Dampak Covid-19, Sektor Usaha Fiber Optic Terkena Imbasnya

Bandung Raya

Sabtu, 23 Mei 2020 | 13:13 WIB

200523131331-dampa.jpeg

ist

Boris Syaifullah

PANDEMI Covid-19 telah melumpuhkan perekenomian di Indonesia. Terlebih setelah pemerintah memberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Akibatnya, sektor usaha fiber optic pun terkena imbas dari pandemi ini. Hal ini diungkapkan Ketua Apanatel Jabar, Boris Syaifullah.

"Pandemi Covid-19 berdampak pada sektor fiber optic karena bidang usaha yang dijalankan merupakan penyangga telekomunikasi. Hal ini terjadi karena pemerintah membatasi aktivitas bisnis dan aktivitas sosial sehingga berdampak pada keterlambatan pasokan bahan baku serta penyaluran produk kepada konsumen," ujar Boris saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (23/5/2020).

Boris menambahkan, saat ini sejumlah perusahaan fiber optic pun mengubah pola berbisnis demi mempertahankan aktivitas bisnisnya. Boris yang juga CEO dan Presdir PT. Borsya Cipta Communica mengungkapkan, kebijakan work from home (WFH) dan virtual meeting bagi perusahaan fiber optic kurang begitu efektif.

Menurut dia, itu terjadi karena produk yang dihasilkan berdasarkan padat karya. Perusahaan memberikan instruksi kepada karyawan yang berada di posisi krusial untuk mendukung bisnis perusahaan tetap dapat bekerja sebagaimana mestinya dengan fleksibel.

Lebih lanjut Boris menuturkan, dalam kondisi yang serba sulit akibat pandemi Covid-19, tidak menutup kemungkinan beberapa perusahaan melakukan efisiensi. Yang paling ekstrem, perusahaan bisa memberhentikan karyawannya atau PHK.

"Apnatel Jawa Barat selaku induk organisasi mengharapkan anggota tidak melakukan PHK. Hal ini untuk membantu pemerintah mengurangi angka penggangguran," tutur Boris.

Salah satu perusahaan anggota Apnatel Jabar yang tidak melakukan PHK yaitu PT. Borsya Cipta Communica, perusahaan asal Kota Bandung. Menurut Boris, selama pandemi ini aktivitas bisnis berjalan seperti biasanya.

"Kami mengutamakan padat karya sehingga karyawan tetap dipertahankan tetapi tanpa mengesampingkan prosedur kesehatan sesuai arahan pemerintah mengenai penanganan Covid-19 ini," tandasnya.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 di Indonesia sudah berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Berdasarkan data per 22 Mei 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, telah terkonfirmasi 20.796 kasus positif Covid-19 dengan 14.413 kasus aktif, 5.057 kasus sembuh dan 1.326 kasus meninggal.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA