Seekor Ayam dan Stunting

Citizen Journalism

Kamis, 5 Desember 2019 | 08:54 WIB

191205075839-seeko.jpg

BERDASARKAN Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, sekitar delapan juta anak Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan (stunting). Sebagaimana dilansir dari Tempo.Co, prevalensi stunting di Indonesia tergolong tinggi yaitu sebesar 30,8%. Itu artinya, setidaknya satu dari tiga anak Indonesia mengalami gagal tumbuh (stunting).

Angka ini diklaim pemerintah turun di tahun 2019 menjadi 27, 67%. Presiden sendiri menargetkan angka ini terus turun di tahun 2024 menjadi 14%. Ini disampaikan Presiden dalam acara Peresmian Pembukaan Kompas100 CEO Forum Tahun 2019, di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Pusat, pada kamis (28/11/2019).

“Lima tahun ke depan berada pada angka, kemarin dari Bappenas meminta targetnya 19%. Saya masih tidak mau, saya ngotot 14%,” tegas Jokowi.

Untuk mempercepat angka penurunan stunting, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memberi usulan agar setiap keluarga memelihara satu ekor ayam untuk mencegah stunting.

“Perlu, setiap rumah ada (memelihara) ayam, sehingga telurnya itu bisa untuk anak-anaknya,” kata Moeldoko di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Jumat (15/11).

Usulan ini didukung Mentan Syahrul Yasin yang akan melakukan koordinasi dengan kementrian terkait dan akan bekerja bersama dengan Menteri Perdagangan Agus Suprmanto. (CNN Indonesia).

Dikutip dari situs Kemenkes, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya di umur yang sama.

Penyebab stunting ini kurangnya asupan gizi yang diterima janin atau bayi, rendahnya tingkat kesehatan masyarakat serta sanitasi yang buruk. Kekurangan gizi kronis pada balita berdampak pada kehidupannya di masa yang akan datang seperti hambatan kecerdasan anak, menimbulkan kerentanan pada penyakit menular bahkan tidak menular, serta penurunan produktivitas pada usia dewasa.

Masih dari Tempo.Co, Indonesia tercatat sebagai negara keempat dunia dalam masalah stunting ini. Tentu hal ini sangat disayangkan dan menjadi ironi. Mengingat Indonesia adalah negeri yang kaya akan SDA. Negeri ini, “tongkat” dilempar saja sudah jadi tanaman, menurut sebuah lagu. Semestinya rakyat tidak kesulitan soal pangan.

Negeri Loh Jinawi ini begitu banyak menyimpan kekayaan alam baik di tanah permukaannya, maupun di perut buminya. Di hamparan datarannya, maupun di kedalaman samuderanya. Sebuah paradoks yang memilukan, stunting di Indonesia menjadi “juara dunia”.

Kita memang harus bekerja-sama memberantas stunting ini. Namun, jika hanya bertumpu pada gerakan nasional setiap keluarga pelihara satu ekor ayam akan pincang, apabila tidak dibarengi dengan pengaturan pengelolaan SDA yang lebih manusiawi oleh negara dan kemudahan mendapatkan lapangan pekerjaan untuk masyarakat. SDA Indonesia yang melimpah, janganlah dijual kepada asing karena sejatinya itu adalah milik rakyat. Hal ini sebagaimana pesan Nabi saw:

“Kaum muslim itu berserikat dalam tiga hal, air, padang gembalaan dan api.” (HR. Abu Dawud). Negara harus terdepan dalam mengelola SDA dengan penuh amanah.

Kemudian, hasil pengelolaan SDA tadi dikembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk jaminan kesejahteraan individu per individu. Selain itu, negara juga harus hadir dalam memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya.

Dengan mendapat pekerjaan, masyarakat memiliki pendapatan sehingga punya daya beli untuk memenuhi asupan gizi keluarganya. Penyebab stunting yang lain adalah rendahnya tingkat kesehatan dan sanitasi yang buruk.

Mengharap Indonesia terbebas dari stunting dengan makan telur ayam dari hasil peliharaan seekor ayam, namun tidak diiringi dengan kemudahan mengakses kesehatan dan sanitasi yang baik itu nonsense. Maka, negara lagi-lagi harus hadir (tidak boleh berlepas tangan) dalam memudahkan urusan rakyatnya. Dengan cara, memberi pelayanan kesehatan yang baik, gratis dan memadai, serta peduli pada urusan sanitasi dan kemudahan mendapatkan air bersih.

Dengan kepedulian negara kepada urusan rakyatnya, niscaya persoalan stunting dapat teratasi bahkan dicegah sedini mungkin. Wallahu a’lam.

Oleh: Aniyatul Ain, S.Pd

Profesi Pendidik

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA