Dakwah Sebagai Barometer Keimanan

Citizen Journalism

Kamis, 12 Desember 2019 | 06:04 WIB

191212060414-dakwa.jpg

dok

ilustrasi

SEBAGAI seorang muslim yang kaffah, tentu ia mengetahui bahwasannya akan ada kehidupan yang lebih nyata dari perjalanan yang sedang ia alami di dunia, tentu ia faham bahwa akan datang fase yang lebih berharga dari apa yang sedang ia jalaninya, tentu ia sadar bahwa dunia yang sedang ia arungi benar-benar fana dan ada akhirnya, tentu ia juga tahu tentang kalam-Nya:

 

“Padahal akhirat itu lebih baik dan kekal.” (Al-A`la:17)

Kekekalan akhirat tidak bisa dipungkiri lagi, apalagi bagi setiap mukmin yang benar dalam keimanannya, secara otomatis ia mengetahui apasaja unsur yang harus ia imani, ia akan yakin akan adanya Allah, percaya atas utusan-Nya, ia akan yakin atas isi dan kandungan dari kitab-Nya termasuk tentang kekekalan akhirat. Dari sanalah dapat menentukan langkah yang akan ia lakukan untuk menyempurnakan jalur kehidupannya. Apakah ia akan menjadi orang terdepan yang meyakini kebenaran atau hanya sebatas ikut-ikutan, apakah ia akan menjadi seorang yang taat, atau patuh sesaat atau bahkan bergabung dengan para pelaku maksiat.

Dalam memahami ayat tersebut bisa disimpulkan bahwasannya ada kehidupan yang harus diprioritaskan, kata harus disini bukan sebuah penawaran, tapi memiliki arti kewajiban, sehingga siapapun yang beriman ia akan melaksanakan keharusan tersebut, ia akan mendahulukan apa yang pantas didahulukan. Dan subjek dari semua ini terdapat dalam kata; Akhirat.

Ada banyak cara untuk menyempurnakan misi tersebut, baik dalam konteks wajib atau sebagai backing dari kewajiban, salah satunya dakwah.

Dakwah secara etimologi berarti menyeru, mengajak, memanggil. Secara istilah dakwah berarti menyeru kepada kebaikan. Mengajak teman untuk shalat berjamaah, itulah dakwah. Mengajak ayah berjamaah di mesjid, itulah dakwah. Menyampaikan bahwa riba itu haram dan mengajak untuk meninggalkannya, itulah dakwah. Mengajak teman untuk berhenti main judi, itulah dakwah. Karena Misi dari dakwah adalah Amar Ma'ruf Nahyi Munkar (Menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.) Apabila seseorang melihat bahwa ada sesuatu kebenaran yang harus ditegakkan maka ia akan menegakkan, apabila ia melihat suatu kemungkaran, ia akan mencegahnya, melenyapkannya, menyingkirkannya.

Seorang mukmin, memiliki peran penting dalam proses kelangsungan dakwah. Kenapa bisa ? Karena dakwah itu sendiri terikat atas tiga hal, yakni apa yang didakwahkan, siapa objeknya  dan siapa da'i atau pelaku dakwah tersebut. Tanpa ketiganya, tidak mungkin dakwah itu terjadi. Ada suatu kemunkaran yang harus dilenyapkan, tapi tak ada seseorang yang melakukannya, tidak terjadi dakwah disana.

Begitupun sebaliknya, dakwah memiliki peran penting dalam kehidupan seorang mukmin. Karena dari sisi inilah seorang mukmin dapat diukur kadar imannya, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW .

"Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak bisa (melakukannya), maka ubahlah (kemungkaran itu) dengan lisanmu, jika masih tidak bisa (melakukannya), maka ubahlah (kemungkaran itu) dengan hatimu, dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

Semangat berdakwah dimiliki oleh para pejuang, oleh para pemenang. Sebagaimana semangatnya Rasulullah SAW seseorang yang tak dapat diragukan lagi kadar imannya  dalam menyampaikan kebenaran saat kebodohan merajalela di masanya. Beliau meng-Esakan tuhan saat orang-orang di sekitar menyembah patung-patung yang tak terhitung jumlahnya.

Beliau dengan percaya diri menggendong putrinya ketika yang lain malu memilikinya, beliau rela diboikot tidak ada makanan tidak ada minuman, demi keteguhan hati terhadap kebenaran yang disampaikannya.

Dilempari batu dan kotoran, namun semua itu tidak sedikitpun menggoyahkan semangatnya dalam menegakkan kebenaran, tak sedikitpun melelehkan tekad bajanya dalam mengenyahkan kemungkaran. Itu semua karena iman, karena status beliau sebagai seorang mukmin. Ia yakin dunia ini hanya sebagai jembatan yang menentukan selamat-tidaknya dan yang paling penting karena kecintaan beliau terhadap tuhannya sehingga jalan dakwahlah yang ia pilih.

Lantas bagaimana dengan kita yang tidak memiliki jaminan surga ? Apa ia hanya menjadi seorang penonton dalam jalan dakwah ini ? Lalu dimanakah letak iman kita saat itu ? Padahal ladang dakwah itu selalu ada dan menunggu penyerunya. Apa iya kita layak disebut mukmin padahal kemungkaran merajalela di sekitar kita, kebenaran mulai terkubur dan mulai tak nampak wujudnya. Apa iya kita tega membiarkan kawan kita, tetangga kita, saudara kita atau bahkan orangtua kita  tenggelam di neraka padahal sebenarnya kita mampu menolongnya ?

Dakwah adalah bukti iman dan kesungguhan kita dalam beribadah. Keduanya saling keterkaitan, apabila kita mengaku mukmin maka berdakwahlah, karena dakwah adalah bagian dari ibadah. Jika kita sudah merasa maksimal dalam beribadah namun masih enggan untuk berdakwah, periksalah kembali ibadah kita, mungkin saja ada hal yang melenceng di sana.

Karena sejatinya, seseorang yang telah benar dalam beribadah ia yakin dengan jalan dakwahnya meskipun ia tahu resiko besar akan dihadapinya, jalan rumit harus dilaluinya, halangan rintangan akan ditemuinya tapi nyatanya kepercayaan tentang negeri akhirat dan balasan dari Allah SWT membuat dirinya tak ragu memilih jalan dakwah.

"Kalau bukan untuk mengabdi padaNYA, untuk apa saya hidup."

"Kalau bukan untuk berdakwah, untuk apa saya diberikan darah."

 

Pengirim:
Didah Pingdi Hamidah
Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah STEI SEBI
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA