Perbaiki DAS Citarum, Karyawan IPAL Harus Memahami Pengolahan Limbah Cair

Bandung Raya

Kamis, 23 Januari 2020 | 11:02 WIB

200123110243-perba.jpg

JAJARAN TNI dari Sektor 4 Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum terus-menerus melakukan monitoring ke pabrik-pabrik tekstil penghasil limbah cair di kawasan Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. Kegiatan monitoring itu untuk mengevaluasi progres perbaikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dengan harapan pihak pabrik menyelesaikan perbaikannya. Para pegawai IPAL pun harus menguasai pengolahan limbah cair.

"Dengan adanya perbaikan IPAL itu, sehingga kendala di lapangan dapat diketahui oleh Satgas Citarum Harum agar dapat dicarikan solusi dan pemecahannya," kata Komandan Sektor 4 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf Asep Nurdin kepada galamedianews.com di Majalaya, Kamis (23/1/2020) pagi.

Asep mengatakan, dalam perbaikan kerusakan daerah aliran Sungai (DAS) Citarum, kerap dihadapkan pada persoalan klasik karena kelalaian karyawan IPAL saat memberikan obat kimia ketika mengolah atau mencelup benang dan kain industri.

"Kelalaian itu diduga akibat pegawainya ketiduran, konsultan yang tidak profesional, hingga kesengajaan membuang air limbah langsung ke anak sungai dan Sungai Citarum masih juga terjadi," ungkap Asep.

Ia pun menilai, kepedulian dan kesadaran pemilik pabrik, manajemen dan karyawan yang tidak tepat pada posisinya merupakan kendala di lapangan. Menurutnya, dengan melihat langsung proses pengelolahan IPAL, dapat diketahui bahwa karyawan IPAL masih ada juga yang kurang paham mengelola IPAL secara proses kimia, biologi atau fisika. "Karena sebagian besar karyawan IPAL ditunjuk oleh manajemen bukan dari orang yang tepat bahkan mereka karyawan buangan," ucapnya.

Untuk itu, ia berharap, sudah saatnya karyawan IPAL adalah orang yang memahami proses mengelolah limbah. Lebih penting lagi orang yang memahami cara memberi obat kimia.

"Pegawai di bagian proses pengolahan IPAL harus tahu cara penyelesaiannya bila ada permasalahan di lapangan, hingga hasil akhirnya air limbah pada outlet menjadi sesuai parameter baku mutu,” harapnya.

Ia mengatakan, value parameter baku mutu air limbah sering menunjukkan angka-angka yang masih dapat ditolelir, asal tidak terlampau jauh dari value yang sudah ditetapkan peraturannya oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

"Bila valuenya terlampau jauh dari hasil uji laboratorium, maka sudah tidak ada toleransi lagi. Salah satu pilihannya adalah lokalisir saluran limbahnya, sehingga berhenti produksi," jelasnya.

Asep menegaskan, karyawan IPAL harus tahu karakteristik proses produksi sehingga akan menghasilkan air limbah seperti apa. Karyawan IPAL dapat mengetahui proses mengelola air limbah untuk memilih mau secara proses kimia, proses biologi atau kombinasi keduanya atau ada modifikasi dengan proses fisika.

Asep menuturkan, monitoring yang dilakukan Satgas Citarum Harum Sektor 4/Majalaya dalam rangka pembinaan secara terus-menerus agar pihak pabrik dapat menyelesaikan progres perbaikan IPAL-nya.

"Kami berharap tidak ada lagi ekses atau kendala yang diakibatkan oleh pihak luar, seperti penjual obat kimia yang berkesan hanya sekadar jualan obat kimia saja. Namun tidak ada pendampingan saat menggunakan obat kimia tersebut hingga menghasilkan air limbah yang sesuai baku mutu. Ada juga kendala dari pihak luar dikarenakan oleh konsultan yang tidak profesional, hanya sekadar teken kontrak pembinaannya tidak dilakukan secara menyeluruh," paparnya.

Komandan Sektor 4 Satgas Citarum Harum ini juga berharap, hendaknya pabrik juga menyediakan laboratorium uji sampel air limbahnya. Dengan fluktuatif value parameter baku mutu air limbah yang terjadi bisa diantisipasi dengan memonitor setiap tahap proses olahan air limbahnya.

"Bila tidak memiliki laboratorium uji sampel air limbah, dari mana dapat diketahui kalau air limbah yang dihasilkan dari olahan proses produksi menjadi baik. Akhirnya kerugian bagi kita semua bila Sungai Citarum kembali tercemar,” tuturnya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA