Bencana, Kapan Berakhir

Citizen Journalism

Rabu, 11 Desember 2019 | 09:24 WIB

191211092447-benca.jpg

MUSIM penghujan yang dinanti-nantikan kini telah tiba. Banyak di berbagai daerah di Indonesia yang sudah diguyur hujan. Daerah yang sebelumnya mengalami bencana kekeringan kini sudah menghijau. Krisis air juga telah teratasi dengan datangnya musim penghujan. Bencana kabut asap pun kini sudah menghilang. Benar saja, hujan membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi seluruh penduduk bumi.

Tapi datangnya musim penghujan juga membuat was-was bagi sebagian daerah yang lainnya. Pasalnya musim penghujan juga membawa petaka. Seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung dll. Dan itu juga menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.

Dilansir dari Kompas.com,  Banjir bandang menerjang dua kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, Jumat (6/12/2019) malam. Dilaporkan ratusan rumah terendam banjir dan sejumlah jembatan putus. (Kompas.com 7 Desember 2019)

Selain itu, bencana tanah longsor juga terjadi di Kampung Cidadap RT 10 RW 02 Desa Muaradua Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (6/12/2019) sekitar pukul 20.30 WIB. Diketahui longsor terjadi saat hujan deras mengguyur Sukabumi sejak siang hingga malam hari. Hujan dengan intensitas tinggi ini memicu tebing tanah setinggi 4 meter dengan panjang 5 meter longsor. Pada peristiwa itu satu orang meninggal dunia, Aldan Maulana 14 tahun. (Kompas.com 7 Desember 2019).

Selain banjir dan tanah longsor, angin puting beliung juga kerap menyapa disaat hujan tiba. Seperti yang terjadi di Kendal. Sebanyak 40 rumah di desa Meteseh dan Trisobo Boja, Kendal, Jawa Tengah, rusak  karena angin puting beliung, Sabtu (7/11/2019). Menurut Maryo (45) warga setempat, angin puting beliung terjadi saat hujan turun deras, dan tiba–tiba ada suara angin kencang. Angin itu berputar dan menumbangkan pohon serta menerbangkan atap rumahnya. (Kompas.com 9 Desember 2019)

Dan masih banyak daerah lain yang mengalami bencana banjir, tanah longsor dan angin puting beliung seperti di Aceh, Belitung, jawa timur dan daerah-daerah lainnya. Padahal hujan baru turun beberapa pekan, tapi bencana alam sudah melanda di berbagai daerah di Indonesia.

Mari kita flash back kebelakang sejenak. Bencana silih berganti melanda negeri kita. Gempa bumi silih berganti, belum selesai penanganan di satu tempat, menyusul di tempat lainnya. Bencana kabut asap pun juga mewarnai sebagian besar wilayah Indonesia. Kekeringan juga melanda di berbagai daerah. Banyak daerah yang gagal panen akibat kurang air. Bahkan banyak daerah yang warganya kesulitan mencari air bersih.

Dan sekarang musim penghujan juga menjadi momok bagi sebagian daerah yang menjadi langganan bencana. Masyarakat pun menjadi resah dan tidak tenang, karena bencana mengintai setiap saat.

Mari kita merenung sejenak. Mengapa bencana datang silih berganti melanda negeri kita? Apakah ada yang salah dengan negeri kita? Ataukah ini hanya sekedar fenomena belaka?

Sebagai kaum muslim, kita berkeyakinan bahwa apa-apa yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah SWT. Ada campur tangan dari Yang Maha Pencipta. Termasuk bencana yang selama ini terjadi.

Ketika terjadi suatu bencana, ada 3 analisa mengapa bencana itu bisa terjadi. Pertama, azab dari Allah karena banyak dosa yang dilakukan. Kedua, sebagai ujian dari Tuhan. Ketiga, Sunnatullah dalam arti gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi.

Jika bencana dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa ini bisa saja benar, sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin (struktural maupun kultural) maupun sebagian rakyatnya. Perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan. Orang-orang miskin diterlantarkan. Serta banyak hukum-hukum Allah yang tidak dijalankan.

Maka ingatlah firman Allah:
 “Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra'[17]: 16).

Apabila dikaitkan dengan ujian, bisa jadi sebagai ujian kepada bangsa ini, khususnya kaum Muslimin agar semakin kuat dan teguh keimanaya. Sebagaimana firman Allah:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diujilagi?”( Al-Ankabut [29:2).

Akan tetapi, jika dikaitkan dengan gejala alam pun besar kemungkinannya, karena  bumi Nusantara memang berada di bagian  bumi yang rawan bencana seperti gempa, tsunami dan letusan gunung. Bahkan, secara keseluruhan bumi yang ditempati manusia ini rawan akan terjadinya bencana, sebab hukum alam yang telah ditetapkan Allah SwT atas bumi ini dengan berbagai hikmah yang terkandung di dalamnya.

Jadi, kalau kita bertanya kepada diri kita sendiri, "kapan bencana di negeri tercinta ini akan berakhir?" Kita bisa ingat firman Allah :
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. [al A’raaf/7 : 96].

Dari ayat tersebut jelas, agar negeri ini mendapatkan berkah, terhindar dari berbagai bencana, maka penduduk negeri ini harus meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah. Kembali ke aturan dan hukum-hukum Allah. Kembali ke sistem yang berasal dari Zat Yang Maha Pengatur.


Pengirim:
Aning ummu Hanina
Ibu rumah tangga dan Member Revowriter Nganjuk
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA