Kerangka Manusia yang Ditemukan di Rumah Kosong Teridentifikasi Laki-laki

Bandung Raya

Senin, 20 Januari 2020 | 14:49 WIB

200120145025-keran.jpg

DOKTER Spesialis Ahli Forensik Rumah Sakit Sartika Asih Kota Bandung, dr. Nurul Aida Fathya mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan kerangka tulang manusia yang dikirim Polsek Margahayu Polresta Bandung ke Rumah Sakit Sartika Asih Kota Bandung pada beberapa hari lalu.

"Kerangka tulang manusia itu kemudian disusun, kemudian diidentifikasi. Hasil dari identifikasi bahwa kerangka tulang manusia itu jenis kelamin laki-laki," kata Nurul Aida kepada wartawan di Mapolresta Bandung Jalan Bhayangkara Soreang, Senin (20/1/2020).

Kemudian ciri-ciri lainnya, imbuh Nurul Aida, kerangka tulang manusia yang ditemukan di rumah kosong di Komplek Sukamenak Indah Blok I 61 RT 06/RW 04 Desa Sayati Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung pada  Selasa (14/1/2020) sekitar pukul 18.30 WIB lalu, merupakan ras mongoloid. Artinya, korban itu orang Indonesia.

"Kemudian hasil identifikasi lainnya, korban merupakan orang yang sudah dewasa dan usianya paruh baya," katanya.

Nurul Aida mengatakan, jika ada pihak keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarganya, bisa dilakukan pengambilan sample DNA-nya. "Nanti sample DNA-nya dibawa ke Puslabfor Jakarta, untuk dilakukan pemeriksaan DNA. Pemeriksaan DNA jauh lebih akurat, untuk pembanding di saat korban masih hidup," katanya.

Menurutnya, untuk pemeriksaan dan mencocokkan hasil pemeriksaan DNA dari pihak keluarganya dengan DNA korban membutuhkan waktu selama 2 sampai 3 minggu.

"Rangka juga kita lakukan pemeriksaan, supaya kita punya data, selain menunggu hasil pemeriksaan DNA untuk pembanding dari keluarganya," jelasnya.

Namun disinggung apakah ada bekas kekerasan pada rangka tulang manusia itu, ia mengungkapkan, belum menemukannya. Untuk menemukan adanya kecurigaan bekas kekerasan, bergantung pada hasil penyelidikan pihak kepolisian. "Belum kami temukan (bekas kekerasan). Belum bisa disimpulkan," katanya.

Ia mengatakan, bekas kekerasan baru bisa ditemukan pada bagian tulang, jika kekerasan itu sampai pada bagian tulang. "Belum bisa disimpulkan tanda bekas kekerasan pada bagian tulang," katanya.

Nurul Aida pun mengungkapkan, penyebab kematian belum bisa kelihatan. Tetapi saat ditemukan, korban sudah tak ada tulang lunaknya.

Ia pun mengatakan, untuk mengidentikasi kerangka tulang manusia itu mengalami kesulitan. Di antaranya untuk mengidentifikasi nama korban siapa. Apalagi, data base DNA nama-nama warga di Indonesia belum ada. "Sidik jari saja belum semuanya. Data base DNA di Indonesia belum ada. Jadi identitas korban belum bisa disimpulkan," katanya.

Nurul Aida mengatakan, rangka tulang manusia itu, sampai saat ini masih ada di Rumah Sakit Sartika Asih. Hal itu untuk memudahkan ketika ada pihak keluarganya yang merasa kehilangan anggota keluarganya setelah 6 bulan sampai 1 tahun. Dengan harapan, ada pihak keluarganya supaya bisa diambil sampel DNA-nya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA