Solusi Tuntas HIV/AIDS

Citizen Journalism

Selasa, 3 Desember 2019 | 09:53 WIB

191203095805-solus.jpg

HARI AIDS Sedunia kembali diperingati setiap tanggal 1 Desember. Hingar bingar  peringatannya pun dilakukan oleh negara-negara di dunia, termasuk di Indonesia. Seperti yang dilakukan di Lapangan Gazibu, Bandung, pada 1 Desember 2019. Acara diisi dengan pembuatan rekor pita merah MURI terbesar, oleh sekitar 4.000 orang, juga dilakukan pemeriksaan HIV, bakti sosial, dan hiburan. Tema nasional yang diambil yaitu “Bersama Masyarakat Meraih Sukses!”.

Meski setiap tahun, peringatan hari HIV/AIDS tidak pernah absen, namun nampaknya penurunan prevalensi HIV/AIDS masih hanya sebatas ilusi. Kita ketahui upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS saat ini bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030. Upaya tersebut antara lain tidak ada lagi ada penularan infeksi baru HIV, kematian akibat AIDS, dan stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Berbagai macam program ditelorkan, namun tak juga terwujud target yang diharapkan. Bahkan, justru prevalensi nya terus melonjak naik tak tertahankan. Yang membuat sedih, fakta menunjukkan bahwa penderita HIV/AIDS saat ini bukan hanya mereka yang beresiko tinggi, namun sudah mengancam mereka yang jauh dari publik. Contohnya di daerah Jawa Barat, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) mencatat, berdasarkan data per 2005 sampai 2019, jumlah kumulatif kasus infeksi HIV kurang lebih 36.000, dan 10 persen di antaranya atau kurang lebih 3.600 dari kelompok ibu rumah tangga (IRT).

Pertanyaannya bagaimana bisa IRT bisa terkena HIV/AIDS? Maka hal tersebut bisa dilihat bahwa saat ini sangat marak fenomena seks bebas. Perilaku “jajan” di kalangan bapak-bapak juga seolah menjadi perilaku yang patut dibenarkan. Bahkan, cukup sering kita disuguhi berita suami yang tega menjual istrinya demi menadapatkan sejumlah uang. Bahkan hanya sekedar untuk mendapatkan sensasi baru, ada yang melakukan threesome, yaitu hubungan intim bertiga. Sungguh tak beradab.

Belum lagi LGBT yang telah menjadi virus yang menyerang berbagai kalangan. Bahkan gay saat ini menjadi penyumbang nomer wahid dari prevalensi HIV/AIDS. Ada pergeseran juga media penularan HIV/AIDS. Dulu di atas 50 persen penularan lewat jarum suntik. Tetapi, sekarang lebih banyak melalui hubungan seksual. Di mana mengarah pada LGBT, hubungan sesama jenis. Ada juga ibu-ibu rumah tangga, biasanya karena dapat ‘kado’ dari suaminya

Pemerintah sendiri telah memiliki program khusus untuk mengatasi HIV/AIDS. Strategi Kementerian Kesehatan adalah akselerasi Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan atau disingkat dengan STOP. Pada tahun 2017, disebut sebagai strategi Fast Track 90-90-90. Suluh dilaksanakan melalui edukasi atau penyuluhan untuk mencapai 90 persen masyarakat paham HIV. Temukan dilakukan melalui percepatan tes dini agar tercapai 90 persen ODHA tahu statusnya. Obati dilakukan untuk mencapai 90 persen ODHA segera mendapat terapi ARV. Pertahankan yakni 90 persen ODHA yang ART tidak terdeteksi lagi virusnya.

Program tersebut seolah cantik, namun tak pernah bisa berhasil mencapai target. Tersebab, pencegahan untuk sek bebas saja seolah boleh asal aman maka diberikan solusi dengan sebutan “save sex”. Program “save sex” pun berakhir pada program “C” yakni memggunakan kondom untuk mencegah penularan infeksi. Padahal sudah banyak penelitian bahwa “C” untuk KB saja tingkat kegagalannya tinggi. Terlebih untuk mencegah infeksi virus yang ukurannya saja 300 kali lebih kecil dari ukuran sperma. Program ini sungguh menyesatkan. Pantas jika prevelensi HIV/AIDS tidak pernah turun tetapi justru terus melejit.

Demikianlah program jika dibuat tanpa mengindahkan agama. Agama dibuang begitu saja atas nama hak asasi manusia. Meski seks bebas jelas perbuatan yang tercela dan dilarang oleh agama, namun demi hak asasi menusia dilegalkan asal “aman”. “Aman” tentu menurut persepsi mereka. Dua kesalahan telah dibuat yakni jelas melanggar aturan Allah SWT kemudian menafikan objektifitas ilmiah bahwa “C” tingkat kegagalannya tinggi.

Selain itu, kampanye “C” justru menjadikan semakin meningkatnya seks bebas karena banyak yang menganggap bahwa kondom aman mencegah kehamilan dan penularan infeksi menular seksual. Pada faktanya, justru kampanye ini menimbulkan banyak permasalahan baru, misal kehamilan di luar nikah, aborsi, kematian remaja, dan yang pasti semakin banyak seks bebas baik dengan lawan jenis ataupun sejenis (untuk komunitas LGBT).

Oleh karena  itu, program ini sangat tidak layak untuk dikampanyekan. Dan program yang seharus-nya diopinikan adalah menganjurkan untuk melakukan seks hanya dengan pasangannya yang sah, yakni dalam ikatan suami istri.  Selain itu, sangat penting dikampanyekan larangan untuk berzina baik untuk pasangan yang belum menikah ataupun yang sudah menikah, karena telah jelas di larang dalam Islam sebagaimana dalam Q.S. Al-Isro 32.

Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah terinfeksi? Terapi ARV memang sangat diperlukan untuk penderita HIV/AIDS untuk menekan overload pertumbuhan virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Maka bagi penderita diperlukan adanya rehabilitasi (dikarantina). Tujuannya untuk menjamin terapi yang mereka dapatkan bisa optimal sekaligus memutus mata rantai penularan. Bagi ibu yang hamil dengan HIV positif juga mendapatkan penanganan agar tidak menularkan kepada bayi mereka.

Rehabilitasi ini juga sebagai bentuk pengurusan negara kepada penderita agar mereka mendapatkan hak untuk terapi yang optimal, mendapatkan hak untuk pendidikan dan berkarya. Selain itu, dengan rehabilitasi maka orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak akan menularkan virus di dalam tubuhnya kepada orang lain. Inilah bentuk penjagaan yang sempurna terhadap ODHA pun juga untuk masyarakat.

Selain itu, yang tak kalah penting yakni  sangat diperlukan hukum yang tegas untuk membuat cedera bagi mereka para perilaku seks bebas, LGBT ataupun pengguna NAPZA. Sebab, penyumbang terbesar prevalensi HIV/AIDS saat ini adalah dari perilaku yang rusak tersebut. Karena jika tidak, maka perilaku itu akan terus tumbuh subur di tengah masyarakat. Terlebih jika masyarakat sudah cuek dan permissif maka akan semakin merajalela perilaku tersebut. Maka sangat diperlukan adalanya kepedulian  semua pihak dalam bentuk kontrol masyarakat. Meski sebenarnya,  hukum masyarakat saja tidak cukup. Sangat diperlukan hukum yang tegas dari Negara, sebagaimana Islam memiliki hukum yang tegas bagi pezina sebagaimana dalam Q.S An-Nur 2-3.

Maka, menurunkan prevalensi HIV/AIDS hanya akan menjadi ilusi saja jika tetep menggunkan program yang lahir dari sekulerisme-liberal. Penyakit menular dan mematikan ini hanya akan bisa ditekan pertumbuhan dan perkembangannya jika semua tata aturan manusia dikembalikan kepada aturan dari Allah swt. Allah SWT telah melarang berzina dan melaknat tindakan yang menyerupai kaum nabi Luth. Allah SWT juga memberikan petunjuk sanksi yang tegas bagi mereka yang melanggar. Tujuan sanksi tersebut adalah selain menggugurkan dosa pelaku juga untuk mencegah perbuatan serupa di lakukan orang lain di sekitarnya (efek jera).

Demikianlah, tata aturan Islam sungguh sangat rinci mengatur kehidupan dari ranah pribadi, masyarakat dan negara. Lebih jauh lagi,  untuk bisa menekan prevalensi HIV/AIDS hanya bisa terwujud jika diterapkan secara menyeluruh bukan diambil secara parsial. Islam juga telah nyata bukan sekedar agama ritual tetapi sebagai agama yang memberikan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu A’lam bi showab.

Pengirim:
Ifa Mufida
Praktisi Kesehatan dan Pemerhati Kebijakan Publik
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA