Stevia Aman Dikonsumsi Bagi Penderita Diabetes

Bandung Raya

Kamis, 23 Januari 2020 | 15:58 WIB

200123155850-stevi.jpg

TANAMAN stevia bagi sebagian orang masih terdengar asing. Apa, bagaimana dan apa keunggulannya masih banyak yang belum tahu.

Dari nama stevia saja, sudah  berbau asing, kebarat-baratan. Pasti asalnya bukan tanaman dari Indonesia.

Stevia memang berasal dari luar, tepatnya dari Peru, Amerika Latin. Digolongkan dalam jenis tanaman perdu yang mudah tumbuh liar dalam semak atau pohon.

Stevia atau stevia rebaudiana ternyata memiliki kekhasan dari daunnya. Dimana daunnya memiliki rasa manis alami. 

Bahkan tingkat kemanisan  stevia  sekitar 200 kali gula tebu. Artinya stevia lebih manis  200 kali gula tebu dan juga rendah kalori.

Di Kabupaten Bandung Barat, budidaya stevia sudah berjalan setahun.  Namun masih bersifat ujicoba dengan lokasi di kawasan lahan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara, tepatnya di Petak 55, RPH Cikole, BKPH Lembang, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang.

Tanaman stevia ditanam secara tumpang sari dengan kopi. Uji coba ini dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Padjadjaran.

"Mulai ditanamnya akhir 2018 lalu di lahan Perhutani seluas 1 hektare. Hanya saja yang sudah efektif ditanami stevia baru setengah dari luas lahan yang direncanakan," kata Popi Nuraini petani kopi di Kecamatan. Lembang,  Kamis (24/1/2020).

Stevia ditanam di sela-sela pohon kopi. Salah satu kelebihan lain dari stevia ini, masuk dalam jenis tanaman konservasi.

Bagi Popi, menanam stevia di areal kebun kopi memberikan nilai tambah. Jika hanya bergantung pada kopi, baru bisa dipanen setahun sekali.

"Sementara ngurus kebun kopi setiap hari. Sejak tumpang sari dengan stevia, petani bisa mendapat tambahan penghasilan karena stevia bisa dipanen setiap bulan. Ini artinya terjadi optimalisasi kawasan dengan tetap lingkungan terjaga,"  ujarnya.

Panen perdana stevia tiga bulan setelah masa tanam. Selanjutnya panen bisa dipertimbangkan, bagaimana setiap bulannya. Harga jual stevia juga cukup menggiurkan berkisar antara Rp 90.000 sampai Rp 100.000 per kilogram.

"Harga jualnya lumayan tinggi, tapi juga bibit stevia untuk saat ini juga masih mahal," ucapnya.

Sekali panen, dari lahan seluas 0,5 hektare bisa menghasilkan 12 kilogram. Untuk saat ini baru dijual ke perusahaan farmasi.

"Sekarang kan mulai banyak perusahaan yang memproduksi gula rendah kalori yang aman dikonsumsi bagi penderita diabetes.  Baru ke perusahaan inilah,  hasil panen stevia kita jual," tukasnya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA