Natuna, Jangan Terlena

Citizen Journalism

Kamis, 16 Januari 2020 | 08:30 WIB

200116083322-natun.jpg

Puspen TNI

MASALAH Natuna kembali memanas. Setelah sejumlah kapal nelayan dan Coast Guard milik Cina melintasi laut Natuna tanpa izin. Hal yang membuat “greget”, pemerintah Cina bersikukuh bahwa negaranya tidak melanggar hukum internasional lewat Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS 1982). Malah dengan percaya diri, Cina mengklaim perairan Natuna bagian dari Laut Cina Selatan.

Alih-alih Indonesia beri gertakan atau peringatan pada kapal asing yang masuk wilayah ZEE tanpa izin, pejabat negeri ini malah menghimbau masalah Natuna ini jangan dibesar-besarkan. Bahkan, ada pula yang mengatakan bagaimana pun Cina adalah negara sahabat. Sungguh ironis.

Kita patut mempertanyakan, mengapa pemerintah sedemikian lunak kepada Cina? Padahal sangat jelas, kapal asing itu melanggar wilayah kedaulatan RI. Banyak pengamat menganalisis, sikap “manis” Indonesia kepada Cina karena tersandera hutang.

Sebagai sebuah negara yang berdaulat, semestinya negeri ini tanggap terhadap siapa saja yang hendak “mengobok-obok” perairan Indonesia. Karena bagaimana pun, tuan rumah tidak lah sama dengan tamu. Tamu harus tahu diri. Di perairan siapa ia berlayar?
Sebagaimana kita tahu, Cina memang investor di Indonesia.

Namun, Indonesia harus tetap bisa menegakkan kepala di hadapannya bukan malah terkesan melunak karena beban psikologis hutang. Di samping itu, Indonesia juga mesti waspada. Jangan sampai pihak-pihak  yang menabrak teritori Indonesia ini juga punya agenda terselubung, yaitu perampokan SDA. Terlebih, wilayah perairan Natuna-Kepulauan Riau ini menyimpan “harta karun” yang tak ternilai harganya.

Menurut Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Wisnu Prabawa Taher, cadangan gas bumi di Natuna sangat besar, mencapai 46 trilion cubic feet (TCF). Bukan hanya itu, potensi ikan di perairan Natuna juga menggiurkan! Wajar bukan, jika Natuna seolah menjadi “magnet” yang bisa menarik siapa saja karena kandungan alamnya yang menakjubkan.

Dalam paradigma Islam, menjaga sejengkal tanah air RI dari rongrongan negara asing menjadi sebuah keharusan. Karena memang Allah SWT yang telah memerintahkan demikian. Firman Allah SWT: “Dan sekali-sekali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS: An-Nisa: 141).

Terlebih, jika negara asing ini nyata-nyata menyerang kaum Muslim (muhariban fi’lan), maka kita tidak diperbolehkan mengadakan hubungan apapun kepadanya. Bukankah Pemerintah Cina itu melarang rakyatnya yang Muslim di Uighur-Xinjiang untuk salat, puasa, berhaji?

Bahkan, pemerintah Cina tidak segan menyiksa rakyat Uighur dengan siksaan yang biadab tersebab mereka hanya seorang Muslim? Nyata sudah, Cina memang negara muhriban fi’lan. Sehingga seharusnya kita tidak mengadakan hubungan apapun dengannya.

Oleh karenanya, kita tidak boleh terlena dalam masalah Natuna. Amat penting menjadi negara yang berdaulat. Sehingga tidak mudah disetir oleh kepentingan asing. Wallahua’lam.


Pengirim:
Aniyatul Ain
Tinggal di Tangerang
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA