Ratusan KK di Kelurahan Tamansari Tuntut Agar Rumah Deret Segera Dibangun

Bandung Raya

Selasa, 21 Januari 2020 | 17:52 WIB

200121175320-ratus.jpg

RATUSAN Kepala Keluarga (KK) di RW 11 Kelurahan Tamansari yang setuju program rumah deret, mulai gerah lantaran pembangunan hunian baru belum kunjung dimulai.

Oleh karena itu, sekitar 185 KK tersebut melakukan deklarasi menuntut agar pembangunan rumah deret Tamansari segera dimulai di reruntuhan pembongkaran bangunan warga di RW 11, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Selasa (21/1/2020).

Dalam deklarasinya, warga RW 11 Tamansari menuntut Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, agar bisa segera merealisasikan pembangunan rumah deret.

Perwakilan Warga RW 11 Tamansari, Yoyo Suharyo mengatakan, warga juga meminta aparat keamanan untuk berani mengambil tindakan terhadap pihak di luar warga RW 11 Tamansari, yang dianggap ikut menghambat pembangunan rumah deret.

"Kami mendesak Pemkot Bandung untuk segera membangun rumah deret. Karena jelas sebelumnya kami menempati tempat tinggal yang menurut kami juga tidak layak, seperti ada satu rumah tinggal 4 sampai 7 KK. Belum lagi masalah sanitasi, drainase dan sebagainya," ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh warga lainnya, Yulianingsih yang berharap bisa secepatnya menempati rumah deret. Diakuinya sudah tidak betah lagi apabila terus mengontrak rumah, meski untuk biayanya dibayar oleh pemerintah kota.

"Saya sudah hampir tiga tahun menunggu. Sedangkan program tersebut lebih baik. Dari lingkungan yang kumuh dan kurang tertata menjadi lebih baik. Apalagi di tengah kota bagus kelihatannya dan taraf hidup ekonomi juga lebih baik," tuturnya.

Sebelumnya, kompensasi bagi warga terdampak penggusuran Rumah Deret Tamansari senilai Rp 26 juta, ditolak oleh warga. Tawaran dari Pemkot Bandung tersebut, dinilai tidak sebanding dengan rumah yang telah digusur.

Lebih jauh, pemberian kompensasi Rp 26 juta tersebut untuk mengontrak selama sebulan. Ada 34 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban penggusuran di RW 11, Kelurahan Tamansari tersebut.

Salah seorang warga yang terdampak penggusuran, Budi Rahayu (43) mengatakan, penolakan dari warga merupakan hasil musyawarah. Sehingga menghargai akan keputusan tersebut.

"Ini merupakan keputusan bersama yang kami hormati. Kalaupun ada beberapa orang yang mau, tapi saya pribadi dengan keputusan bersama menolak, ya menolak semua. Bahkan tadi malam kita sepakat menolak untuk mendapat uang senilai Rp 26 juta," jelasnya.

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA