Eri dan Nasrudin Ungkapkan Suka Duka Menjadi Sopir Bus Pariwisata

Bandung Raya

Senin, 20 Januari 2020 | 20:16 WIB

200120201950-eri-d.jpg

job1

SUKA dan duka menjadi seorang sopir bus pariwisata banyak orang yang tidak tahu. Mungkin sebagian orang hanya bisa melihat sukanya saja.

Untuk mengetahui suka duka menjadi seorang sopir bus pariwisata mari kita simak penuturan dua orang sopir bus pariwisata asal Kota Nandung, Eri dan Nadrudin.

Eri dan Nasrudin yang telah menjadi sopir bus pariwisata selama bertahun-tahun memiliki berbagai pengalaman, baik suka maupun duka. Mereka saat ini bekerja di PO Bus Pariwisata di Bandung bernama PT. Megatrans Holiday.

Mereka pernah mengemudi dari satu kota ke kota lain dengan jarak tempuh yang beragam, misalnya Bandung - Jakarta, Bandung - Jawa Timur seperti Malang dan Surabaya, Bandung - Yogyakarta, Bandung - Bali, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga kerap kali menerima tamu atau rombongan penumpang untuk melakukan City Tour di Bandung dengan mengunjungi berbagai tempat wisata yang ada.

Eri yang sudah 10 tahun bekerja sebagai sopir bus pariwisata ini mengungkapkan bahwa dengan menjadi sopir bus pariwisata, banyak mendapatkan pengalaman yang menyenangkan misalnya bisa mengunjungi berbagai kota yang sebelumnya belum pernah dikunjungi.

“Kita senang mengunjungi kota lain, itu menjadi pengalaman tersendiri. Nanti pulang dari sana, ada cerita untuk keluarga di rumah,” ujarnya saat berbincang, Senin (20/1/2020).

Hal senada juga diungkapkan oleh Nasrudin yang sudah bekerja sebagai sopir bus pariwisata selama 8 tahun. “Pengalaman ke kota-kota dan lokasi wisata yang belum pernah dikunjungi,” katanya.

Selain itu, Nasrudin mengaku senang jika penumpang memberikan perhatian kepadanya, namun ada juga penumpang yang acuh tak acuh. Sopir bus juga harus senantiasa mengikuti kemauan penumpang yang ingin pergi ke berbagai tempat.

Menurutnya, diperlukan kesabaran ketika bekerja sebagai sopir bus pariwisata. “Biasanya ada juga penumpang yang tidak tepat waktu ketika di tempat penjemputan saat mau berangkat,” ujarnya.

Eri pun kerap kali menerima keluhan dari penumpang ketika waktu tempuh perjalanan tidak sesuai dengan yang diperkirakan. “Kadang-kadang tamu itu tidak semuanya ramah, ada tamu yang kurang ramah kepada kita. Kita harus mengikuti alur tamu itu sendiri karena kita harus melayani tamu sebaik mungkin. Kalau tamu marah kepada kita, ya kita terima, mungkin kita salah,” katanya.

“Kadang-kadang tamu itu berangkat dari satu kota ke kota lain, dia melihat google map, sekian jam harus sampai. Kita kan belum tentu, perjalanan ada macet. Kita mengikuti keadaan jalan itu sendiri, macetnya,” sambung Eri.

Eri menambahkan adanya perbedaan bahasa, ia pernah mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan tamu dari luar negeri misalnya Thailand, Cina, dan Korea jika tanpa Tour Leader atau penerjemah. Mereka juga mengatakan, seorang sopir bus harus senantiasa berhati-hati saat mengemudi dan melakukan beberapa hal untuk menjaga keselamatan penumpang.

“Sebelum kami start, kendaraan harus di cek dan harus dalam keadaan ready. Selain kami harus cek sendiri, kendaraan kami di sini memang layak pakai dan sudah dicek Menteri Perhubungan,” ungkap Eri.

“Kedua, kita harus hafal medan jalan. Kecepatan mengikuti jalan itu sendiri. Contohnya kita di Nagrek yang jalannya berliku dan turun, kita harus menjaga emosi kita sendiri supaya kita sendiri dan penumpang kita nyaman,” sambung Eri.

“Bus harus dicek. Ketika mengemudi harus tenang dan fokus. Memberikan yang terbaik untuk penumpang,” ujar Nasrudin.

Biasanya mereka beristirahat di rest area. Selain itu, sembari menunggu penumpang yang sedang masuk ke tempat wisata, Nasrudin memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat di dalam bus atau turun dari bus. Untuk perjalanan jarak jauh, Eri mengungkapkan bahwa ada 2 sopir yang bergantian untuk mengemudi.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA