Lewat Karya Ilmiahnya, Daffa Rial Raih Medali Perak YASH di India

Bandung Raya

Kamis, 23 Januari 2020 | 20:31 WIB

200123203220-lewat.jpg

ist

SISWA kelas X MIPA 1 SMA Al Ma'soem, Muhammad Daffa Rial (16), meraih medali perak pada kegiatan Youth Activivities for Superior Humanity (YASH) di New Delhi India, 16-18 Januari 2020. Prestasi itu diraih Daffa lewat karya ilmiah berjudul "Design of a Pulse Rate Detection Monitoring System Using Electric Piezo Disc Sensor Based on Lot".

Daffa sukses meraih prestasi bersama seorang siswa SMAN 3 Kota Bandung sebagai perwakilan asal Indonesia. Mereka berprestasi di tengah ketatnya persaingan. Ajang itu diikuti oleh 80 tim peserta dari sejumlah negara, di antaranya India, Nepal, dan Rusia. Sebelum ajang itu, Daffa sempat mengikuti kegiatan pendidikan di Malaysia, Singapura dan Thailand.

YASH yang berada di bawah Mitra Foundation for Global Science Initiatives (FGSI) kerap melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, sains, dan inovasi yang bertujuan untuk mendorong pemikiran kreatif kaum muda. Di YASH, Daffa membuat alat kesehatan untuk pemantau kondisi pasien melalui denyut nadi yang ditempel pada bagian tubuhnya.

Daffa memperkirakan, alat kesehatan pemantau kondisi pasien melalui denyut nadi yang dipadukan dengan ilmu komputer itu merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan secara internasional.

"Alat kesehatan itu khusus untuk memantau denyut nadi disaat pasien sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit," kata Daffa kepada wartawan di lingkungan SMA Al Masoem, Jalan Raya Cipacing, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Kamis (23/1/2020).

Daffa mengatakan, alat kesehatan pemantau pasien melalui denyut nadi itu bisa diakses melalui handphone, komputer dan peralatan komunikasi lainnya. Dengan adanya alat itu, ketika dokter ada di luar ruangan maupun di luar daerah bahka luar negeri, tetap bisa memantau perkembangan denyut nadi pasien.

"Dokter atau perawat yang sedang menangani pasien di rumah sakit, disaat tidak ada di ruang pelayanan rawat inap, ketika alat itu ditempelkan pada bagian tubuh pasien dan diakses melalui handphone milik dokter atau perawat bisa langsung memberikan informasi tentang kondisi denyut nandi pasien tersebut," jelasnya.

Daffa mengatakan, alat kesehatan ini masih membutuhkan pengembangan. Tapi para pemanfaat fungsi alat ini tidak perlu melakukan download aplikasinya karena bisa langsung diprogram melalui alat komunikasi tersebut.

"Penelitian ini sudah dilaksanakan sejak setahun lalu, sedangkan pembuatannya sangat praktis. Sehari juga bisa selesai. Pembuatan alat ini cukup dengan biaya Rp 200.000, untuk perakitan sensor, prosesor, batre dan koneksi wifi," katanya.

Ia mengatakan, fungsi alat kesehatan ini sangat akurat, saat menyampaikan pesan informasi tentang kondisi pasien melalui handphone. Alat ini bisa membantu untuk penanganan medis karena sudah dilakukan ujicoba sebelumnya.

"Alat sebesar cincin ini harus selalu tertempel di tubuh pasien, untuk memudahkan memberikan informasi kepada dokter atau perawat yang sudah diprgram dengan alat bantu handphone atau komputer," katanya.

Namun kerja alat ini membutuhkan akses internet yang betul-betul bagus, karena ketika menggunakan wifi dan banyak yang menggunakan akses internet tersebut kerja alat menjadi lambat. Lambatnya itu bisa 1 sampai 2 menit.

"Jadi, cara kerja alat kesehatan ini membutuhkan akses internet yang cepat dan sinyal internet yang kuat. Supaya hasilnya kuat," katanya.

Daffa berharap apa yang dihasilkan dalam penelitian karya ilmiahnya itu, bisa dimanfaatkan dalam dunia nyata untuk kepentingan masyarakat luas. Hasil penelitian ilmiah yang dihasilkan siswa warga Jalan Marga Kencana Perumahan Marga Wangi Buahbatu Kota Bandung ini setara dengan makalah yang dibuatkan oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Padahal Daffa baru duduk di bangku kelas 10 MIPA 1 SMA Al Masoem.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA