Pemimpin Bijaksana, Jakarta Memesona

Citizen Journalism

Kamis, 21 November 2019 | 21:36 WIB

191121213800-pemim.jpg


DIPIMPIN Gubernur Anies Baswedan, provinsi DKI Jakarta kembali menerima penghargaan. Kali ini, provinsi ibu kota ini menerima penghargaan sebagai Provinsi Paling Memesona pada ajang Festival Pesona Lokal (FPL) 2019.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Angela Tanoesoedibjo kepada Kepala Bidang Seni Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta, Gumilar Eka Jaya.

Gumi menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta melalui Disparbud akan terus mengedepankan kolaborasi dengan komunitas maupun lembaga seni dan kebudayaan di Jakarta. (m.eramuslim.com, 20 November 2019)

Pengaruh Pemimpin Terhadap Wilayah

Jakarta yang semula menjadi kota metropolitan dengan berbagai kejahatan dan momok huru-hara. Kini telah bermetamorfosa menjadi tempat memesona. Bagaimana tidak, Jakarta telah susah payah ditata dengan rapi oleh pemimpin yang selalu dijadikan objek nyinyir netizen yang hanya punya pemikiran dangkal. Kesan pertama saat mendengar Jakarta, sebagian orang awalnya beranggapan seram. Saling sikut demi bertahan hidup.

Dan, demi mendapatkan fasilitas memadai dari pemerintah. Seperti, sembako gratis atau yang lainnya. Bazzar sembako tidak datang setiap hari kepada setiap warga yang membutuhkan. Lain halnya dengan sekarang.

Kini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberi subsidi kepada pekerja dengan gaji kurang dari sama dengan Upah Minimum Provinsi (UMP). Kartu Jakarta Pintar Plus (KJP Plus) untuk anak sekolah. Lansia diberi uang bulanan dan subsidi pangan. Sopir angkot digaji dengan adanya Jak Lingko.

Kok bisa?

Sebab, dengan tenaga, pikiran dan waktu yang dicurahkan oleh pemimpin yang baru menjabat dua tahun itu. Jakarta berhasil meraih prestasi. Unik. Sebab, biasanya ini diraih hanya oleh provinsi yang mempunya barisan bukit dan gunung. Atau minimalnya hamparan pantai berpasir putih nan cantik. Dilengkapi terumbu karang nan masih bersih. Alias jarang terjamah banyak orang.

Berbeda sekali dengan Jakarta. Tempat tertancapnya gedung pencakar langit. Rumah-rumah mewah. Hamparan sawah hijau pun sudah jarang ditemui. Serba keterbatasan.

Memang, Jakarta mempunyai destinasi wisata istimewa. Tapi ini klasik. Semua orang tau, Jakarta punya Monas, barisan museum dan secuil pulau kecil yang berpantai indah.

Kementeriannya Pariwisata Tak Salah Pilih

Predikat provinsi paling memesona yang diamanahi Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan tentu sudah menimbang dan memilih dengan seksama. Banyak indikator yang harus dipenuhi. Bila tidak, gagal gelar itu disematkan. Ah, mana mungkin DKI Jakarta bisa jadi paling memesona.

Kalau kita yakin, Jakarta berhasil meraih ini lewat kerja keras dan kekompakan. Tentu sepenuhnya kita percaya kinerja Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan bukan abal-abal. Apalagi asal bapak senang.

Salah. Jika menilai kementrian tidak objektif dalam bekerja. Ini pasti akan memberi rasa sakit hati kepada seluruh jajaran pariwisata dan kebudayaan.

Apalagi, kita semua tahu, yang memberikan penghargaan tersebut kepada Disparbud DKI Jakarta adalah wanita cerdas berpendidikan tinggi. Kuliahnya di luar negeri. Masa sih, salah menilai. Mustahil.

Tak sopan. Bila kita mengecap Ibu Angela Tanoesoedibjo begitu. Nanti beliau kecewa. Harusnya kita percaya penuh. Penilaian itu objektif.

Apa Kabar Media

Mendapat kabar ini, sepertinya banyak media yang masih belum bersuara. Seolah sepakat untuk bungkam. Apa kabar semua?

Ini berita baik lho. Kok diem-diem bae? Udah ngopi belum?

Berbeda dengan informasi yang menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Atau bahkan gosip-gosip unfaedah. Perceraian artis, cepat naik media. Muncul di hampir setiap channel TV. Artis mengedar narkoba dibebaskan dan penggemarnya girang gembira, diekspos.

Hiks, miris. Harusnya media cetak maupun online harus lebih gesit dalam memburu berita-berita baik. Agar menimbulkan semangat positif bagi Indonesia. Bukan malah memecah belah akibat mengkonsumsi informasi kurang faedah.

Oleh : Mia Kusmiati
Mahasiswa Asal Jakarta

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA