Pendidikan Lesu, Rezim Sibuk Mengalihkan Isu

Citizen Journalism

Senin, 9 Desember 2019 | 09:43 WIB

191209094739-pendi.jpg

dok

ilustrasi

KOMPLOTAN perampok sedang merekayasa pembakaran di suatu gedung. Di waktu yang bersamaan, tidak jauh dari lokasi pembakaran tim lain dari komplotan perampok tersebut menjalankan aksi menguras uang disuatu bank. Komplotan perampok ini memanfaatkan situasi ketika polisi dan masyarakat terfokus pada insiden kebakaran.

Komplotan perampok dengan segala perhitungannya menjalankan taktik  tanpa hambatan. Kuncinya ada pada kesuksesan "Pengalihan Isu".

'Pengalihan isu' memanglah taktik jitu. Taktik tersebut dimanfaatkan untuk mengontrol atau mengarahkan fokus massa pada situasi dan kondisi yang diinginkan sang pemilik taktik.

Taktik ini cukup bermanfaat, tak terkecuali untuk menyamarkan nyungsepnya kualitas pendidikan yang saat ini mendera Indonesia. Dengan memanfaatkan isu radikalisme, fokus masyarakat dialihkan pada isu tersebut.

Melalui pernyataan orang terpenting kedua di  RI , Ma'ruf Amin yang menyebutkan bahan pembelajaran yang terpapar unsur radikalisme terindikasi ada di tingkat Sekolah Dasar (SD), termasuk juga di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Ma'ruf menjelaskan, bahan-bahan pembelajaran radikal juga pernah muncul di soal-soal ujian di kalangan anak-anak sekolah (Tagar.Id 27/11/2019).

Tak main-main, isu radikalisme terus digaungkan oleh rezim sampai menyasar ke dunia pendidikan. Tidak ketinggalan pula para pendukung setia rezim ikut mengutuk radikalisme.

Tampak ganas ketika menyerang radikalisme, tapi disisi lain rezim justru hening ketika ditanya tentang kualitas pendidikan yang anjlok.

Hasil laporan Programme for International Student Assessment (PISA) kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371.

Sedangkan kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379.

Pada ategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396 (Kompas. 4/12/2019).

Bahkan nilai yang diperoleh Indonesia  berada dibawah negara tetangga, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.

Sungguh miris, ditengah merosotnya kualitas pendidikan, rezim sibuk membuang waktu dan tenaga untuk menjajakan isu radikalisme. Padahal radikalisme sendiri tidak jelas parameternya.

Hanya karena muatan materi yang diajarkan tentang jihad, khilafah, atau celana cingkrang, dengan serampangan menuduh guru, peserta didik dan bahan ajar terpapar radikalisme?

Tentu ini suatu kekeliruan besar. Jihad atau pun khilafah adalah bagian dari syariat islam, tidak ada yang bisa membantah itu.  Dan bagaimana bisa seseorang yang ingin mempelajari agamanya dituduh radikal? Ini nyata bentuk pengekangan terhadap rakyat.

Jadi radikalisme tidaklah nyata. Yang nyata itu penurunan kualitas pendidikan yang titik masalahnya tidak pernah berubah.

Masalahnya tak pernah jauh dari kurangnya dana untuk menalangi biaya pendidikan, yang bermuara pada buku pelajaran tidak memadai, guru yang tidak digaji selama beberapa bulan, kondisi ruangan kelas yang sebagiannya beratapkan langit, saat musim hujan tiba siswa terpaksa diliburkan.

Masalah pendidikan lainnya yang tak pernah ketinggalan ialah akhlak siswa yang semakin terkikis. Bukankah sudah tidak lazim di telinga kita berita tentang siswa membunuh gurunya karena ditegur, tawuran antar pelajar, narkoba, dan pergaulan bebas. Semua ini jelas mimpi buruk bagi pendidikan di negeri ini.

Asal dari semua mimpi buruk pendidikan tersebut adalah sekularisasi pendidikan. Sekularisasi ini hanya melahirkan preman-preman sekolah.

Teori Hukum Newton ditancap kuat dikepala siswa. Namun disisi lain pelajaran agama islam jamnya dijatah dalam skala kecil, belum lagi bahasan materi pelajaran tersebut mulai dibatasi rezim. Hasilnya, siswa boleh kaya secara intelektual, namun miskin dari aspek spiritual.

Sekularisasi dalam kehidupan bernegara juga menjadi biang keladi. Menolak penerapan syariat islam dalam kehidupan. Aturan yang diterapkan adalah aturan buatan manusia. Yang mana aturan ini sangatlah lemah, bahkan bisa ditawar. Tinggal menyumpal pihak-pihak terkait, para mafia bisa lolos dari jeratan hukum.

Lemahnya aturan yang  didukung pula oleh dana pendidikan yang memang sangat rawan menjadi 'ladang basah' bagi para koruptor, menjadi peluang tumbuh kembangnya para pencuri uang rakyat.

Berdasarkan data Indonesia Corruption Watch (ICW), dari 2005 hingga 2016 sebanyak 93 kasus korupsi terjadi di sekolah dengan kerugian negara sebesar Rp 136 miliar. Sebanyak 65 kepala sekolah dan 27 bendahara sekolah sudah ditetapkan menjadi tersangka korupsi (DetikNews. 11/07/2019).

Maka sudah sangat jelas, yang meracuni kualitas pendidikan kita bukan radikalisme, melainkan sekularisme. Sekularisme telah mengenyampingkan, mengangap remeh serta membuang agama sebagai aturan. Aturan yang diterapkan justru aturan yang dibuat oleh akal manusia yang lemah, tamak, dan tidak pernah bersih dari unsur kepentingan.

Sehingga tak perlu kaget ketika pendidikan di negeri kita ini kacau balau. Pendidikan dikomersilkan, pendidikan dijadikan ladang meraup materi oleh manusia serakah. Mengambil keuntungan dengan manfaatkan kekuasaan dan pengetahuan.

Padahal Allah sudah memperingati kita, bahwa satu-satunya pembuat hukum hanyalah Dia. Allah menjelaskan dalam firman-Nya:

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin?.” (QS. Al Maidah: 50).

Jika menerapkan aturan Allah sebagai solusi, maka mengapa kita mengambil yang lain?. Lagi pula kosekuensi keimana kita adalah tunduk dan patuh dengan perintah Allah. Ketika Allah telah menetapkan suatu hukum maka wajib bagi kita untuk terikat dengan hukum itu. Bukannya malah menerapkan sebagian lalu menolak penerapan syariat yang lainnya.

WalLahu 'alam bish shawab.

Pengirim:
Wulandari Muhajir
Mahasiswi FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA