Percepatan EOR Jadi Tuntutan Serius Produksi Migas

Citizen Journalism

Jumat, 15 November 2019 | 21:14 WIB

191115210207-perce.jpg

studentenergy.org

ilustrasi


UNTUK meningkatkan kontribusi Migas dalam perekonomian nasional, maka percepatan "Enhanced Oil Recovery" (EOR) adalah tuntutan yang mendesak dan serius. Demikian antara lain terungkap pada Seminar IV Persatuan Insinyur Indonesia Bidang Keahlian Perminyakan dan Geotermal (PII BKTMG) di Gedung CRCS Kampus ITB, Jln. Ganeca, Kota Bandung, awal pekan ini.

Menurut Ir. Iin Arifin Takhyan, ME. IPU., peningkatan produksi dan cadangan minyak nasional membutuhkan iklim investasi, penerapan teknologi maju serta penyediaan SDM yang mumpuni. Dalam pengertian sederhana, EOR adalah metode dan teknologi yang digunakan untuk meningkatkan cadangan minyak pada satu sumur dengan cara mengangkat volume minyak yang sebelumnya tidak dapat diproduksi.

"Atas urgensi tersebut, stakeholder terkait termasuk pemerintah seharusnya lebih intensif dalam meningkatkan produksi dan kuantitas cadangan minyak, di antaranya lewat eksplorasi dan pengembangan ekstensifikasi dan intarsifikasi," ungkap mantan Dirjen Migas dan Ketua PII BKTMG (2004-2019) itu.

Sementara Ketua Baru PII BKTMG (2019-2023), Prof. Ir. Doddy Abdassah M.Sc., Ph.D., IPU, menyebut, dari segi jumlah, minyak yang telah ditemukan di ladang-ladang minyak (reservoir-reservoir) sebanyak lebih kurang 73 miliar barel. Sementara yang telah dihabiskan sekira 25 miliar
barel, dan efisiensi produksi kita di angka 34 persen. Untuk meningkatkan efisiensi produksi selanjutnya, diperlukan usaha dan teknologi tahap lanjut (advance) yakni EOR. Menurutnya, Indonesia pernah mencatatkan diri sebagai the biggest Thermal EOR produser di dunia.

Hal ini mengisyaratkan bahwa dari sisi teknologi, bangsa kita siap untuk menanganinya. "Percepatan penerapan teknologi EOR, jangan sekedar di tataran teori dan kebijakan. Saatnya EOR masuk ranah aplikasi dan tataran strategi dalam penerapannya," tegas Prof. Doddy yang juga Ketua Kelompok Keahlian Teknik Perminyakan.

Diakui Ketua Panpel Konvensi dan Seminar IV PII BKTMG, Prof. Ir. Asep Kurnia Permadi, M.Sc., Ph.D.,IPU, penerapan Teknologi EOR yang dituangkan dalam kebijakan pemerintahan Presiden SBY sejak 2012, mengalami hambatan dan kendala hingga saat ini.

"Dengan dilangsungkannya seminar yang fokus pada tema : Strategi Percepatan Implementasi Enhanced Oil Recovery di Indonesia serta konvensi yang mengukuhkan Ketua dan kepengurusan PII BKTMG (2019-2024), diharapkan segera mewujudkan upaya peningkatan kontribusi sektor MIGAS dalam perekonomian nasional," Ungkap Asep Kurnia Permadi yang juga Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB itu.

Mardjan Zen
Penulis mantan wartawan "PR"

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA