Pahlawan vs Penjajah

Citizen Journalism

Senin, 11 November 2019 | 19:20 WIB

191111192106-pahla.jpg

ist

Foto penulis


SETIAP tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Tanggal 10 November 1945 sendiri adalah terjadinya peristiwa Pertempuran Surabaya dimana pahlawan kita berperang melawan Penjajah Inggris dan Belanda.

Peringatan hari pahlawan bertujuan untuk mengenang jasa besar para pahlawan bagi bangsa ini. Ya, dengan pengorbanan mereka bangsa ini berhasil mengusir penjajah. Dengan pengorbanan waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa para pahlawan dengan gigih melawan penjajah yang ingin menguasaibangsa ini.

Dalam perspektif Islam, pahlawan dapat dimaknai sebagai orang yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh rido Allah semata. Maka pengorbanan para pahlawan akan berbuah pahala bahkan syahid dalam Islam.

Indonesia adalah negeri yang kaya, subur, dan makmur. Sejak dahulu potensi kekayaan yang dimiliki bangsa ini amat menarik perhatian termasuk bagi para penjajah. Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis, Belanda, dan Jepang tercatat pernah menjajah bangsa Indonesia karena ingin mengambil dan menguasai rempah-rempah yang dimiliki bangsa ini. Para pahlawan bersama rakyat dahulu berjuang keras untuk mengusir para penjajah tersebut.

Meski bangsa ini memiliki semangat ingin menghapus segala bentuk penjajahan di dunia sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, nyatanya penjajahan senantiasa berlangsung hingga saat ini. Dengan bentuk neoimperialisme atau penjajahan baru dengan bentuk modern yang tidak terbatas pada peperangan fisik namun dengan dampak yang lebih jangka panjang.

Saat ini anugerah limpahan kekayaan alam dan bonus demografi yang dimiliki bangsa ini adalah potensi yang menarik bagi neoimperialisme. Penjajahan yang dimotori oleh negara kampiun kapitalis Amerika Serikat, ingin menguasai dunia dengan ideologi sekuler demokrasi kapitalis. Atas nama demokratisasi AS bahkan masih menggunakan perang fisik memaksa suatu negri untuk tunduk pada kekuasaannya.

Di Indonesia, penjajahan ekonomi, pemikiran, dan budaya lebih terasa. Kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini sekarang mayoritas dikuasai pari kapitalis. Serangan liberalisasi pemikiran dan budaya makin parah menyerang generasi muda. Bahkan bonus demografi bangsa ini terancam dengan liberalisme.

Alih-alih produktif berkarya, justru kerusakan generasi akibat pergaulan bebas, narkoba, kekerasan, dan penyakit HIV/AIDS kian nyata. Maka perjuangan untuk membebaskan negeri ini dari cengkeraman neoimperialisme dan neoliberalisme amat dibutuhkan.

Masyarakat harus segera menyadari berbagai bentuk penjajahan modern yang ada di sekitar bahkan mengancam masa depan bangsa ini. Selanjutnya kita harus sama-sama meneladani daya juang para pahlawan terdahulu untuk melawan penjajah. Agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Tentu dengan menerapkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.


Titis Afri Rahayu
- Ibu dan Pendidik dari Cirebon
- Email : [email protected]


Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA