Memutus Rantai Penyebaran HIV

Citizen Journalism

Minggu, 1 Desember 2019 | 07:20 WIB

191201052617-memut.jpg

ist

Foto penulis


TANGGAL 1 Desember tiap tahunnya diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Ini diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Adapun tema yang diusung pada tahun ini adalah "Ending the HIV/AIDS Epidemic: Community by Community." atau "Mengakhiri Wabah HIV/AIDS: Komunitas demi Komunitas." Setelah lebih dari 30 tahun, dunia berupaya mengakhiri wabah HIV/AIDS.

HIV Masih Menjadi Ancaman Mengerikan
Pada akhir 2018, ada sekitar 37,9 juta orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia, menurut WHO. Untuk Indonesia, tahun 2018 lalu, Program bersama Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk penanganan AIDS (UNAIDS) mencatat penyebaran HIV di Indonesia mencapai 49 ribu atau tumbuh 16 persen setiap tahunnya. Indonesia menempati posisi ketiga dengan pertumbuhan penyebaran HIV paling besar di antara negara-negara Asia Pasifik, menyusul Cina dan India. (Katadata.co.id, 3/12/2018)

Sementara itu, dikutip dari laman tagar.id (19/9/2019), situasi penyebaran HIV/AIDS di Indonesia seperti dilaporkan oleh Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019, menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang mendekati angka setengah juta yaitu 466.859 yang terdiri atas 349.882 HIV dan 116.977 AIDS. Ada lima provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi, yakni: DKI Jakarta (62.108), Jawa Timur (51.990), Jawa Barat (36.853), Papua (34.473), dan Jawa Tengah (30.257).

Laporan tersebut menunjukan penemuan kasus HIV/AIDS baru mencampai 60-70 persen dari estimasi kasus HIV/AIDS. Artinya, masih banyak kasus yang tidak terlaporkan. Kondisinya kian parah karena tidak semua warga yang terdiagnosis mengidap HIV mendapat terapi obat

ARV (antiretroviral). Dari 70 persen yang sudah pernah mendapat pengobatan ARV, hanya 33 persen yang rutin menerima pengobatan ARV, selebihnya putus obat ARV sebesar 23 persen. Dengan demikian HIV/AIDS masih menjadi ancaman besar bagi negeri ini.

Namun, WHO melaporkan bahwa pada akhir 2018, 79 persen orang yang hidup dengan HIV telah mengetahui status mereka. Dan pada orang yang telah menerima ART tersebut, 53 persen telah mencapai penekanan virus. Oleh karena itu WHO lantas merilis pedoman konsolidasi tentang layanan tes HIV. Dengan prinsip "Menyelamatkan nyawa dari HIV dimulai dengan tes." Demikian diungkap Rachel Baggaley, MD, MSc, ketua tim WHO untuk Pengujian, Pencegahan, dan Populasi HIV.

Pedoman baru ini dimaksudkan dapat membantu negara untuk mempercepat kemajuan mereka dan merespons secara lebih efektif terhadap perubahan sifat wabah HIV. Rekomendasi pedoman baru dari WHO ini yaitu adanya penggunaan self-tests. Juga penggunaan tes HIV berbasis jaringan sosial untuk menjangkau individu yang berisiko tinggi tetapi tidak memiliki akses yang memadai ke layanan tes HIV. Di samping itu WHO merekomendasikan untuk menggunakan tes cepat ganda HIV/sifilis dalam perawatan antenatal untuk menghilangkan penularan kedua infeksi dari ibu-ke-bayi.

Sayangnya, bila ditelisik lebih lanjut, semangat mengakhiri wabah HIV sebagaimana tema yang diusung masih tidak sejalan dengan upaya yang dilakukan. Tidak mampu menyelesaikan permasalahan HIV/AIDS secara tuntas. Rekomendasi tersebut hanya terfokus pada upaya pengobatan atau mengurangi tingkat keganasan virus yang telah menjangkit. Sama sekali tidak menyentuh persoalan bagaimana mencegah distribusi (penyebaran) HIV.

Telah lazim diketahui, penularan HIV terbanyak adalah melalui hubungan seksual, penggunaan alat suntik tidak steril dan penularan melalui perinatal. Adapun upaya yang pernah dilakukan untuk pencegahan penyebaran HIV adalah kondomisasi dan anjuran tidak menggunakan jarum suntik bersama-sama. Semua upaya ini bisa dibilang gagal, buktinya jumlah pengidap HIV/AIDS terus saja bertambah.

Islam Mampu Menuntaskan Persoalan HIV
Masalah HIV/AIDS ini adalah masalah sistemik, maka solusinya haruslah mendasar dan menyeluruh. Rekomendasi baru WHO berupa self test hanya mampu dalam menjangkau persoalan efisiensi dan kecepatan penanganan bagi orang yang sudah terinfeksi. Sedangkan kondomisasi justru membuka peluang makin leluasanya seks bebas, padahal hal itulah faktor utama penyebab penyebaran wabah HIV.

Sementara Islam, sebagai ajaran sempurna yang berasal dari Sang Pencipta, Islam menuntaskan perkara wabah HIV/Aids ini secara tepat dan menyeluruh. Mekanismenya dengan dua cara. Pertama, adalah Pencegahan. Aturan–aturan Islam sudah sangat jelas melarang semua tindakan yang menjadi penyebab tersebarnya virus HIV.

Upaya pencegahan penyebaran HIV adalah dengan melakukan pembinaan ketaqwaan sehingga umat terdorong untuk taat kepada Allah, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dengan sendirinya umat tergerak untuk menjauhkan diri dari faktor–faktor penyebab menyebarnya HIV tersebut. Misalnya, telah jelas dalam syariat Islam, seks bebas adalah haram, penyalalahgunaan narkoba juga haram, dst.

Atas dorongan keimanan, dengan sendirinya umat akan menjauhi perbuatan–perbuatan tercela tersebut. Maka menjadi tugas negara untuk menciptakan suasana keimanan melalui pendidikan formal maupun informal agar masyarakat terdorong taat syariat.

Kedua, adalah pengobatan. Langkah-langkah pengobatan yang dilakukan haruslah mengikuti prinsip yang sesuai dengan syariat. Antara lain, tidak membahayakan, tidak menggunakan bahan yamg diharamkan, memfasilitasi sarana dan prasarana pengobatan yang berkualitas dan mudah dijangkau. Sebab dalam Islam layanan kesehatan termasuk salah satu hal yang wajib disediakan negara bagi rakyatnya.

Hal ini tentu perlu didukung oleh pemerintah dalam menciptakan industri farmasi yang berkualitas, menyediakan tenaga medis yang handal, menyediakan rumah sakit atau tempat perawatan khusus bagi pasen yang menderita HIV/AIDS dengan segala fasilitas pendukung yang memadai. Selain itu juga perlu dilakukan rehabilitasi mental penderita dengan meningkatkan keyakinan, ketaqwaan dan kesabaran.

Tuntasnya perkara–perkara tesebut dangan Islam tentu saja memerlukan kesadaran penuh dari seluruh umat akan pentingnya penerapan syarat Islam dalam seluruh aspek kehidupan sehingga Islam dapat diterapkan secara komprehensif dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Wallahu a’lam.

Pengirim :
Saptaningtyas
Muslimah Peduli Generasi–Palembang
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA