Terowongan Nanjung Diresmikan, Bupati: Ada Percepatan Surut dan Pengurangan Luas Terdampak

Bandung Raya

Rabu, 29 Januari 2020 | 18:14 WIB

200129173639-terow.jpg

humas kabupaten bandung

PRESIDEN Joko Widodo meninjau dan meresmikan Terowongan Nanjung di Curug Jompong Kecamatan Margaasih, Rabu (29/1/2020). Dilanjutkan dengan Penandatanganan Kontrak Hasil Tender Dini Tahun Anggaran 2020 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta penanaman di DAS Citarum Kawasan Curug Jompong.

Bupati Bandung H. Dadang M. Naser mengatakan, pembangunan terowongan kembar tersebut berdampak cukup signifikan dalam pengendalian banjir Bandung Selatan.

"Terowongan dan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir, tidak berarti menghilangkan banjir sama sekali. Genangan tetap ada, namun terjadi percepatan surut dan pengurangan luas terdampak," ucap Bupati Dadang Naser.

Beberapa tahun ke belakang Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah dan Bojongsoang, terendam seluas 490 hektar (ha). Setelah beberapa pembangunan dilakukan, termasuk terowongan, saat musim penghujan ini wilayah tersebut tergenang seluas sekitar 80 hektar.

"Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan, tahun lalu sekitar 159 ribu kepala keluarga (KK) terdampak. Saat ini tercatat sekitar 77 ribu yang terdampak. Dan semalam kami meninjau ke posko pengungsian di Gedung Inkanas Baleendah, tidak sepadat tahun lalu," terang bupati.

Dinamisasi banjir tahun ini, tuturnya, juga berbeda dengan tahun kemarin. Ia menyebut, ada pengungsi yang lima hari bulak balik ke rumahnya dan tidak menetap di pengungsian.

"Banjir dan surut silih berganti. Di area cekungan bandung hujannya kompak. Kota Bandung, Cimahi, Sumedang, sebagian wilayah Garut, termasuk kawasan Gunung Wayang juga hujan merata. Ini mengakibatkan penampang Citarum berat," tutur orang nomor satu di Kabupaten Bandung ini.

Lebih jauh Dadang menjelaskan, konsep awal pembangunan terowongan tersebut, adalah mempercepat aliran air Sungai Citarum saat musim hujan. Dan menjaga genangan tetap ada dari Curug Jompong sampai Baleendah.

"Biasanya saat hujan banjir dan saat kemarau air tidak ada, karena semuanya mengalir. Terowongan ini fungsinya mengendalikan air di dua musim itu," jelasnya pula.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung juga telah melakukan upaya untuk mendukung program pengendalian banjir Bandung Selatan tersebut. Antara lain dengan membebaskan lahan untuk memunculkan kembali situ yang hilang.

"Situ Kamojang yang dulu sudah dimiliki masyarakat dan bersertifikat, kami beli seluas 10 hektar. Kemudian kita beli seluas 4 hektar lebih, nyaris 5 hektar, yaitu situ atau kolam retensi yang ada di Cidawolong Biru Majalaya. Satu lagi Cikasungka Soreang di untuk mendirikan cincin, kita sudah belanja lahan seluas 3,5 hektar. Mudah-mudahan bisa sampai 4 atau 5 hektar," tambah pria yang akrab disapa Kang DN ini.

Upaya tersebut direspon PUPR untuk pengerjaan fisiknya. Sementara pengerjaan yang akan diselesaikan di tahun 2020 ini adalah Kolam Retensi Andir.

"Saya minta, bukan sekedar kolam retensi, tapi indanau. Sekalian jadi cadangan air baku sebagai persiapan musim kemarau, baik untuk wilayah abupaten Bandung sendiri, maupun Kota Bandung, Cimahi dan sekitarnya," pungkas Kang DN.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA