Bangun Bola Dunia Habiskan Lima Miliar Rupiah

Citizen Journalism

Jumat, 17 Januari 2020 | 13:44 WIB

200117133517-bangu.jpg

PEMBUATAN bola dunia di Bundaran Munjul di Jalan KH Abdul Halim, Kabupaten Majalengka dan penataan Alun-Alun Majalengka tidak lepas dari sorotan masyarakat. Tidak sedikit yang menyoroti besarnya anggaran yang digunakan dalam dua proyek tersebut.

Bupati Majalengka, Karna Sobahi mengungkapkan, pembangunan dan penataan sejumlah lokasi stategis di Kabupaten Majalengka tak lepas dari kritikan pedas dari rakyat.

Soal Bundaran Munjul yang berupa replika bola dunia, Karna menyebutkan hal itu dilakukan sebagai bentuk pembenahan agar lebih megah. Bila pada era Bupati Tuty bundaran Munjul bersimbol patung domba dan era Bupati Sutrisno dengan patung ikan, maka dengan dukungan dana dari Pemprov Jabar, Bundaran Munjul dengan ikon bola dunia yang lebih megah dibangun untuk memberikan spirit bagi Kabupaten Majalengka. Dana yang dihabiskan sekitar Rp 5,2 miliar. (Radar Cirebon, 7/1/2020).

Ironis, di saat kondisi rakyat hari ini sedang dilanda bertubi-tubi permasalahan ekonomi dan sosial, dana 5,2 miliar dihabiskan hanya untuk membuat bola dunia. Padahal banyak permasalahan di Majalengka sendiri, seperti masih terdapat 21 rumah tidak layak huni bagi masyarakat miskin, bangunan sekolah yang ambruk, masalah kesehatan stunting yang genting, masalah TKW , masalah ODGJ dan lain-lain.

Dalam Islam negara wajib memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Dalam hadis disebutkan, "Siapa dari kalian yang bangun pagi dalam keadaan hatinya aman/damai, sehat badannya dan memiliki makan hariannya maka seolah-olah telah dikumpulkan dunia untuk " (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, al-Qudha’i dalam Musnad Syihâb, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Îmân dan al-Humaidi dalam Musnad al-Humaidi).

Dalam hadis ini, Rasul saw. mengisyaratkan bahwa ketiganya yakni keamanan, kesehatan dan pangan, merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi sehingga tercapai kecukupan untuk menjalani kehidupan dunia. Ini menunjukkan ketiganya merupakan kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar dalam kehidupan individu dan masyarakat.

Islam telah mewajibkan terealisasinya jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok individu dan masyarakat. Islam memberikan serangkaian hukum syariah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, papan dan sandang bagi tiap individu rakyat dengan mekanisme langsung dan tak langsung; oleh laki-laki, keluarga, masyarakat dan negara.

Adapun terkait kebutuhan akan keamanan, kesehatan dan pendidikan, maka Islam mewajibkan negara untuk menyediakan semua itu bagi masyarakat. Hal itu ditunjukkan oleh banyak dalil.

Jaminan atas keamanan termasuk kewajiban utama negara. Negara wajib menyediakan keamanan dan rasa aman bagi seluruh rakyat. Negara kehilangan sifat entitasnya jika tidak bisa menyediakan keamanan dan rasa aman. Oleh karena itu, syarat Darul Islam adalah mampu menjaga keamanannya dengan kekuatannya sendiri. Karena itu Rasulullah saw., ketika memberitahu kaum Muslim tentang darul hijrah mereka, beliau menyebutkan keamanan pertama kali. Beliau bersabda kepada para Sahabat di Makkah, “Inna AlLâh ‘Azza wa Jalla ja’ala lakum ikhwân[an] wa dâr[an] ta`manûna biha (Sungguh Allah menjadikan untuk kalian saudara dan negeri yang dengan itu kalian akan merasa aman).”

Jaminan kesehatan dan pengobatan juga merupakan kewajiban Negara untuk seluruh rakyat. Klinik dan rumah sakit merupakan fasilitas publik yang dibutuhkan oleh rakyat dalam hal pelayanan kesehatan dan pengobatan. Dengan demikian pengobatan dan pelayanan kesehatan secara substansinya merupakan kemaslahatan dan fasilitas untuk rakyat. Hal itu menjadi kewajiban Negara sebagai bagian dari ri’ayah-nya terhadap rakyat. Sabda Rasul, “Al-Imâm râ’in wa huwa mas`ûl[un] ‘an ra’iyyatihi (Iimam/ khalifah/ kepala negara adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusan rakyatnya).” (HR al-Bukhari).

Ini merupakan nas yang bersifat umum tentang tanggung jawab Negara atas pelayanan kesehatan dan pengobatan karena hal itu masuk dalam ri’âyah yang wajib atas Negara.

Dalil khusus atas pelayanan kesehatan dan pengobatan adalah hadis yang menyatakan bahwa Rasul saw.—selaku kepala negara saat itu—pernah mengutus dokter untuk mengobati Ubay bin Kaab ra. (HR Muslim). Saat Rasul saw. mendapat hadiah seorang dokter dari Muqauqis, beliau menjadikan dokter tersebut sebagai dokter umum untuk seluruh kaum Muslim. Imam al-Hakim di dalam Al-Mustadrak juga meriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah mengutus dokter untuk mengobati Aslam. Masih banyak dalil-dalil lainnya.

Semua ini adalah dalil bahwa pelayanan kesehatan dan pengobatan termasuk kebutuhan dasar rakyat yang wajib disediakan oleh Negara secara gratis bagi rakyat yang memerlukan.

Adapun pendidikan, dalilnya adalah tindakan Rasul saw.—sebagai kepala negara—yang menjadikan tebusan tawanan perang dari kaum kafir adalah mengajari baca tulis sepuluh anak kaum Muslim. Tebusan termasuk ghanîmah yang menjadi hak seluruh kaum Muslim. Selain itu ada Ijmak Sahabat bahwa guru diberi gaji dari Baitul Mal.

Semua itu menegaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan pokok bagi individu dan rakyat sebagaimana ditunjukkan oleh hadis di atas. Seandainya dana 5 miliar tersebut bisa digunakan untuk kemaslahatan rakyat yang lebih mendesak, niscaya permasalahan yang dihadapi akan sedikit berkurang. Wallahua'lam bishshawwab.

Penulis: Tawati
(Penggerak Opini Islam)
[email protected]

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA