi sebenarnya akibat virus Corona, dengan memberikan data yang tak sesuai dan lambatnya bantuan medis sampai pangan.

Keempat, Militer dan tim medis yang terbilang lamban dan tak seimbang dengan sesaknya Rumah Sakit yang dihuni korban, hanyalah publicity stunt dari pemerintah China, seakan terlihat responsif dengan epidemi ini.

Kelima, Mereka membicarakan tahun baru China ketimbang peduli isu Corona. Mereka membiarkan keadaan semakin mencekam terjadi di tengah publik kota Wuhan.

Keenam, Menolak bantuan WHO dan lembaga internasional untuk membantu meminimalisir penyebaran virus Corona. (truthseeker.id)

Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan seorang pengamat, bahwa munculnya Coronavirus ini bukanlah alami. Ada rekayasa genetika yang sengaja dilakukan terhadap strain virus yang sudah ada oleh China. Bila virus ada secara alami maka tidak akan muncul tiba-tiba, namun harus melalui proses evolusi dari strain virus yang sudah ada selama berpuluh tahun bahkan ratusan tahun untuk sampai pada bentuknya yang sekarang.

"Bagaimanapun kejadian buruk ini adalah tetap lahan bisnis bagi China untuk ambil keuntungan ekonomi dan atau lainnya," kata Adi Ketu.

*Pelayanan Prima untuk Kesehatan*
Dalam Islam, negara adalah pihak yang bertanggung jawab atas kesehatan rakyatnya.  Jangankan menggadaikan kesehatan rakyat sebagai tumbal bisnis, membiarkan hewan dalam celaka pun tidak akan sanggup dilakukan. Sebab sadar betul, kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Selain itu, syariat Islam tidak mengenal playing victim dalam mengurusi urusan rakyat.

Pemimpin dalam Islam adalah pelayan sekaligus pelindung. Ini sesuai dengan sabda Rasul saw:

"Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari).

Salah satu tanggung jawab pemimpin adalah menyediakan layanan kesehatan dan pengobatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya. Ini pernah dicontohkan oleh Nabi saw sebagai kepala negara.

"Sebagai kepala negara, Nabi Muhammad saw pun menyediakan dokter gratis untuk mengobati Ubay. Ketika Nabi saw mendapatkan hadiah seorang dokter dari Muqauqis, Raja Mesir, beliau menjadikan dokter itu sebagai dokter umum bagi masyarakat" (HR Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan; "Bahwa serombongan orang dari Kabilah 'Urainah masuk Islam. Mereka lalu jatuh sakit di Madinah. Rasulullah saw selaku kepala negara kemudian meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola Baitul Mal di dekat Quba'. Mereka diperbolehkan minum air susunya secara gratis sampai sembuh" (HR al-Bukhari dan Muslim).

"Saat menjadi khalifah, Umar bin al-Khathab ra, juga menyediakan dokter gratis untuk mengobati Aslam" (HR al-Hakim).

Pelayanan kesehatan secara cuma-cuma namun memberikan pelayanan yang memadai juga berkualitas, tentu membutuhkan dana yang besar. Pembiayaannya bisa dipenuhi dari sumber pemasukan negara yang telah ditentukan oleh syariah.

Kuncinya adalah terapkan syariah Islam secara menyeluruh. Hal itu hanya bisa diwujudkan di bawah sistem yang dicontohkan dan diwariskan oleh Nabi saw. Lalu dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan generasi selanjutnya, yakni Khilafah Rasyidah. Sistem seperti inilah yang harus diperjuangkan oleh seluruh umat Islam.

Wallahu a'lam bishowab.

Penulis : Mahdiah , S.Pd

Warga Kota Cilegon, Banten

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA